Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Parenting’


attitude quote bruce lee

Mata kuliah ini adalah mata kuliah baru di semester ini, merupakan pengembangan dari salah satu materi dari mata kuliah Personality Development yang sebelumnya saya ampu.

Character building khususnya, lebih menitik beratkan kajiannya pada bagaimana mahasiswa mengembangkan semua potensi kebaikan yang ada didalam dirinya, untuk membangun konsep dirinya secara utuh, dimulai dari memahami dirinya, memahami prosesnya penciptaannya, memahami tujuan penciptaannya, memahami bagaimana posisinya di dunia ini dan bagaimana memaksimalakn kemanfaatannya bagi manusia lain.  Dengan demikian, diharapkan mahasiswa mengetahui  bagaimana mereka harus berkembang dan bergerak, terus bertumbuh untuk mewujudkan apa yang menjadi tujuan penciptaannya di dunia ini. Sehingga pada gilirannya nanti, mereka akan mampu menggantikan para orang tua dan pemimpin yang sekarang ada, mampu mengelola diri, bangsa dan negaranya dengan seluruh potensi kebaikan yang mereka punya. Semoga.

Secara sepintas, mata kuliah ini masih berkaitan dengan mata kuliah Personality Development dibeberapa subjek dan mata kuliah Psychology and Professional Ethics di subjek yang lain.

 

1st Character

2nd Memahami Hakikat Manusia

3rd Character and Personality

4th Proses Pembentukan Karakter Dalam Diri Manusia

5th Menghormati Diri Sendiri

6th Respect yourself and Respect Others

7th Peduli Lingkungan

Worksheet Kelola Dirimu!

Personality Development

Psychology (of Work) and Professional Ethics

 

Iklan

Read Full Post »


girls
Hampir satu bulan terakhir, setiap minggunya saya bersama tim P2TP2A kabupaten Tasikmalaya, mengunjungi beberapa SMP dan SMA di kecamatan-kecamatan Tasikmalaya untuk memberi penyuluhan kepada siswa-siswinya mengenai pencegahan tindak kekerasan, utamanya kekerasan seksual pada perempuan dan anak.
Perjalanan ini kemudian menghadapkan kami pada kenyataan banyaknya kasus-kasus yang terjadi di wilayah-wilayah kecamatan terpencil di kabupaten Tasikmalaya. Inilah diantara kasus-kasusnya.
Saat ini ada seorang gadis berusia 12 tahun yang didampingi p2tp2a, sedang menunggu detik-detik proses melahirkan anak yang ia kandung, karena pemerkosaan yang dilakukan ayah temannya terhadapnya.
Seorang remaja kelas 3 SMA, tidak bisa ikut UN karena tepat dua minggu sebelum UN, orang tuanya baru mengetahui bahwa putrinya sedang mengandung enam bulan. Dengan kondisi tidak mengenal secara pasti dan mengetahui keberadaan anak laki-laki yang membuat putrinya hamil, karena putrinya hanya mengenalnya melalui facebook, dan baru dua kali bertemu langsung.
Seorang remaja kelas 2 SMP, di suatu malam minggu datang berkelompok dengan teman-temannya untuk menonton acara musik di kota. Saat akan pulang, ia terpisah dari teman-temannya, sehingga tidak tahu jalan pulang, alat komunikasinya habis baterei. Seorang remaja laki-laki ‘baik’ datang menawarkan bantuan. Ia kemudian menghilang selama dua malam. Saat ditemukan oleh seorang tentara, ia dalam keadaan tidak sadar, tergolek tidak berdaya, sendirian di hutan wilayah kabupaten Tasikmalaya, yang sangat jauh dari rumahnya. Hasil visum dokter menunjukkan organ reproduksinya luka.
Ada tiga kasus buang bayi hasil hubungan seksual pranikah di wilayah ujung selatan Tasikmaya. Sebelumnya di wilayah yang sama, ada kasus pelecehan seksual dan percobaan pembunuhan yang dilakukan seorang remaja berusia 18 tahun terhadap anak perempuan berusia lima tahun.
Di wilayah yang lain, ada kasus remaja perempuan yang melahirkan sendirian di kamar mandi umum, sehingga bayinya tidak tertolong dan ia mengalami infeksi di rahimnya.
Dan banyak kasus-kasus lain, dengan kisah yang berbeda tetapi temanya sama. Kekerasan terhadap perempuan. Kasus-kasus ini sedikitnya adalah gambaran dari fenomena iceberg pada kenyataannya di lapangan.
Diskusi dengan para korban dan keluarganya, memberi pelajaran pada saya:
1. Pentingnya mengajari dan membangun harga diri/konsep diri yang positif pada anak-anak perempuan kita. Anak-anak yang tumbuh dengan harga diri positif, mengetahui dengan pasti bahwa dirinya berharga dan berarti. Sehingga ia tidak akan mudah memposisikan dirinya pada situasi direndahkan dan tidak dihargai oleh orang lain. Ia akan tumbuh dengan keyakinan bahwa ia laksana keramik cina ‘a chinese porcelain’. Ia harus dihargai, dilindungi, dan diperlakukan dengan hormat dan hati-hati. Karena retak sedikit saja harga dirinya, maka ia akan menghayati diri sebagai tidak berarti dan bertingkah laku seperti orang yang tidak berharga.
2. Pentingnya mengajari dan mengembangkan kemampuan menilai situasi dan melindungi diri. Kemampuan melindungi diri secara fisik dalam pengertian keahlian bela diri bisa membantu, namun lebih penting dari itu adalah anak-anak perempuan yang memang secara neurologis memiliki kemampuan intuisi yang lebih tajam dibandingkan laki-laki perlu didorong untuk selalu mempercayai intuisinya ketika berada di situasi-situasi yang belum dikenal dan dirasa membahayakan. Kemampuan antisipasinya menjadi berkembang dan ia selalu berada dalam keadaan tenang tetapi waspada.
3. Kedekatan secara fisik dan (terutama) emosional antara orang tua anak harus terus dibangun secara positif. Jangan sampai ada kekosongan di hati anak-anak kita. Oprah Winfrey menyebutnya sebagai ‘an empty hole in their hearts’. Anak-anak yang mengalami dan merasakan kekosongan di hatinya akan mencari cara untuk mengisi kekosongan itu. Dan sering kali cara yang mereka pilih sangat beresiko, bahkan membahayakan. Namun mereka tidak menyadari itu.
4. Kesadaran akan salah satu fungsi keluarga, yaitu fungsi kontrol terhadap perilaku dan keberadaan anak-anak di rumah, harus kembali ditegakkan dan diefektifkan. Orang tua jangan segan-segan dan tidak boleh merasa bosan setiap harinya untuk memastikan kondisi fisik dan emosional anak-anaknya. Ayo mengobrol dan berdiskusilah setiap hari dengan anak-anak.
Wallahu a’lam.
sexual-harassment-3

Read Full Post »


gambar anak7

 

…Tidak seperti orang tuanya, anak-anak tidak menganggap bahwa perceraian sebagai kesempatan kedua, dan ini menjadi bagian dari penderitaan mereka. Mereka percaya bahwa masa kecil mereka telah hilang selamanya….tetapi sesungguhnya anak-anak yang hidup dalam perceraian memang memiliki kesempatan kedua di masa depan yang mereka khawatirkan…-Wallerstein & Blakeslee.

 

PERPISAHAN DAN PERCERAIAN

Keluarga adalah sebuah system support pertama yang dimiliki anak-anak, dan merupakan ikatan attachment yang dimiliki anak dengan orang tuanya, yang merupakan faktor pembentuk perkembangan rasa percaya pada anak. Ikatan ini memberikan kontribusi yang sangat besar dalam mengembangkan kemampuan anak untuk mencintai dan dicintai, dan merupakan sentral dari perkembangan kepribadian yang sehat. Bahkan dalam perceraian yang tetap mampu memberikan attachment yang aman (secure attachment) sekalipun, perjalanan untuk mendapatkan perkembangan dan pertumbuhan yang sehat, tidaklah mudah dan lancar. Selalu ada hal-hal yang mengingatkan kembali anak pada konflik-konflik yang pernah terjadi dan membuat mereka menolak untuk menatap masa depan. Kemunduran ini merupakan reaksi yang normal bagi anak dalam rangka mencari tempat yang lebih aman saat mereka merasa tertekan. Begitu anak tumbuh dan berinteraksi dengan dunia sosial yang lebih luas, kualitas hubungan mereka dengan anggota keluarga yang lain dan hubungan dengan ayah dan ibu menjadi sangat penting dan akan terus berpengaruh terhadap perkembangan anak. Anak-anak membutuhkan dukungan dari keluarga dan orang lain yang penting bagi mereka untuk mengatasi kemunduran perkembangan yang kadang-kadang terjadi, dan untuk mengembalikan mereka pada perkembangan yang sehat yang sebelumnya telah dicapai.

Perpisahan dan perceraian merepresentasikan konflik situasional dalam keluarga yang semakin memperburuk konflik pada suatu tahap perkembangan yang mungkin sedang dialami anak sesuai tahap perkembangannya. Ketika sebuah keluarga terpecah, anak-anak biasanya mengalami kekurangan salah satu aspek pendukung untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang sehat, dan mengalami perasaan kehilangan yang sangat besar. Perasaan kehilangan yang berkaitan dengan perceraian sama dengan perasaan kehilangan yang berhubungan dengan kematian. Hal ini terkait dengan perubahan dalam ritme hidup yang akan berlangsung lama dan dalam kehidupan yang dijalani sehari-hari, juga dalam hubungan orang tua dan anak. Kehilangan adalah tema sentral dalam perceraian, sebagaimana terjadi dalam kematian; kehilangan kontak sehari-hari dengan salah satu atau kedua orang tua, kehilangan teman lama, sekolah yang sudah dikenal, tetangga, juga kehilangan kontak dengan keluarga yang lebih besar dari pihak ayah atau ibu, tergantung dengan siapa nantinya anak akan tinggal. Namun, tidak seperti kematian, walau bagaimanapun dalam perceraian masih terdapat pilihan dan walaupun merupakan sebuah krisis dalam hidup yang sangat khusus dan terus menerus melahirkan masalah-masalah baru, namun alternatif-alternatif penyelesaian yang baru pun dimungkinkan untuk dicapai.

REAKSI EMOSIONAL YANG UMUM TERHADAP PERCERAIAN

Bagaimana anak-anak bereaksi terhadap perceraian sangat tergantung pada usia mereka, tahap perkembangan, dan karakteristik kepribadiannya. Reaksi secara individual akan sangat bervariasi tergantung pada masing-masing anak, karena tiap anak hidup dalam lingkungan keluarga yang berbeda-beda, berbeda juga kelebihan dan kekurangannya, dan tergantung pada kebiasaan cara mereka mengatasi masalah. Persepsi terhadap rasa kehilangan interaksi dengan salah satu orang tua bukan hanya bervariasi antara anak yang satu dengan yang lain, tetapi juga dipandang secara berbeda oleh anak yang sama seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan usianya. Reaksi anak terhadap perceraian pada waktu perceraian itu terjadi juga berbeda dibandingkan dengan reaksi mereka beberapa bulan/tahun sesudahnya. Wallerstein dan Blakeslee (1989) menyimpulkan bahwa ” tidak ada seorangpun  yang dapat memprediksikan dampak jangka panjang dari sebuah perceraian terhadap seorang anak berdasarkan reaksi anak tersebut pada saat perceraian baru saja terjadi”. Secara mengejutkan Wallerstein dan Blakeslee menemukan bahwa anak-anak yang menjadi sangat menyusahkan, penuh kemarahan dan tertekan pada saat perceraian terjadi, ternyata mereka dapat menerimanya sepuluh tahun kemudian.

Review dari berbagai literatur menemukan bahwa anak-anak menampilkan beberapa  reaksi emosi yang umum terhadap perceraian. Pemahaman terhadap reaksi ini akan berguna dalam membantu anak melalui krisis pada awal-awal perceraian terjadi dan dalam mempermudah adaptasi jangka panjang yang harus mereka lalui terhadap perceraian itu sendiri.

 

1. Kesedihan akan rasa kehilangan keluarga

Wallerstein mengatakan, bagi anak, perpisahan atau perceraian orang tua secara emosional dapat disamakan dengan kematian orang tua. Anak tidak hanya menderita dan bersedih karena hilangnya kontak sehari-hari dengan salah satu orang tua, dan berkurangnya kontak dengan yang lain, tetapi juga bersedih karena kehilangan rasa aman dan kesejahteraan yang sebelumnya mereka rasakan dalam keluarga. Dalam respon kesedihan ini, termasuk didalamnya juga kebingungan, rasa marah, penyangkalan (tidak menerima kenyataan), tertekan, perasaan hampa dan tak berdaya.

 

” Ketika orang tuaku bercerai, aku sangat merindukan ayahku terutama saat makan malam. Aku selalu melihat kearah tempat duduk dimana biasanya ia duduk, aku merasa bahwa kini kami bukan sebuah keluarga lagi” – anak laki-laki, 10 tahun.

 

2. Cemas akan penolakan, diabaikan, dan perasan tak berdaya

Besarnya perasaan ditolak, biasanya disertai dengan keinginan untuk menyalahkan diri sendiri. Anak-anak menginterpretasikan orang tua yang meninggalkan rumah sebagai penolakan mereka untuk berada didekat anak-anak, dan bukan karena adanya permasalahan dalam perkawinan orang tuanya. Perasaan ini akan semakin besar saat tiba waktunya untuk berkunjung bagi orang tua yang meninggalkan rumah. Jika mereka tidak memenuhi janjinya untuk mengunjungi anak-anak, anak akan merasa ditolak dan merasa sangat tidak dicintai oleh orang tuanya. Anak-anak akan merasa bahwa orang tua yang bersama mereka sekarang juga akan melakukan hal yang sama suatu hari nanti. Mereka merasa sangat tidak berdaya untuk memperbaiki keadaan, untuk mencegah perceraian, dan untuk “memperbaiki ” keadaan orang tua mereka yang saling menyakiti.

 

Ketika ayahku pergi, aku terus bertanya-tanya, akankah ibuku juga pergi?” – Anak laki-laki, 8 tahun.

 

3. Kemarahan

Anak-anak yang terjebak dalam proses perceraian, sangat marah kepada orang tua mereka karena hanya memikirkan kepentingan dan diri mereka sendiri, dan menempatkan anak-anak ditengah-tengah konflik yang mereka alami. Banyak anak mengalami konflik kesetiaan ketika mereka dipaksa harus memilih atau untuk ikut dengan salah satu orang tuanya. Anak-anak sangat menderita karena jika mereka memilih salah satu orang tua, mereka merasa berkhianat atau menghianati orang tua yang satunya. Beberapa anak tidak menampakkan kemarahan mereka, dan menyimpannya diam-diam didalam hati karena mereka tidak ingin membuat orang tuanya semakin kesal. Setiap anak memiliki perbedaan dalam mengekspresikan rasa marah, diantaranya dengan cara tempertantrum (rewel dan cengeng), tingkah laku agresif terhadap orang lain, atau perasaan tak berdaya menghadapi berbagai situasi. Strangeland dkk (1989), menemukan bahwa anak-anak yang memiliki orang tua bercerai, dikatakan sangat marah pada ayahnya, memiliki masalah di sekolah, dan mengalami gangguan (sulit) tidur.

 

“..Aku rasa orang tuaku bertingkah seperti sepasang anak nakal yang sangat manja. Mereka bertingkah seperti bayi…mereka tidak peduli dengan perasaanku….aku hanya anak-anak” –Anak laki-laki, 8 tahun

 

4. Kepahitan (marah yang terpendam) dan rasa kesepian

Anak-anak biasanya akan mengalami perasaan pahit karena kemarahan yang terpendam, karena mereka tidak diajak bicara bahwa akan terjadi perceraian dan tidak adanya kesempatan untuk mendiskusikannya. Kurangnya komunikasi dalam hal ini seringkali diterjemahkan kedalam perasaan sepi karena hilangnya dukungan dari anggota keluarga, keluarga yang lebih besar dan teman-teman. Wallerstein dan Blakselee mengatakan bahwa hampir 50% keluarga yang mereka konsul, menunggu hingga terjadinya perceraian atau beberapa hari setelahnya untuk mengatakan kepada anak-anak bahwa orang tua akan bercerai. Hanya kurang dari 10 % dari anak-anak yang mereka teliti, memiliki orang dewasa yang memiliki empati untuk berkomunikasi dengan mereka sebelum perceraian diputuskan. Fakta lain yang cukup mengejutkan, ternyata kakek dan nenekpun sedikit sekali memberikan support pada saat anak-anak berada pada masa-masa kritis ini.

 

“Suatu hari aku pulang sekolah dan ibuku sudah tidak ada. Ayahku mengatakan bahwa mereka telah memutuskan untuk bercerai dua bulan sebelumnya, tetapi hari itu mereka bertengkar dan ibuku memutuskan pergi sebelum kami pulang dari sekolah. Aku berteriak-teriak dan menangis. Aku sangat marah karena mereka tidak mengatakannya pada kami. Sampai sekarang aku masih merasakan kepahitan dan kemarahannya”  –Anak perempuan, 12 tahun

 

5. Perasaan bersalah dan menyalahkan diri sendiri

Anak-anak seringkali berpikir dan percaya bahwa jika mereka tidak dilahirkan atau jika mereka menjadi anak yang lebih baik, tentu orang tua tidak akan meninggalkan mereka. Anak-anak marah dan menyalahkan orang tu (yang tidak memiliki hak asuh) yang meninggalkan rumah dan menyalahkan orang tua (yang memiliki hak asuh), karena membuat orang tua yang lain meninggalkan rumah. Anak-anak menyayangi kedua orang tuanya, dan takut kehilangan mereka. Perasaan marah anak kemudian digeneralisasikan kedalam perasaan bersalah. Rasa bersalah yang disertai kecemasan dapat menyebabkan sejumlah reaksi emosi pada anak.

 

“...ibu mengatakan bukan aku yang menyebabkan perceraian terjadi, tapi aku tetap merasa mereka bertengkar karena aku” –Anak laki-laki, 9 tahun

 

6. Perasaan cemas dan dihianati

Karena anak-anak merasa cemas bahwa hidup mereka akan selalu terganggu oleh adanya perceraian orang tuanya, anak-anak akan selalu merasa tidak pasti mengenai masa depan mereka, dan tentang sebuah hubungan. Remaja-remaja tertentu memiliki kesulitan untuk mempercayai orang lain, takut menyakiti mereka dan merasa dikhianati oleh orang tuanya. Beberapa anak memiliki perasaan malu dan ragu, menarik diri dan takut untuk dicintai dan mencintai. Anak-anak yang lain menyimpulkan bahwa mereka tidak berharga dan tidak pantas untuk dicintai.

 

” Ketika ayahku pergi, ibuku menangis sepanjang waktu dan mengurung diri di rumah. Lalu suatu hari ia bertemu seseorang dan kemudian berhubungan dengannya. Ibu meminta ayah membawa kami untuk pergi di akhir minggu, tetapi ayah mengatakan bahwa ia tidak bisa karena terlalu sibuk. Aku merasa sedih sekali karena tidak ada yang menginginkan kami bersama mereka” – Anak laki-laki, 12 tahun.

Untuk lanjutan artikel ini dapat dibaca di https://nsholihat.wordpress.com/2011/07/05/anak-anak-dan-perceraian-2-tugas-tugas-psikologis-yang-berkaitan-dengan-perceraian/

 

 

 

Read Full Post »



Tulisan ini adalah copas dari sebuah tulisan pada halaman muka Ustadz Yusuf Mansur Network disebuah jejaring sosial

( KELUARGA ) MENGENAL JIWA ANAK – Mengurus anak dengan baik itu butuh keinsyafan tingkat tinggi. Butuh pengelolaan emosi yang handal. Butuh ketenangan dan kecerdasan, baik kecerdasan emosi maupun kecerdasan taktis strategis. Dan sebagai manusia, tentu saja kita tidak melulu dalam keadaan emosi yang baik, yang stabil. Disinilah seninya saya rasa. Pada titik inilah kecerdasan kita diuji. Jika kita berhasil melewati waktu-waktu emosional itu dengan solutif maka kecerdasan kita akan naik peringkatnya, namun jika kita menuruti hawa nafsu, kedzolimanlah yang terjadi. Dan rasakanlah bahwa hati segera menjadi keruh dan butuh waktu dan energi yang cukup banyak untuk menjernihkannya. Maka, tahanlah hawa nafsu sedapat mungkin kita mampu. Tetaplah berpikir jernih. Perbanyaklah lafadz istighfar dan ta’awudz.

”Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran TuhanNya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Nazi’at:40-41).

”Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang dan sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Alloh mencintai orang yang berbuat kebaikan,.”(QS. Ali ’Imran: 133-134)

Menjadi orang tua yang sukses tentu menjadi salah satu jalan kita mendapatkan surga. Dan sudah dari dulu semua tahu, mendapat surga memang tidak murah. Jangankan surga, mau menikmati fasilitas hotel mewah saja harus merogoh kocek lebih dalam kan? Sementara ada makhluk yang tidak akan rela begitu saja saat kita meniti jalan menuju surga.

Merekalah yang senantiasa menghalang-halangi, merekalah yang membuat kita menganggap baik meledaknya amarah kita. Dan jumlah mereka banyak. Jangan turuti langkah-langkah syetan, sesungguhnya merekalah musuh yang nyata.

A’udzubilllahiminasysyaithonnirrodzhimi min hamdzihi wanafkhihi wanafsihi.

Namun, jika amarah sudah terlanjur diperturutkan, lengan sang anak sudah kadung biru karena dicubit, jiwa anak sudah terlanjur luka dengan rengkuhan kasar kita, hati mereka sudah tertoreh umpatan dan tatapan kasar kita.

Maka, bersegeralah minta maaf padanya, dengan penuh keikhlasan. Berjanjilah padanya untuk tidak mengulanginya. Mohonlah ampun pada Alloh atas perbuatan kita yang telah menyia-nyiakan amanahNya.

”dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Alloh, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa selain Alloh? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali ’Imran:135)

Senantiasa ingatkan diri kita, betapa marahnya Rasulullullah (salawat dan salam baginya) mendapati sikap kasar seorang ibu. Ketika Ummu Fadhl secara kasar merenggut bayi dari gendongan Nabi (salawat dan salam baginya) lantaran sang bayi pipis dan membasahi pakaian Rasul (salawat dan salam baginya).

Maka Rasululloh shalallahu ’alaihi wassalam menegur,”Pakaian yang basah ini dapat dibersihkan dengan air. Tetapi apa yang dapat menghilangkan kekeruhan jiwa anak ini akibat renggutan yang kasar itu?”

Astaghfirullohal’adzhim. Entahlah, apa yang mampu menghilangkan kekeruhan jiwa mereka. Semoga dengan permintaan maaf yang ikhlas kepada sang anak dan taubat kita kepada Alloh, Allohlah yang akan menyembuhkan jiwa-jiwa suci mereka yang terluka itu. Berazzamlah untuk tidak mengulanginya lagi. Karena pada jiwa-jiwa itulah kita menitipkan bermiliar-miliar harapan, kita lantunkan jutaan doa. Dan jika Alloh menghendaki, jiwa-jiwa itulah yang mereka bawa dua puluh lima tahun yang akan datang untuk menjadi pribadi dewasa untuk melanjutkan estafet perjuangan ini.

Bertekadlah untuk meluaskan dada kita saat mereka menyulitkan kita, maafkanlah mereka. Karena Rasulullah bersabda,
”Sesungguhnya Alloh merahmati orang tua yang membantu anaknya berbakti kepadanya, kata Nabi saw.. Orang-orang di sekeliling beliau bertanya, ”Bagaimana cara orang tua membantu anaknya, ya Rasulullullah?” Nabi saw. Menjawab, ”Dia menerima yang sedikit darinya, memaafkan yang menyulitkannya, tidak membebaninya, dan tidak memakinya.”

Bersikap lembutlah pada mereka, tidak hanya pada saat mereka menampakkan senyum lucu yang manis, atau ketika ia berceloteh menggemaskan. Dalam keadaan membuat kita susah pun, kelembutan itu tetap ada pada kita.

Read Full Post »


Menjadi orang tua merupakan sebuah peran sosial dalam banyak kebudayaan. Seperti peran sosial yang lain, peran sebagai orang tua juga dibatasi oleh aturan-aturan dan norma tersendiri mengenai tingkah laku-tingkah laku apa saja yang pantas sebagai orang tua, keyakinan mengenai bagaimana seharusnya peran sebagai orang tua dijalankan, dan nilai-nilai yang terkait dengan peran sebagai orang tua yang dianut oleh masyarakat. Peran sebagai orang tua adalah juga institusi sosial, yang berarti bahwa peran ini juga dibatasi oleh sejumlah harapan yang memiliki legitimasi dalam masyarakat, dan dipandang sebagai suatu peran yang kuat dan bernilai, serta bisa menjadi faktor yang mempengaruhi nilai-nilai budaya.

Tingkah laku seseorang sebagai orang tua dibentuk oleh 3 faktor (Bigner, 1994):
1. Pengalaman-pengalaman yang diperoleh melalui sosialisasi saat masih kanak-kanak
2. Penggalian terhadap harapan masyarakat mengenai tingkah laku orang tua yang semestinya
3. Interpretasi pribadi mengenai tingkah laku-tingkah laku orang tua yang semestinya.

Sebagai anak, kita memperhatikan tingkah laku orang tua kita dan orang tua anak-anak yang lain. Apa yang kita pelajari, membantu kita dalam membuat dan mengembangkan pengetahuan yang bisa digunakan sebagai bimbingan dan contoh mengenai bagaimana menjadi orang tua. Biasanya kita tidak menyadari bahwa model ini mempengaruhi sikap dan keyakinan kita mengenai bagaimana seharusnya menjadi orang tua, sampai muncul suatu keadaan dimana tuntunan lain dibutuhkan. Kebanyakan tingkah laku dalam menjalani peran sebagai orang tua, pada awalnya dituntun oleh model psikologis yang telah ada pada diri kita sendiri saat memiliki anak pertama. Begitu mereka memiliki pengalaman awal, banyak orang menyadari bahwa mereka begitu membutuhkan tuntunan mengenai bagaimana harus bertingkah laku sebagai orang tua dan mulai mencari sumber informasi yang lain. Indvidu menyerap ide-ide lain tentang bagaimana menjadi orang tua yang semestinya dengan membaca buku, melalui artikel-artikel dari majalah dan berdiskusi dengan orang tua-orang tua yang lebih berpengalaman maupun para ahli.

Meskipun banyak orang tua mempunyai keinginan untuk menjadi orang tua yang kompeten, mereka tidak selalu mengetahui apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan anak-anak dan bagaimana memenuhi kebutuhan tersebut dengan efektif. Orang tua biasanya tidak punya akses untuk mendapatkan informasi mengenai penelitian-penelitian terbaru tentang dunia dan perkembangan anak-anak. Hal ini menyebabkan banyak orang tua tidak tahu atau memandang rendah kemampuan-kemampuan yang mungkin dimiliki oleh anak-anak mereka pada satu tahap atau usia tertentu. Keprihatinan khususnya ditekankan pada adanya kecenderungan orang tua untuk memiliki harapan yang salah terhadap kemampuan-kemampuan yang harusnya dimiliki oleh anak-anak mereka pada setiap tahap perkembangan sesuai dengan kelaziman atau perkembangan normal anak tersebut (Bigner, 1994). Orang dewasa yang menjadi tidak sabar atau memaksa anak untuk mencapai tugas perkembangan jauh sebelum anak tersebut siap, akan mengakibatkan rusaknya self esteem anak dan bahkan kesejahteraan anak tersebut secara fisik, begitu pula sebaliknya (Steinberg, 2005).

Begitu kompleksnya masalah pengasuhan anak, menuntut orang tua untuk selalu terbuka wawasannya dan memperbaharui terus metode pengasuhan yang digunakan agar perkembangan psikososial anak terpenuhi dengan optimal.

Sebuah metode pengasuhan anak yang dikemukakan oleh William Sears, yang dikenal dengan attachment parenting, menyatakan bahwa anak-anak yang diasuh oleh orang tua yang menggunakan pendekatan attachment parenting, akan memiliki kecenderungan untuk lebih mudah beradaptasi dalam situasi bermain dan bisa bermain lebih mandiri daripada anak-anak yang orang tuanya tidak menggunakan pendekatan ini (www.surfnetparents.com/how_attachment_parenting_affects_your_child_in_the_long_term, diakses pada 21/11/2009). Sears juga menyatakan bahwa anak-anak yang diasuh oleh orang tua yang menggunakan pendekatan attachment parenting akan menjadi anak yang mampu untuk responsif dan sensitif, mampu untuk beradaptasi, memiliki kapabilitas yang baik dan lebih mudah diarahkan. Anak-anak ini juga memiliki kemampuan komunikasi yang empatik, berpikir sebelum bicara, mampu berbicara dengan tepat dan terstruktur (http://www.askdrsears/cincinnati_attachment_parenting_11_8.ppt, diakses pada 21/11/2009).

Attachment parenting sendiri merupakan sebuah metode pengasuhan anak yang mendasarkan pendekatannya pada teori attachment dari John Bowlby dan teori psikologi perkembangan. Teori attachment dari Bowlby menyatakan bahwa attachment merupakan suatu ikatan emosional yang kuat yang dikembangkan anak melalui interaksinya dengan orang yang mempunyai arti khusus dalam kehidupannya, biasanya orang tua (pengasuhnya). Berdasarkan kualitas hubungan anak dengan orang tua (pengasuh), maka anak akan mengembangkan konstruksi mental atau internal working model mengenai diri dan orang lain yang akan akan menjadi prototip dalam hubungan social.

Dalam attachment parenting yang dikemukakan Sears, terdapat delapan prinsip untuk mengembangkan attachment yang sehat (aman) antara anak dengan orang tua (pengasuh), yaitu melalui:
1. Persiapan selama masa kehamilan, melahirkan dan pengasuhan
Ini adalah prinsip yang mendorong orang tua untuk mendidik dan memperlengkapi dirinya dengan berbagai pengetahuan dan persiapan-persiapan yang perlu dilakukan dalam menjalani masa kehamilan, proses melahirkan, dan pengasuhan.
2. Memberi makan dengan cinta dan penghargaan
Memberi makan pada anak, bukan hanya proses memenuhi kebutuhan anak akan gizi dan nutrisi. Memberi makan merupakan manifestasi dari bentuk menyatakan cinta. Saat-saat menyiapkan dan memberi makan pada anak merupakan kesempatan bagi orang tua untuk meningkatkan ikatan dan kedekatannya dengan anak. Prinsip ini sangat mengajurkan ibu untuk memberi asi pada bayinya, untuk tujuan meningkatkan ikatan dan sensitivitas dalam hubungan ibu dan bayi. Pada anak-anak yang lebih besar, proses memberi makan harus dilakukan dengan cara dan metode yang penuh kasih sayang dan penghargaan.
3. Sensitivitas dalam memberi respon
Bayi dan anak-anak sangat membutuhkan empati dan merasa dihargai perasaannya. Hal ini membantu mereka untuk mengembangkan rasa aman dan nyaman berada didekat orang yang dikenalnya. Orang dewasa yang sensitif terhadap mereka dan segera merespon dengan tepat apa yang menjadi kebutuhannya akan membuat anak percaya bahwa orang dewasa menyayangi dan menghargai mereka.
4. Sentuhan yang tulus
Prinsip ini mendorong orang tua untuk menggunakan sentuhan sebagai cara untuk mengkomunikasikan afeksi dan menumbuhkan rasa aman.
5. Pembiasaan tidur yang nyaman baik secara fisik maupun emosional
Pada orang tua yang memiliki bayi, prinsip ini mendorong orang tua untuk tidur sekamar dengan bayinya. Tujuannya adalah agar orang tua bisa segera memenuhi kebutuhan bayi saat bayi terbangun, dan proses pengasuhan dapat terus berlangsung bahkan pada saat bayi tidur. Pada anak-anak yang lebih besar, prinsip ini berkaitan dengan pembiasaan dan penciptaan suasana menjelang tidur.
6. Konsisten dalam memberikan cinta dan perhatian
Prinsip ini mendorong orang tua untuk menjaga konsistensi pemberian cinta dan perhatian pada anak-anak saat mereka tidak ada. Saat-saat orang tua harus meninggalkan anak, orang tua harus memastikan bahwa ada orang dewasa lain yang bisa memenuhi kebutuhan anak akan cinta dan perhatian sebagaimana yang biasa didapatkan anak-anak saat mereka bersama orang tuanya.
7. Pemberlakuan disiplin yang positif
Ini adalah prinsip yang mendorong orang tua untuk menggunakan pendekatan yang positif dalam mendisiplinkan anak. Tujuannya adalah agar anak terdorong untuk terus mengembangkan tingkah laku positif dan orang tua tidak fokus hanya pada tingkah laku negatifnya. Orang tua diharapkan juga tidak menggunakan hukuman fisik untuk mengembangkan tingkah laku positif anak.
8. Keseimbangan dalam kehidupan personal dan keluarga
Orang tua yang menggunakan attachment parenting didorong untuk berusaha mengembangkan keseimbangan antara kebutuhan anak-anak dan kebutuhan mereka sebagai orang tua, baik secara personal, pekerjaan, dan sosial. Prinsip ini digunakan untuk membantu orang tua kapan mengatakan ya dan kapan mengatakan tidak saat mereka menjalankan peran sebagai orang tua dan berinteraksi dengan anaknya.

Inti dari parenting model ini adalah berusaha untuk menumbuhkan kelekatan emosional antara orang tua dan anak, menghindari hukuman fisik, mengajarkan disiplin melalui interaksi orang tua – anak, memenuhi kebutuhan emosional anak disertai dengan usaha untuk memahami anak secara menyeluruh.

Materi Pembelajaran Attachment Parenting

Read Full Post »

%d blogger menyukai ini: