Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘ibu’


saver community

Setelah sebelumnya sempat ramai perang antar ibu, yang mempertentangkan antara ibu bekerja (working mom) dan ibu rumah tangga (full time mom), kini muncul perang baru yang mempertentangkan antara ibu penerima metode bentak dan marah dan ibu penolak metode bentak dan marah dalam proses pengasuhan anak.

Untuk mengingatkan saja, barangkali ada diantara kita yang sempat mem-post-ing atau men-share-ing link dari sebuah laman facebook tentang kerusakan yang akan dialami otak anak dari sebuah bentakan orang tuanya? Nah setelah artikel itu bergulir secara bebas di media sosial dan dibagikan secara masif dan terstruktur (hehehe lebay banget!) di laman fb masing-masing ibu, ternyata melahirkan reaksi yang menarik dari kelompok ibu yang lain.

Muncullah kemudian, kelompok ibu-ibu yang membagikan tulisan melalui media sosial juga, yang intinya menyuarakan pendapat bahwa seorang ibu berhak dan pantas marah, bahkan melakukan kekerasan pada anaknya jika anaknya bertingkah laku negatif, sulit diatur dll, dengan menyitir sebuah hadist tentang diperbolehkannya orang tua memukul anaknya yang telah berusia 10 tahun dan tidak mau sholat. Untuk memperkuat alasan dan latar belakang mengapa sampai seorang ibu perlu membentak, memukul, bahkan digambarkan konflik dan sulitnya menjadi seorang ibu yang berjuang membesarkan dan mendidik anak dengan berbagai masalah dan tantangannya dengan sangat detail dan menyentuh. Namun demikian, artikel itu diakhiri dengan mengatakan bahwa mereka pun setelah berlaku keras pada anaknya, pasti merasa bersalah, bahkan menangis sambil memeluk anaknya, dan kemudian meminta maaf. Pertanyaan saya, kalau memang tahu itu salah, lalu mengapa masih melakukannya dan menganggap bahwa melakukan kekerasan pada anak adalah boleh?

Tidak mudah menjadi seorang ibu, ini adalah pekerjaan terberat dan tersulit di dunia menurut saya. Tidak ada satu metode pengasuhan yang berlaku umum dan sukses diterapkan pada semua situasi, ketika kita berhadapan dengan seorang anak, apalagi banyak anak. Bahkan perlu banyak metode dan pendekatan yang harus dikombinasikan untuk bisa berhasil dalam membiasakan 1 tingkah laku baik pada anak atau hanya untuk mengurangi 1 saja tingkah laku negatifnya. Apalagi untuk mengasuh dan membesarkannya secara umum. Mengasuh dan membesarkan anak ganjarannya surga, maka pasti tidak mudah melakukannya. Diantara banyak metode pengasuhan anak, saya tetap memilih dan menganjurkan, untuk tidak menggunakan metode membentak dan memukul sebagai salah satu caranya. Ini diantara alasannya.

Dalam sebuah sesi konseling, seorang ibu membawa anak laki-lakinya yang berusia 10 tahun, kelas 4 SD. Ibu ini menerima saran dari kepala sekolah anaknya untuk membawa anaknya ke psikolog, karena dia baru memukul temannya, dan mengakibatkan temannya itu harus menerima 8 jahitan di kepalanya. Permintaan ibunya pada saya adalah, tolong anak saya diterapi karena ini kali kedua anaknya melukai orang lain yang mengakibatkan luka serius pada orang yang dilukainya, dan sudah sering terlibat pertengkaran dengan teman-teman sekolahnya. Anak ini badannya besar sekali, bahkan lebih besar dari saya. Yang membuat ia memukul temannya adalah, karena ada teman yang duduk di belakangnya, berbisik-bisik ke teman yang lain saat ia lewat, dan mengatakan, “beruang”. Ia pikir, temannya itu mengejeknya dengan mengatakan bahwa ia beruang.

Setelah mengobrol dan mendapat informasi dari anak dan Ibu, here are the story.

Anak ini hingga usia 3 tahun dibesarkan oleh ibu saja, single parent. Dengan kondisi single parent, ibu mengakui bahwa terkadang hidup dirasa sangat sulit dan secara emosi Ia sering lepas kontrol, namun tidak pernah menyakiti secara fisik, hanya suka membentak saja. Beberapa bulan setelah ulang tahun anak lelakinya yang ke-3. Ibu menikah lagi. Dan kemudian melahirkan anak perempuan. Perangai ayah kepada anak laki-lakinya kemudian berubah. Menjadi keras, mudah memukul, terutama jika ia ‘mengganggu’ adiknya dan membuat adiknya rewel. Mencubit, menjewer, bahkan menampar dan menghukum kurung di kamar mandi adalah biasa. Ibu tidak bisa berbuat apa-apa, karena merasa terjepit. Terkadang juga ikut memarahi dan membentak.

Saya tanya pada anak ini tentang ibunya, jawabnya adalah “aku sayang mama, walaupun mama suka marahin aku.”

Ketika saya tanya apa yang ia pikirkan tentang ayahnya, jawabannya adalah “aku ngebayangin bu, aku ikat tali yang halus, mungkin benang layangan warnanya bening, yang satu di kaki kursi di ruang tivi, terus yang satu lagi di kaki kursi meja makan, kenceng banget aku ngiketnya. Terus papa lewat situ nggak liat ada tali, terus kakinya kesangkut, dia jatuh ke lantai kepalanya bocor sampai berdarah. Aku suka bu bayangin itu kalo papa lagi pukulin aku”

Saya sampaikan pada ibunya, apa yang dikatakan anaknya, Ibunya menangis berlinang air mata.

Ibunya bertanya, “bisakah dengan terapi atau alat permainan apa anaknya menjadi tidak mudah marah dan tidak suka memukul”?

Saya katakan saya bisa membantu melatihnya untuk mengelola emosi, belajar mengekspresikan marah dengan cara yang baik dan tidak mencelakai orang lain, tetapi tetap tidak akan efektif jika pola pengasuhan di rumah tidak di ubah.

Tidak ada alat bermain atau alat terapi yang bisa mengubahnya. Ubah pola pengasuhan anak di rumah, maka anak akan berubah. Ibu kembali berlinang air mata.

Untuk menghibur ibu, saya katakan, bagaimana jika mereka sekeluarga sering bermain bersama, misalnya main ular tangga, ludo, monopoli, atau halma (hadeuh jadul pisan ya!) atau permainan lainnya (yang lebih kekinian), dengan bahagia, dan tidak ada kekerasan baik lisan maupun fisik kepada anaknya, cobalah satu minggu saja. Jika berhasil lakukan terus secara rutin. Kemudian ibu buktikan, apakah alat ini bisa mengubah tingkah laku negatif anak atau tidak. Ibu tersenyum.

Yang menjadi concern dan kekhawatiran utama saya adalah, jika kita memberlakukan kekerasan di rumah pada anak, ia bisa melakukan hal yang sama di luar rumah, kepada orang lain. Karena ia menganggap, melakukan kekerasan adalah boleh, salah satu cara untuk menyelesaikan masalah, atau untuk mendapatkan apa yang ia mau. Padahal jika anak sudah di luar rumah, dengan berbagai stimulus yang menghampirinya, dan tidak bisa kita kontrol, maka satu-satunya cara bertindak yang akan ia lakukan adalah cara bertindak yang menurut dia berhasil mengendalikannya, yang ia pelajari dari rumahnya. Jika Bapak/ibu berpikir dan punya pengalaman bahwa baru setelah dibentak dan dikerasi anak bisa dikendalikan, maka begitu jugalah cara anak kita berpikir. Yakinkah Bapak/Ibu ingin mewarisi pemikiran dan kebiasaan tersebut pada anak-anak?

Diakhir pembicaraan, saat saya tanya mau kesini lagi gak, anak ini menjawab dengan riangnya, “gak ah Bu Neni mah kepmal, alias kepo maksimal!”

Bwhehehe…what a sweet boy.

Wallahu a’lam bish showab.

Tulisan lain yang terkait bisa dilihat di https://nsholihat.wordpress.com/2012/07/31/pukul-aku-maka-aku-akan-belajar-memukul atau https://nsholihat.wordpress.com/2012/08/08/bullying-oh-bullying

Read Full Post »

%d blogger menyukai ini: