Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘kekerasan seksual pada anak’


girls
Hampir satu bulan terakhir, setiap minggunya saya bersama tim P2TP2A kabupaten Tasikmalaya, mengunjungi beberapa SMP dan SMA di kecamatan-kecamatan Tasikmalaya untuk memberi penyuluhan kepada siswa-siswinya mengenai pencegahan tindak kekerasan, utamanya kekerasan seksual pada perempuan dan anak.
Perjalanan ini kemudian menghadapkan kami pada kenyataan banyaknya kasus-kasus yang terjadi di wilayah-wilayah kecamatan terpencil di kabupaten Tasikmalaya. Inilah diantara kasus-kasusnya.
Saat ini ada seorang gadis berusia 12 tahun yang didampingi p2tp2a, sedang menunggu detik-detik proses melahirkan anak yang ia kandung, karena pemerkosaan yang dilakukan ayah temannya terhadapnya.
Seorang remaja kelas 3 SMA, tidak bisa ikut UN karena tepat dua minggu sebelum UN, orang tuanya baru mengetahui bahwa putrinya sedang mengandung enam bulan. Dengan kondisi tidak mengenal secara pasti dan mengetahui keberadaan anak laki-laki yang membuat putrinya hamil, karena putrinya hanya mengenalnya melalui facebook, dan baru dua kali bertemu langsung.
Seorang remaja kelas 2 SMP, di suatu malam minggu datang berkelompok dengan teman-temannya untuk menonton acara musik di kota. Saat akan pulang, ia terpisah dari teman-temannya, sehingga tidak tahu jalan pulang, alat komunikasinya habis baterei. Seorang remaja laki-laki ‘baik’ datang menawarkan bantuan. Ia kemudian menghilang selama dua malam. Saat ditemukan oleh seorang tentara, ia dalam keadaan tidak sadar, tergolek tidak berdaya, sendirian di hutan wilayah kabupaten Tasikmalaya, yang sangat jauh dari rumahnya. Hasil visum dokter menunjukkan organ reproduksinya luka.
Ada tiga kasus buang bayi hasil hubungan seksual pranikah di wilayah ujung selatan Tasikmaya. Sebelumnya di wilayah yang sama, ada kasus pelecehan seksual dan percobaan pembunuhan yang dilakukan seorang remaja berusia 18 tahun terhadap anak perempuan berusia lima tahun.
Di wilayah yang lain, ada kasus remaja perempuan yang melahirkan sendirian di kamar mandi umum, sehingga bayinya tidak tertolong dan ia mengalami infeksi di rahimnya.
Dan banyak kasus-kasus lain, dengan kisah yang berbeda tetapi temanya sama. Kekerasan terhadap perempuan. Kasus-kasus ini sedikitnya adalah gambaran dari fenomena iceberg pada kenyataannya di lapangan.
Diskusi dengan para korban dan keluarganya, memberi pelajaran pada saya:
1. Pentingnya mengajari dan membangun harga diri/konsep diri yang positif pada anak-anak perempuan kita. Anak-anak yang tumbuh dengan harga diri positif, mengetahui dengan pasti bahwa dirinya berharga dan berarti. Sehingga ia tidak akan mudah memposisikan dirinya pada situasi direndahkan dan tidak dihargai oleh orang lain. Ia akan tumbuh dengan keyakinan bahwa ia laksana keramik cina ‘a chinese porcelain’. Ia harus dihargai, dilindungi, dan diperlakukan dengan hormat dan hati-hati. Karena retak sedikit saja harga dirinya, maka ia akan menghayati diri sebagai tidak berarti dan bertingkah laku seperti orang yang tidak berharga.
2. Pentingnya mengajari dan mengembangkan kemampuan menilai situasi dan melindungi diri. Kemampuan melindungi diri secara fisik dalam pengertian keahlian bela diri bisa membantu, namun lebih penting dari itu adalah anak-anak perempuan yang memang secara neurologis memiliki kemampuan intuisi yang lebih tajam dibandingkan laki-laki perlu didorong untuk selalu mempercayai intuisinya ketika berada di situasi-situasi yang belum dikenal dan dirasa membahayakan. Kemampuan antisipasinya menjadi berkembang dan ia selalu berada dalam keadaan tenang tetapi waspada.
3. Kedekatan secara fisik dan (terutama) emosional antara orang tua anak harus terus dibangun secara positif. Jangan sampai ada kekosongan di hati anak-anak kita. Oprah Winfrey menyebutnya sebagai ‘an empty hole in their hearts’. Anak-anak yang mengalami dan merasakan kekosongan di hatinya akan mencari cara untuk mengisi kekosongan itu. Dan sering kali cara yang mereka pilih sangat beresiko, bahkan membahayakan. Namun mereka tidak menyadari itu.
4. Kesadaran akan salah satu fungsi keluarga, yaitu fungsi kontrol terhadap perilaku dan keberadaan anak-anak di rumah, harus kembali ditegakkan dan diefektifkan. Orang tua jangan segan-segan dan tidak boleh merasa bosan setiap harinya untuk memastikan kondisi fisik dan emosional anak-anaknya. Ayo mengobrol dan berdiskusilah setiap hari dengan anak-anak.
Wallahu a’lam.
sexual-harassment-3

Read Full Post »


 

child-abuse2 Untuk kesekelian kalinya, 1 minggu yang lalu saya dihadapkan pada kasus kekerasan seksual pada anak. Yang paling menyedihkan saat menghadapi kasus seperti ini adalah, saat pelaku dan korban, keduanya sama anak-anak.

Seminggu yang lalu, sepasang suami istri membawa anaknya berusia 10 tahun, laki-laki. Anak ini baru saja melakukan aktivitas seksual dengan temannya sesama laki-laki, dengan melakukan ‘o**l s**s’. Aktivitas ini dilakukan di kelas saat jam pelajaran, ketika guru tidak ada di dalam kelas. Anak ini berdua dengan temannya, diancam oleh teman sekelasnya yang lain, untuk melakukan hal itu, jika tidak akan dipukuli. Sebelum melakukan kegiatan tersebut,  mereka menonton video porno di  youtube, melalui handphone temannya. Ini adalah yang ketiga kalinya, sementara aktivitas menonton video porno baik melalui hp maupun warnet sudah 1o kali karena diajak teman.

Anak ini, dari penampilannya tampan, bersih dan sangat stylish. Latar belakang kedua orang tua adalah pengusaha sandal, cukup mampu secara finansial, namun kurang berpendidikan, juga tidak update terhadap teknologi. Anaknya tidak punya hp, PS ataupun mainan-mainan yang berbau teknologi kekinian. Pengetahuan dan paparan konten dan aktivitas pornografi dan pornoaksi, sepenuhnya didapat dari temannya. Ia kemudian dikeluarkan dari sekolah karena masalah ini.

Interview saya dengan anak ini, menyajikan data sebagai berikut. Ia tidak tahu apa makna dari aktivitas seksual yang ia lakukan dengan temannya. Ia hanya meniru, tanpa tahu maksud dari aktivitas tersebut. Ia tidak merasakan sesuatu saat melakukan hal itu, hanya rasa sakit saja (Ia belum aqil baligh, belum mengalami mimpi basah). Mengapa sampai tiga kali melakukan aktivitas tersebut, karena kalau tidak mau akan dipukuli dan setelah melakukannya ia dibayar dua ribu rupiah oleh teman yang menyuruh dan menontonnya. Saat ini ia masih suka pada anak perempuan (alhamdulillah, orientasi seksualnya masih normal).

Catatan penting yang bisa diambil adalah:

  1. Memilih lingkungan yang baik, mengenal teman anak-anak, mengetahui dan mengontrol aktivitas bermain mereka, adalah penting untuk dilakukan oleh orang tua setiap harinya.
  2. Anak yang tidak terpapar teknologi, tidak ada jaminan bahwa mereka aman dari pengaruh pornografi dan pornoaksi.
  3. Mengajari mereka tentang menjaga anggota tubuh, bagaimana memperlakukannya, menutupinya, dll juga penting.
  4.  Orang tua perlu terus belajar, meng-up grade pengetahuan tentang segala hal yang berbau kekinian, yang berhubungan dengan kehidupan anak-anaknya.
  5. Berdo’a. Minta pada Allah dengan sepenuh hati agar Ia menjaga anak-anak kita. Do’akan anak-anak saat mereka keluar rumah, agar ia terjaga dari mata-mata jahat yang berniat melukainya.

Wallahu a’lam bish showab.

hal-yang-harus-diwaspadai-agar-tidak-dilecehkan-seksual

 

 

Read Full Post »

%d blogger menyukai ini: