Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Tentang Remaja’ Category


attitude quote bruce lee

Mata kuliah ini adalah mata kuliah baru di semester ini, merupakan pengembangan dari salah satu materi dari mata kuliah Personality Development yang sebelumnya saya ampu.

Character building khususnya, lebih menitik beratkan kajiannya pada bagaimana mahasiswa mengembangkan semua potensi kebaikan yang ada didalam dirinya, untuk membangun konsep dirinya secara utuh, dimulai dari memahami dirinya, memahami prosesnya penciptaannya, memahami tujuan penciptaannya, memahami bagaimana posisinya di dunia ini dan bagaimana memaksimalakn kemanfaatannya bagi manusia lain.  Dengan demikian, diharapkan mahasiswa mengetahui  bagaimana mereka harus berkembang dan bergerak, terus bertumbuh untuk mewujudkan apa yang menjadi tujuan penciptaannya di dunia ini. Sehingga pada gilirannya nanti, mereka akan mampu menggantikan para orang tua dan pemimpin yang sekarang ada, mampu mengelola diri, bangsa dan negaranya dengan seluruh potensi kebaikan yang mereka punya. Semoga.

Secara sepintas, mata kuliah ini masih berkaitan dengan mata kuliah Personality Development dibeberapa subjek dan mata kuliah Psychology and Professional Ethics di subjek yang lain.

 

1st Character

2nd Memahami Hakikat Manusia

3rd Character and Personality

4th Proses Pembentukan Karakter Dalam Diri Manusia

5th Menghormati Diri Sendiri

6th Respect yourself and Respect Others

7th Peduli Lingkungan

8th Honesty

Worksheet Kelola Dirimu!

Personality Development

Psychology (of Work) and Professional Ethics

Discipline and Responsibility11

 

Read Full Post »


College_Student_Graduation1

 

Mempersiapkan masa depan bagi pada lulusan sekolah, baik SMA/K, akademi maupun perguruan tinggi, bisa dimulai dengan membuat perencanaan karir di masa sekolah.

Slide berikut ini, berisi tahapan-tahapan yang bisa dipelajari oleh para fresh graduate, sebelum mereka memulai mengembangkan dan membangun karir profesionalnya.

Selamat membaca.

Perencanaan Karir dan Kita Sukses Menghadapi Psikotes

Read Full Post »


Materi dalam tulisan ini, adalah materi-materi yang saya sampaikan dalam mata kuliah Psychology and Professional Ethics.

Psychology and Profession Ethics

Psychological Service to the Customer

Discipline, efficiency, Effectivity and Work Productivity

Career of work

Conflict and Work Stress

The Essential of Work

Profession Ethics

Bussines Ethics

work satisfaction

Corporate Social Responsibility

Knowing Customer’s Characters

UNDERSTANDING ETHICS

Read Full Post »


girls
Hampir satu bulan terakhir, setiap minggunya saya bersama tim P2TP2A kabupaten Tasikmalaya, mengunjungi beberapa SMP dan SMA di kecamatan-kecamatan Tasikmalaya untuk memberi penyuluhan kepada siswa-siswinya mengenai pencegahan tindak kekerasan, utamanya kekerasan seksual pada perempuan dan anak.
Perjalanan ini kemudian menghadapkan kami pada kenyataan banyaknya kasus-kasus yang terjadi di wilayah-wilayah kecamatan terpencil di kabupaten Tasikmalaya. Inilah diantara kasus-kasusnya.
Saat ini ada seorang gadis berusia 12 tahun yang didampingi p2tp2a, sedang menunggu detik-detik proses melahirkan anak yang ia kandung, karena pemerkosaan yang dilakukan ayah temannya terhadapnya.
Seorang remaja kelas 3 SMA, tidak bisa ikut UN karena tepat dua minggu sebelum UN, orang tuanya baru mengetahui bahwa putrinya sedang mengandung enam bulan. Dengan kondisi tidak mengenal secara pasti dan mengetahui keberadaan anak laki-laki yang membuat putrinya hamil, karena putrinya hanya mengenalnya melalui facebook, dan baru dua kali bertemu langsung.
Seorang remaja kelas 2 SMP, di suatu malam minggu datang berkelompok dengan teman-temannya untuk menonton acara musik di kota. Saat akan pulang, ia terpisah dari teman-temannya, sehingga tidak tahu jalan pulang, alat komunikasinya habis baterei. Seorang remaja laki-laki ‘baik’ datang menawarkan bantuan. Ia kemudian menghilang selama dua malam. Saat ditemukan oleh seorang tentara, ia dalam keadaan tidak sadar, tergolek tidak berdaya, sendirian di hutan wilayah kabupaten Tasikmalaya, yang sangat jauh dari rumahnya. Hasil visum dokter menunjukkan organ reproduksinya luka.
Ada tiga kasus buang bayi hasil hubungan seksual pranikah di wilayah ujung selatan Tasikmaya. Sebelumnya di wilayah yang sama, ada kasus pelecehan seksual dan percobaan pembunuhan yang dilakukan seorang remaja berusia 18 tahun terhadap anak perempuan berusia lima tahun.
Di wilayah yang lain, ada kasus remaja perempuan yang melahirkan sendirian di kamar mandi umum, sehingga bayinya tidak tertolong dan ia mengalami infeksi di rahimnya.
Dan banyak kasus-kasus lain, dengan kisah yang berbeda tetapi temanya sama. Kekerasan terhadap perempuan. Kasus-kasus ini sedikitnya adalah gambaran dari fenomena iceberg pada kenyataannya di lapangan.
Diskusi dengan para korban dan keluarganya, memberi pelajaran pada saya:
1. Pentingnya mengajari dan membangun harga diri/konsep diri yang positif pada anak-anak perempuan kita. Anak-anak yang tumbuh dengan harga diri positif, mengetahui dengan pasti bahwa dirinya berharga dan berarti. Sehingga ia tidak akan mudah memposisikan dirinya pada situasi direndahkan dan tidak dihargai oleh orang lain. Ia akan tumbuh dengan keyakinan bahwa ia laksana keramik cina ‘a chinese porcelain’. Ia harus dihargai, dilindungi, dan diperlakukan dengan hormat dan hati-hati. Karena retak sedikit saja harga dirinya, maka ia akan menghayati diri sebagai tidak berarti dan bertingkah laku seperti orang yang tidak berharga.
2. Pentingnya mengajari dan mengembangkan kemampuan menilai situasi dan melindungi diri. Kemampuan melindungi diri secara fisik dalam pengertian keahlian bela diri bisa membantu, namun lebih penting dari itu adalah anak-anak perempuan yang memang secara neurologis memiliki kemampuan intuisi yang lebih tajam dibandingkan laki-laki perlu didorong untuk selalu mempercayai intuisinya ketika berada di situasi-situasi yang belum dikenal dan dirasa membahayakan. Kemampuan antisipasinya menjadi berkembang dan ia selalu berada dalam keadaan tenang tetapi waspada.
3. Kedekatan secara fisik dan (terutama) emosional antara orang tua anak harus terus dibangun secara positif. Jangan sampai ada kekosongan di hati anak-anak kita. Oprah Winfrey menyebutnya sebagai ‘an empty hole in their hearts’. Anak-anak yang mengalami dan merasakan kekosongan di hatinya akan mencari cara untuk mengisi kekosongan itu. Dan sering kali cara yang mereka pilih sangat beresiko, bahkan membahayakan. Namun mereka tidak menyadari itu.
4. Kesadaran akan salah satu fungsi keluarga, yaitu fungsi kontrol terhadap perilaku dan keberadaan anak-anak di rumah, harus kembali ditegakkan dan diefektifkan. Orang tua jangan segan-segan dan tidak boleh merasa bosan setiap harinya untuk memastikan kondisi fisik dan emosional anak-anaknya. Ayo mengobrol dan berdiskusilah setiap hari dengan anak-anak.
Wallahu a’lam.
sexual-harassment-3

Read Full Post »


gambar anak7

 

…Tidak seperti orang tuanya, anak-anak tidak menganggap bahwa perceraian sebagai kesempatan kedua, dan ini menjadi bagian dari penderitaan mereka. Mereka percaya bahwa masa kecil mereka telah hilang selamanya….tetapi sesungguhnya anak-anak yang hidup dalam perceraian memang memiliki kesempatan kedua di masa depan yang mereka khawatirkan…-Wallerstein & Blakeslee.

 

PERPISAHAN DAN PERCERAIAN

Keluarga adalah sebuah system support pertama yang dimiliki anak-anak, dan merupakan ikatan attachment yang dimiliki anak dengan orang tuanya, yang merupakan faktor pembentuk perkembangan rasa percaya pada anak. Ikatan ini memberikan kontribusi yang sangat besar dalam mengembangkan kemampuan anak untuk mencintai dan dicintai, dan merupakan sentral dari perkembangan kepribadian yang sehat. Bahkan dalam perceraian yang tetap mampu memberikan attachment yang aman (secure attachment) sekalipun, perjalanan untuk mendapatkan perkembangan dan pertumbuhan yang sehat, tidaklah mudah dan lancar. Selalu ada hal-hal yang mengingatkan kembali anak pada konflik-konflik yang pernah terjadi dan membuat mereka menolak untuk menatap masa depan. Kemunduran ini merupakan reaksi yang normal bagi anak dalam rangka mencari tempat yang lebih aman saat mereka merasa tertekan. Begitu anak tumbuh dan berinteraksi dengan dunia sosial yang lebih luas, kualitas hubungan mereka dengan anggota keluarga yang lain dan hubungan dengan ayah dan ibu menjadi sangat penting dan akan terus berpengaruh terhadap perkembangan anak. Anak-anak membutuhkan dukungan dari keluarga dan orang lain yang penting bagi mereka untuk mengatasi kemunduran perkembangan yang kadang-kadang terjadi, dan untuk mengembalikan mereka pada perkembangan yang sehat yang sebelumnya telah dicapai.

Perpisahan dan perceraian merepresentasikan konflik situasional dalam keluarga yang semakin memperburuk konflik pada suatu tahap perkembangan yang mungkin sedang dialami anak sesuai tahap perkembangannya. Ketika sebuah keluarga terpecah, anak-anak biasanya mengalami kekurangan salah satu aspek pendukung untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang sehat, dan mengalami perasaan kehilangan yang sangat besar. Perasaan kehilangan yang berkaitan dengan perceraian sama dengan perasaan kehilangan yang berhubungan dengan kematian. Hal ini terkait dengan perubahan dalam ritme hidup yang akan berlangsung lama dan dalam kehidupan yang dijalani sehari-hari, juga dalam hubungan orang tua dan anak. Kehilangan adalah tema sentral dalam perceraian, sebagaimana terjadi dalam kematian; kehilangan kontak sehari-hari dengan salah satu atau kedua orang tua, kehilangan teman lama, sekolah yang sudah dikenal, tetangga, juga kehilangan kontak dengan keluarga yang lebih besar dari pihak ayah atau ibu, tergantung dengan siapa nantinya anak akan tinggal. Namun, tidak seperti kematian, walau bagaimanapun dalam perceraian masih terdapat pilihan dan walaupun merupakan sebuah krisis dalam hidup yang sangat khusus dan terus menerus melahirkan masalah-masalah baru, namun alternatif-alternatif penyelesaian yang baru pun dimungkinkan untuk dicapai.

REAKSI EMOSIONAL YANG UMUM TERHADAP PERCERAIAN

Bagaimana anak-anak bereaksi terhadap perceraian sangat tergantung pada usia mereka, tahap perkembangan, dan karakteristik kepribadiannya. Reaksi secara individual akan sangat bervariasi tergantung pada masing-masing anak, karena tiap anak hidup dalam lingkungan keluarga yang berbeda-beda, berbeda juga kelebihan dan kekurangannya, dan tergantung pada kebiasaan cara mereka mengatasi masalah. Persepsi terhadap rasa kehilangan interaksi dengan salah satu orang tua bukan hanya bervariasi antara anak yang satu dengan yang lain, tetapi juga dipandang secara berbeda oleh anak yang sama seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan usianya. Reaksi anak terhadap perceraian pada waktu perceraian itu terjadi juga berbeda dibandingkan dengan reaksi mereka beberapa bulan/tahun sesudahnya. Wallerstein dan Blakeslee (1989) menyimpulkan bahwa ” tidak ada seorangpun  yang dapat memprediksikan dampak jangka panjang dari sebuah perceraian terhadap seorang anak berdasarkan reaksi anak tersebut pada saat perceraian baru saja terjadi”. Secara mengejutkan Wallerstein dan Blakeslee menemukan bahwa anak-anak yang menjadi sangat menyusahkan, penuh kemarahan dan tertekan pada saat perceraian terjadi, ternyata mereka dapat menerimanya sepuluh tahun kemudian.

Review dari berbagai literatur menemukan bahwa anak-anak menampilkan beberapa  reaksi emosi yang umum terhadap perceraian. Pemahaman terhadap reaksi ini akan berguna dalam membantu anak melalui krisis pada awal-awal perceraian terjadi dan dalam mempermudah adaptasi jangka panjang yang harus mereka lalui terhadap perceraian itu sendiri.

 

1. Kesedihan akan rasa kehilangan keluarga

Wallerstein mengatakan, bagi anak, perpisahan atau perceraian orang tua secara emosional dapat disamakan dengan kematian orang tua. Anak tidak hanya menderita dan bersedih karena hilangnya kontak sehari-hari dengan salah satu orang tua, dan berkurangnya kontak dengan yang lain, tetapi juga bersedih karena kehilangan rasa aman dan kesejahteraan yang sebelumnya mereka rasakan dalam keluarga. Dalam respon kesedihan ini, termasuk didalamnya juga kebingungan, rasa marah, penyangkalan (tidak menerima kenyataan), tertekan, perasaan hampa dan tak berdaya.

 

” Ketika orang tuaku bercerai, aku sangat merindukan ayahku terutama saat makan malam. Aku selalu melihat kearah tempat duduk dimana biasanya ia duduk, aku merasa bahwa kini kami bukan sebuah keluarga lagi” – anak laki-laki, 10 tahun.

 

2. Cemas akan penolakan, diabaikan, dan perasan tak berdaya

Besarnya perasaan ditolak, biasanya disertai dengan keinginan untuk menyalahkan diri sendiri. Anak-anak menginterpretasikan orang tua yang meninggalkan rumah sebagai penolakan mereka untuk berada didekat anak-anak, dan bukan karena adanya permasalahan dalam perkawinan orang tuanya. Perasaan ini akan semakin besar saat tiba waktunya untuk berkunjung bagi orang tua yang meninggalkan rumah. Jika mereka tidak memenuhi janjinya untuk mengunjungi anak-anak, anak akan merasa ditolak dan merasa sangat tidak dicintai oleh orang tuanya. Anak-anak akan merasa bahwa orang tua yang bersama mereka sekarang juga akan melakukan hal yang sama suatu hari nanti. Mereka merasa sangat tidak berdaya untuk memperbaiki keadaan, untuk mencegah perceraian, dan untuk “memperbaiki ” keadaan orang tua mereka yang saling menyakiti.

 

Ketika ayahku pergi, aku terus bertanya-tanya, akankah ibuku juga pergi?” – Anak laki-laki, 8 tahun.

 

3. Kemarahan

Anak-anak yang terjebak dalam proses perceraian, sangat marah kepada orang tua mereka karena hanya memikirkan kepentingan dan diri mereka sendiri, dan menempatkan anak-anak ditengah-tengah konflik yang mereka alami. Banyak anak mengalami konflik kesetiaan ketika mereka dipaksa harus memilih atau untuk ikut dengan salah satu orang tuanya. Anak-anak sangat menderita karena jika mereka memilih salah satu orang tua, mereka merasa berkhianat atau menghianati orang tua yang satunya. Beberapa anak tidak menampakkan kemarahan mereka, dan menyimpannya diam-diam didalam hati karena mereka tidak ingin membuat orang tuanya semakin kesal. Setiap anak memiliki perbedaan dalam mengekspresikan rasa marah, diantaranya dengan cara tempertantrum (rewel dan cengeng), tingkah laku agresif terhadap orang lain, atau perasaan tak berdaya menghadapi berbagai situasi. Strangeland dkk (1989), menemukan bahwa anak-anak yang memiliki orang tua bercerai, dikatakan sangat marah pada ayahnya, memiliki masalah di sekolah, dan mengalami gangguan (sulit) tidur.

 

“..Aku rasa orang tuaku bertingkah seperti sepasang anak nakal yang sangat manja. Mereka bertingkah seperti bayi…mereka tidak peduli dengan perasaanku….aku hanya anak-anak” –Anak laki-laki, 8 tahun

 

4. Kepahitan (marah yang terpendam) dan rasa kesepian

Anak-anak biasanya akan mengalami perasaan pahit karena kemarahan yang terpendam, karena mereka tidak diajak bicara bahwa akan terjadi perceraian dan tidak adanya kesempatan untuk mendiskusikannya. Kurangnya komunikasi dalam hal ini seringkali diterjemahkan kedalam perasaan sepi karena hilangnya dukungan dari anggota keluarga, keluarga yang lebih besar dan teman-teman. Wallerstein dan Blakselee mengatakan bahwa hampir 50% keluarga yang mereka konsul, menunggu hingga terjadinya perceraian atau beberapa hari setelahnya untuk mengatakan kepada anak-anak bahwa orang tua akan bercerai. Hanya kurang dari 10 % dari anak-anak yang mereka teliti, memiliki orang dewasa yang memiliki empati untuk berkomunikasi dengan mereka sebelum perceraian diputuskan. Fakta lain yang cukup mengejutkan, ternyata kakek dan nenekpun sedikit sekali memberikan support pada saat anak-anak berada pada masa-masa kritis ini.

 

“Suatu hari aku pulang sekolah dan ibuku sudah tidak ada. Ayahku mengatakan bahwa mereka telah memutuskan untuk bercerai dua bulan sebelumnya, tetapi hari itu mereka bertengkar dan ibuku memutuskan pergi sebelum kami pulang dari sekolah. Aku berteriak-teriak dan menangis. Aku sangat marah karena mereka tidak mengatakannya pada kami. Sampai sekarang aku masih merasakan kepahitan dan kemarahannya”  –Anak perempuan, 12 tahun

 

5. Perasaan bersalah dan menyalahkan diri sendiri

Anak-anak seringkali berpikir dan percaya bahwa jika mereka tidak dilahirkan atau jika mereka menjadi anak yang lebih baik, tentu orang tua tidak akan meninggalkan mereka. Anak-anak marah dan menyalahkan orang tu (yang tidak memiliki hak asuh) yang meninggalkan rumah dan menyalahkan orang tua (yang memiliki hak asuh), karena membuat orang tua yang lain meninggalkan rumah. Anak-anak menyayangi kedua orang tuanya, dan takut kehilangan mereka. Perasaan marah anak kemudian digeneralisasikan kedalam perasaan bersalah. Rasa bersalah yang disertai kecemasan dapat menyebabkan sejumlah reaksi emosi pada anak.

 

“...ibu mengatakan bukan aku yang menyebabkan perceraian terjadi, tapi aku tetap merasa mereka bertengkar karena aku” –Anak laki-laki, 9 tahun

 

6. Perasaan cemas dan dihianati

Karena anak-anak merasa cemas bahwa hidup mereka akan selalu terganggu oleh adanya perceraian orang tuanya, anak-anak akan selalu merasa tidak pasti mengenai masa depan mereka, dan tentang sebuah hubungan. Remaja-remaja tertentu memiliki kesulitan untuk mempercayai orang lain, takut menyakiti mereka dan merasa dikhianati oleh orang tuanya. Beberapa anak memiliki perasaan malu dan ragu, menarik diri dan takut untuk dicintai dan mencintai. Anak-anak yang lain menyimpulkan bahwa mereka tidak berharga dan tidak pantas untuk dicintai.

 

” Ketika ayahku pergi, ibuku menangis sepanjang waktu dan mengurung diri di rumah. Lalu suatu hari ia bertemu seseorang dan kemudian berhubungan dengannya. Ibu meminta ayah membawa kami untuk pergi di akhir minggu, tetapi ayah mengatakan bahwa ia tidak bisa karena terlalu sibuk. Aku merasa sedih sekali karena tidak ada yang menginginkan kami bersama mereka” – Anak laki-laki, 12 tahun.

Untuk lanjutan artikel ini dapat dibaca di https://nsholihat.wordpress.com/2011/07/05/anak-anak-dan-perceraian-2-tugas-tugas-psikologis-yang-berkaitan-dengan-perceraian/

 

 

 

Read Full Post »


Mengapa mampu mengelola diri sendiri penting untuk remaja?

“Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan segala sesuatu dimuka bumi dalam keadaan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka selamatkanlah kami dari siksa neraka” (QS. Ali Imran; 191)

 

Materi-materi dalam tulisan ini adalah materi kuliah Personality Development yang saya ampu di LP3I Tasikmalaya. Selama kurang lebih 5 tahun menyampaikan materi ini kepada mahasiswa-mahasiswa baru yang notebene adalah remaja berusia antara 17-18 tahun, dan disiapkan untuk menjadi seorang profesional hanya dalam waktu 2 tahun, justru menyadarkan saya bahwa ternyata, memiliki tujuan hidup, mengetahui apa yang menjadi kekuatan dan kelemahan, dan menyusun strategi untuk bisa mengelola kehidupan dengan berbagai permasalahannya, adalah salah satu soft skill yang sangat penting untuk dimiliki sejak kita muda. Semakin menyadari apa yang kita inginkan dalam hidup, bagaimana meraihnya, bagaimana mengelola dan mengatasi hambatannya agar kita dapat mencapai apa yang kita inginkan, akan mengembangkan semacam kecerdasan dalam diri kita, kecerdasan dalam mengelola dan menghadapi kehidupan. Kecerdasan yang kita butuhkan untuk bisa survive dalam kehidupan yang sangat unpredictable.

Berproses bersama remaja-remaja yang muda, bersemangat, tidak mau berlama-lama sekolah dan hidup dalam teori, kemudian juga menggugah dan mempengaruhi saya bahwa mereka ini adalah anak-anak muda yang sebagian besar sudah tahu betul apa yang mereka inginkan dalam hidup. Mereka ingin segera bekerja baik sebagai pegawai di kantor maupun sebagai entrepreneur, menafkahi diri sendiri, mandiri secara ekonomi dari orang tua, bisa mencicil kendaraan dengan uang sendiri, membantu orang tua membiayai pendidikan adik-adiknya, bisa menabung untuk memberangkatkan orang tua beribadah haji, dll. Mereka punya tujuan-tujuan hidup yang sangat luhur, namun praktis dan terukur, yang ketika saya berada di usia mereka, bahkan belum memikirkannya.

Remaja, anak muda yang punya arah yang jelas akan kehidupannya, akan lebih mungkin terhindar dari masalah-masalah negatif, perilaku yang tidak produktif, tindakan kriminal, atau hidup dalam kesia-siaan. Anak muda yang tahu betul apa yang diinginkannya, akan sibuk dengan berbagai kegiatan dan aktivitas yang memang ia butuhkan untuk meraih cita-citanya. Energinya akan habis dalam kebaikan dan usaha untuk mengejar mimpi-mimpinya, bukan hanya sibuk bermimpi. Maka menjadi jelas ungkapan Presiden Soekarno yang sangat terkenal, “Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia” tentu yang dimaksud adalah anak-anak muda yang tahu apa yang diinginkannya. Atau jargon yang sekarang sering disosialisasikan oleh dokter muda, dr. Gamal Albinsaid, dari kota Malang, “Muda Mendunia” sangat mungkin untuk dicapai jika remaja-remaja ini menyibukkan dirinya dalam kebaikan dan usaha mewujudkan visi misi hidupnya. Alih-alih sibuk nongkrong di gang sempit sambil bermain gitar fals dan menggoda gadis-gadis yang lewat, atau sibuk pamer kendaraan di jalan hasil kredit orang tuanya.

Maka, mengampu mata kuliah Personality Development, secara tidak disadari ternyata justru mengajari saya, membangunkan kesadaran saya, bahwa hidup harus punya arah dan tujuan sedari muda, sedini mungkin. Agar penciptaan kita oleh Allah yang Maha Kuasa tidak sia-sia, kehadiran kita didunia ini punya makna dan bermakna bagi alam semesta. Minimal keluarga. So proud of you all my students. May Allah bless all of you. Aamiin.

2nd-character

3rd-the-power-of-mind

4th-personality

communication1

communication-and-self-disclosure-2

interpersonal-skill

attitude-and-personality

pencarian-peluang-dan-merencanakan-hidup-dan-karir

etika-busana-dan-tabel-manner2

persiapan-kerja

8th-personality-and-ethics

job-interview

Work Preparation

mind mapping your dream job

Read Full Post »


family2

Bulan Februari kemarin, adalah 5th anniversary saya menjadi seorang psikolog, dan memberanikan diri terjun di dunia profesional sebagai praktisi psikolog. Belum banyak keterampilan dan pengetahuan saya sesungguhnya ketika mulai menceburkan diri di dunia profesi psikologi, tetapi seorang dosen saya yang sangat saya hormati, beliau juga salah satu pembimbing thesis saya, terus menyemangati dan ‘ngomporin’ untuk berani melakukan praktek sebagai seorang profesional jika sudah lulus. “Kamu justru akan lebih banyak belajar dari klien-klienmu, kalau ada kasus yang sulit, kamu ke Bandung ketemu saya dan kita diskusi”, begitu ucap beliau disebuah kesempatan. Dalam beberapa kesempatan mengikuti pelatihan yang beliau selenggarakan, saya memang sengaja menemuinya untuk lapor, hehehe…khususnya untuk kasus-kasus yang saya pikir berat dan butuh second opinion dalam menanganinya.

Maka begitulah, setelah ijin praktek psikolog saya terbit, saya memberanikan diri ‘nongkrong menunggui lapak saya’, untuk mulai perform dan menari bersama-sama dengan kasus-kasus yang datang. Sampai sekarang pun saya masih terus belajar dari guru-guru, teman-teman, para orang tua, klien-klien dan kasus-kasus yang saya hadapi.

Yang saya tulis disini adalah sebagian kecil dari kasus yang pernah saya hadapi, mewakili kasus lain yang senada. Tidak ada maksud lain selain berbagi kisah saja dan mari belajar bersama-sama, semoga ada lebih banyak manfaat yang bisa diambil dan dipelajari, oleh lebih banyak orang yang tidak punya kesempatan menghadapinya.

BELAJAR DARI ORANG TUA KLIEN TK DAN SD
“Saya katakan jujur pada ibu, memang anak saya sedang mengikuti les calistung secara private, pertimbangan kami tahun depan ingin dia sudah bisa masuk SD, jadi harus disiapkan dari sekarang, selain itu saya pikir adalah manusiawi jika kami membandingkan kemampuan anak kami dengan anak-anak lain seusianya ada yang sudah bisa calistung, tidak masalah jika dia berada di posisi terbawah sekalipun dalam kemampuan itu, yang penting dia bisa”

(Seorang ayah dari anak berusia 5 tahun 4 bulan, dengan kondisi pemahaman anak terhadap bentuk geometris dasar masih kurang, kemampuan membedakan kanan kiri/lateralisasi belum ajeg, pengetahuan terhadap warna masih kurang, info dari guru: di kelas anak sering melamun, hayalannya sangat tinggi dan senang mengarang serta melebih-lebihkan cerita )
“Saya pusing Bu, kadang-kadang saya pikir saya tidak bisa dan sudah gagal menjadi seorang ibu, anak saya sering dibanding-bandingkan dengan sepupunya, dia sudah bisa apa, pialanya udah ada berapa di rumah, saya sering kesal bu, kalo saya kesal kadang anak saya saya marahin, soalnya anak saya itu belum bisa apa-apa bu, huruf aja masih belum hapal, warna juga sama, pernah saya kasih benda-benda warna hijau semua, terus saya tanya mana yang warnanya hijau, dia nggak tau juga, Iqro nya masih iqro satu, saya tidak punya pengetahuan tentang ngurus dan ngajarin anak bagaimana, makanya saya sekolahkan, saya les- kan membaca, guru-guru dan orang di tempat les kan lebih tau bu bagaimana mengajari anak”

(Seorang Ibu dari anak laki-laki berusia 4 tahun 11 bulan, info dari guru, anak ini empatinya sangat tinggi, jika ada teman yang menangis atau dipukul oleh teman yang lain, ia-lah yang menghibur temannya tersebut)

Ya ampun Bu, anak saya itu manja banget, apa karena dia anak bungsu ya, padahal secara akademik saya perhatikan dia lebih pintar dari dua kakaknya, dia bisa baca sendiri lewat main game, lebih cepat bisa bacanya daripada kakak-kakaknya, tapi bu di rumah, semua-semua masih harus dilayani, pake kaos kaki aja masih harus dipakein, baju bekas pake, mainan, buku pelajaran masih harus saya yang ngeberesin, terus itu bu…masih aja gelendotan sama saya kalo kemana-mana, terus kalo udah nggak mau sekolah, saya nggak bisa ngapa-ngapain, pernah udah sampe sekolah nggak mau turun dari mobil, nggak mau sekolah katanya, tapi saya suruh turun bilang sendiri ke gurunya kalo lagi nggak mau sekolah dia mau bu, turun bilang ke gurunya, terus pulang lagi, di rumah padahal nggak ngapa-ngapain bu, ngintilin saya aja terus…beberapa kali bu dia kayak gitu…terus kalo udah nanya…nggak pernah berhenti bu, kalo belum puas terus aja nanya, saya suka mati gaya bu, kalo udah ditanya sama dia…hehehe…”
(Seorang Ibu dari anak perempuan berusia 4 tahun 8 bulan)

Barangkali diantara kita ada yang mengalami masalah yang sama atau mengenal beberapa orang yang punya pengalaman yang sama, menghadapi anak-anak usia prasekolah yang menurut kita “belum bisa apa-apa atau tidak bisa apa-apa”. Kita sering kali tidak menyadari bahwa sesungguhnya anak kita bisa melakukan banyak hal, namun kita terlalu fokus pada apa yang ia tidak bisa. Kita lupa mengapresiasi ketika anak-anak kita bisa bermain dengan teman-temannya, bisa bertingkah laku sopan, murah hati dan mau berbagi kepada orang lain, bisa bermain dengan damai dan menyayangi saudara, binatang atau barang-barang milikinya, bersedia mengantri di tempat main, makan sendiri, bisa membersihkan sendiri ketika ke kamar mandi, mengucap salam ketika masuk ke rumah, mencium tangan orang yang lebih tua, mau shalat jum’at di mesjid dll. Kita lupa mengapresiasi dan mengakui, bahwa mereka bisa melakukan sesuatu yang baik.

Kita cenderung mengabaikan apa yang mereka sudah bisa, dan menganggap bahwa hal itu memang sudah seharusnya mereka lakukan. Kita tidak memandangnya sebagai sebuah kemampuan yang berarti dan pantas dihargai. Padahal, softskill semacam itulah justru keterampilan yang akan mereka gunakan seumur hidupnya. Bekal attitude dan kemampuan yang pada tahap usia berapapun akan sangat mereka butuhkan untuk bisa berhasil dalam hidupnya. Seringkali kita menganggapnya bukan sesuatu yang istimewa dibandingkan bisa membaca dan punya banyak piala.

Dan standar kompetensi pendidikan anak prasekolah, memang bukan tentang kemampuan akademik.

Saya pikir, taman kanak-kanak dan sekolah dasar, mestinya adalah fondasi, sebuah alas, blue print, gambaran awal yang kita siapkan pada anak tentang sekolah dan pendidikan formal. Masih ada belasan tahun ke depan, waktu sekolah yang serius yang harus mereka jalani. Kita ingin anak-anak punya ingatan yang positif dan pengalaman yang menyenangkan tentang sekolah, supaya ketika nanti mereka ‘benar-benar sekolah’, mereka akan happy dan bersemangat menjalaninya.

Jika di TK dan SD anak-anak tidak mendapatkan pengalaman menyenangkan tentang sekolah, justru sekolah dihayati sebagai institusi yang menekan, menakutkan, bikin capek dan membuat malas, lalu bagaimana mereka akan bersemangat dan senang menempuh pendidikan selanjutnya, yang justru lebih penting dalam menentukan kehidupan mereka di masa yang akan datang.

BELAJAR DARI ORANG TUA KLIEN REMAJA

Saya tidak mengerti Bu, anak saya sekarang sulit sekali diatur, apa yang kami ingin dan suruh dia tidak lakukan, apa yang kami larang malah dia lakukan, beberapa kali dia pernah mencuri uang saya, suka berbohong, berhutang pada orang lain, dan pernah dua kali memakai kendaraan tanpa ijin, padahal dia tidak punya SIM, pake motor aja saya larang, ini malah bawa kabur mobil, saya kehabisan cara menghadapinya Bu”
(Seorang ayah, dari anak berusia 15 tahun, kelas 1 SMA)

Cucu saya tidak bisa bergaul, tidak berani pergi kemana-mana, sering dimanfaatkan temannya, study tour tidak pernah ikut karena dia tidak bisa makan sembarangan, ke kamar mandi juga tidak bisa sembarangan, di rumah sering marah-marah nggak jelas, diajak bicara baik-baik tidak bisa, diam saja atau marah-marah dan membentak-bentak, sudah dua minggu ini dia menolak untuk sekolah”
(Seorang kakek dari anak perempuan berusia 14 tahun, kelas 2 SMP)

“Anak saya sudah bolak-balik di panggil guru BK, saya adalah tamu rutin ruang BK Bu, dia sering bolos sekolah, padahal dari rumah dia selalu berangkat tapi sering tidak sampai di sekolah, nyangkut di bengkel, di warnet atau di kantin. Pernah kabur dua kali tidak pulang ke rumah gara-gara motornya saya sita, motornya suka dioprek bu, masih baru diganti ini itu sampe jadi rongsokan, itu dipengaruhi sama gank-nya bu, gank-nya itu remaja yang diatas umurnya dan pengangguran, sekolah nggak, kerja juga nggak. Sekarang saya tahu tempat dia nongkrong dimana aja bu, base camp-nya saya tau, pentolan gank-nya saya tau, saya punya nomer telepon mereka semua, pernah saya datangi dan ancam segala, kalo macem-macem sama anak saya, saya akan lapor polisi, anak saya bukannya takut dan nurut sama saya bu, malah lebih berani lagi, bahkan sekarang sudah berani membentak dan melawan saya jika saya marahi”
(seorang Ibu dari anak laki-laki usia 12 tahun, kelas 1 SMP)

Yang khas dari klien remaja dan orang tua para remaja adalah, pola komunikasi dan pola pendekatan dalam mengasuh mereka. Begitu anak tumbuh dan berkembang, semestinya pola pengasuhan kita pun tumbuh dan berkembang sesuai perkembangan anak-anak. Pola komunikasi yang menuntut, mengarahkan tanpa memberi kebebasan, harus ini harus itu, yang bisa diterima oleh anak-anak diusia yang lebih muda, semestinya berubah menjadi lebih lentur dan luwes ketika mereka beranjak remaja.

Memasuki remaja, ada banyak perubahan drastis pada anak kita, diantara yang paling khas adalah perkembangan dalam kemampuan berpikir dan membuat keputusan, juga tentang bagaimana anak-anak menampilkan dirinya di lingkungan. Anak harus selalu dilibatkan dalam membuat keputusan yang berkaitan dengan kehidupan mereka. Peraturan adalah sesuatu yang harus bisa didiskusikan, termasuk juga dalam menentukan konsekuensi dari pelanggarannya.

Pernah dalam satu sessi konseling saya menghadapi remaja, yang menurut orang tuanya ia bermasalah, namun ia sendiri merasa baik-baik saja.

Klien: “Bu, berapa lama biasanya ibu konseling sama klien ibu?”
Saya: “ tergantung, bisa 1 jam, atau kurang atau maksimal 2 jam, kenapa?”
Klien: “Ya udah bu, saya numpang main game sama baca buku ya disini, ibu kerjain aja kerjaan ibu yang lain, saya nggak akan ganggu ibu, ntar satu jam lagi saya selesai, anggap aja kita udah konseling, gimana bu?”
Saya: “ Oke, sambil ngobrol boleh nggak?”
Klien: “boleh bu”
Saya: “orang tuamu pikir kamu bermasalah dan perlu bantuan saya”
Klien: “Saya pikir orang tua saya yang bermasalah bu, saya mah baik-baik aja, mereka aja yang nggak nyambung sama saya”
Saya: “kalo kamu merasa nyambung sama orang tuamu?”
Klien: “Nggak juga bu, tapi saya biasa-biasa aja, ortu saya nggak ngerti saya bu, tapi bodo amat ah..saya sih asik-asik aja..hehehe…”

Lalu, selama satu jam lebih kami mengobrol sambil melakukan kegiatan kami masing-masing, dan diakhir pembicaraan kemudian, klien remaja saya ini mengucapkan terima kasih karena saya sudah mau mengobrol dengannya, dan membiarkan dia melakukan apa yang ingin dia lakukan di ruang konseling saya.

Remaja memang unik, jika ada yang mengatakan bahwa proses parenting, membesarkan dan mengasuh anak adalah proses wiring, menyambungkan kabel-kabel sistem syaraf otak anak hingga terhubung dengan sempurna di usia 25 tahun, maka menyambungkan kabel syaraf di usia remaja adalah yang proses menyambungkan yang paling kompleks. Secara neurologis, saat remaja inilah otak mengalami ledakan perkembangan yang sangat dahsyat. Ledakan perkembangan otak remaja umumnya mulai di usia 13 tahun dan selesai sempurna di usia 25 tahun. Itu sebabnya remaja tingkah lakunya menjadi sulit ditebak, menentang, mengamuk, marah-marah tidak jelas dan senang melakukan tindakan-tindakan yang beresiko tinggi. Dalam ledakan perkembangan itu otak remaja mengalami pemangkasan sambungan sel sel otak yang tidak perlu, namun juga mengalami penguatan sambungan sel-sel otak yang sering ia pakai.

Proses penyambungan syaraf-syaraf otak ini berlangsung dari bagian belakang otak ke arah depan, berturut-turut mulai dari cerebellum (otak kecil) tempat koordinasi motorik fisik, amygdala tempat pengontrol emosi, nucleus acumbens tempat pengontrol motivasi, dan bagian terdepan yaitu daerah prefrontal cortex, area judgment kemampuan menilai situasi, yang mengontrol reasoning (penalaran) and impulses (dorongan). Area prefrontal cortex ini adalah area yang paling matang belakangan yaitu ketika manusia menginjak 25 tahun. Karena itu, jika remaja tampak kacau, tingkah lakunya menyulitkan, susah dipahami, satu-satunya alasan mengapa mereka seperti itu, ya karena mereka REMAJA. Otaknya ‘salah’. Itu saja. Perkembangan otaknya memang sedang meledak, dimana-mana dan pada peristiwa apa saja jika terjadi sebuah ledakan, tentu ada banyak masalah yang muncul. Begitu pula dalam hidup remaja.

Maka menemani remaja, biasanya menjadi masa paling sulit pada periode pengasuhan, setelah kita mengalami itu juga ketika anak memasuki usia 3 tahun. Ini seperti siklus berulang. Tetapi tenang saja, akan ada masanya periode strum and drung, topan dan badai ini berlalu, lalu mereka akan tumbuh menjadi manusia-manusia yang matang dan bertanggung jawab dalam hidupnya.

Selamat menari bersama anak-anak Bapak Ibu, dan nikmatilah tarian itu pada setiap babak dan episodenya!
Wallahu a’lam bish-shawabi.

family4

Read Full Post »


child abuse4

Sebagai orang tua, kita adalah garis terdepan support system yang dimiliki oleh anak-anak kita. Sehingga menjadi sangat penting bagi kita untuk memiliki saluran komunikasi yang bagus dengan mereka dan memiliki relasi yang dekat berlandaskan rasa saling percaya. Ketika anak-anak (berapapun usia mereka), memiliki permasalahan dalam hidupnya, kita ingin mereka menjadikan kita sebagai orang pertama yang mereka cari, kita ingin mereka merasa nyaman untuk bicara dengan kita sebebas-bebasnya.

Adalah penting juga bagi kita untuk memiliki kemampuan mengindentifikasi atau mengenali saat anak kita sedang bermasalah dengan emosinya. Biasanya anak-anak akan menyimpan sendiri berbagai perasaan ataupun emosi yang sedang mereka rasakan, terutama emosi negatif. Ketika mereka sedang memiliki masalah, biasanya mereka tidak akan bicara atau meminta bantuan. Mereka tidak sadar bahwa sebetulnya mereka punya bantuan yang tersedia, jika mereka membutuhkan. Sehingga, sekali lagi penting bagi orang tua untuk bisa mendeteksi secara dini, ketika terjadi sesuatu pada anak-anaknya dan bagaimana melakukan pendekatan dengan mereka untuk membantunya.

Membuat anak-anak untuk terbuka dan bicara, adalah sesuatu yang sangat menantang, it’s challenging! Banyak orang tua tidak mampu dan merasa gagal untuk mengajak anaknya bicara, dan kemudian harus meminta bantuan orang lain untuk bisa tahu apa yang dirasakan atau diinginkan oleh anaknya.

Dibawah ini terdapat beberapa tips yang bisa membantu untuk memulai pembicaraan dan untuk bisa memahami apa yang terjadi pada mereka.

• Buat mereka merasa aman dan nyaman
Jika ingin membuat mereka bicara, maka kita harus membuat mereka nyaman untuk bicara. Anak-anak perlu tahu mengapa kita ingin bisa bicara dengan mereka, atau mengapa mereka bisa bicara dengan kita, kita tidak akan menghakimi. Tujuan kita bicara dengan mereka adalah untuk memahami, sehingga kemudian bisa membantu. Anak-anak takut sekali jika mereka sudah melakukan kesalahan atau mereka menghadapi masalah yang besar. Mereka takut disalahkan, atau mereka akan dihukum, jika mereka bicara pada kita. Yakinkan pada mereka bahwa bukan itu intinya, dan bukan itu tujuan kita. Kita ada untuk memberi dukungan pada mereka. Bisa juga orang tua, membiasakan untuk berbicara pada anak-anak secara rutin, misal setiap makan siang, atau makan malam, atau saat menemani mereka belajar, atau saat akan mengantarkan anak-anak tidur. Bicarakan berbagai hal secara regular di waktu-waktu tertentu. Sehingga ketika mereka menghadapi masalah mereka sudah biasa bicara secara terbuka.

• Dengarkan mereka
Ini penting, meski simpel, tidak semua orang bisa mendengarkan. Dalam bahasa Inggris, mendengarkan memiliki dua pengertian, hearing dan listening. Meski keduanya memiliki arti sama, yaitu mendengar, tetapi ada perbedaan mendasar dari keduanya. Hearing adalah mendengar secara fisik, berkaitan dengan organ, dalam hal ini telinga. Kita semua bisa hearing jika telinga kita tidak ada masalah dalam fungsinya. Tetapi belum tentu bisa listening. Listening adalah mendengar dengan memahami, memaknai dan memilih respon yang tepat. Tidak semua yang disampaikan anak kita membutuhkan respon yang sama. Ada ungkapan yang bagus sekali untuk hal ini, “people tend to reply when they communicate, instead of understanding”. Ketika berkomunikasi, kita seringkali sibuk dengan ingin segera memberi respon, tanpa berusaha terlebih dahulu memahami. Kita bicara dengan anak kita bukan sekedar untuk merespon mereka, tetapi yang lebih penting adalah untuk memahami mereka.

• Affirmasi dan dukung mereka untuk mendapatkan pertolongan
Ketika anak-anak datang pada kita dan menyampaikan bahwa mereka sedang punya masalah, mereka marah, mereka sedih atau mereka kesal, atau mereka merasa telah melakukan kesalahan yang besar, Peluk mereka. Kemudian sampaikan bahwa kita merasa senang dan bangga, juga berterima kasih karena mereka sudah mau membagi apa yang sedang mereka rasakan ataupun hadapi. Affirmasi yang kita sampaikan, akan membuat mereka merasa diterima. Kita senang dan bangga karena mereka punya keberanian untuk bicara dan mengakui bahwa mereka punya masalah. Kita berterima kasih karena mereka percaya kepada kita, dan mau berbagi masalahnya. Jika kita tidak bisa membantu atau kita pikir mereka membutuhkan bantuan dari orang lain yang lebih ahli, tawarkan pada mereka bantuan tersebut. Bicara dengan guru BK- nya atau menemui psikolog, jika mereka bersedia.

• Tulus
Kendalikan reaksi dan ekspresi kita saat anak-anak sedang bermasalah. Tetapi juga jangan terlalu kaku dan teoritis. Jadilah diri sendiri, sebagai orang tua, kita punya cinta dan kasih sayang yang tidak dimiliki siapapun, termasuk orang yang ahli membantu sekalipun. Jadi bantulah anak kita pertama kali dengan modal yang kita punya, yaitu cinta dan kasih sayang yang tulus. Jika kita terbuka, bersikap apa adanya dan tenang, itu juga akan menenangkan mereka.

Beranilah untuk mengatakan tidak tahu
Sebagai orang tua, adalah wajar jika kita tidak tahu segala hal, atau kita tidak punya jawaban terhadap masalah anak kita. Jika kita tidak punya jalan keluar atau tidak tahu harus berbuat apa, katakan itu pada mereka. Tetapi pada saat yang sama, mereka juga harus tahu bahwa kita akan melakukan berbagai cara untuk mengatasinya, termasuk meminta bantuan ahli misalnya, dan kita akan berada bersama mereka ketika bantuan itu datang.

HATI-HATI DAN WASPADAI TANDA-TANDA KECENDERUNGAN BUNUH DIRI

Tindakan bunuh diri bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk oleh anak-anak dan ini bisa dicegah.Terkadang, anak-anak atau mereka yang sedang memikirkan untuk mengakhiri hidupnya, tanpa sadar atau sengaja, menyampaikan pesan-pesan atau tanda-tanda ingin melakukan hal tersebut. Misal dengan membaca atau memposting berita-berita tentang bunuh diri, memposting status di media sosial mengenai bunuh diri, atau melakukan tingkah laku-tingkah laku seperti orang yang bersiap-siap akan pergi jauh, membagi barang-barang miliknya kepada orang lain, menulis pesan-pesan yang bernada ‘selamat tinggal’ dll.

Dua langkah paling penting dalam mencegah tindakan bunuh diri adalah kenali tanda-tandanya dan segera cari pertolongan. Diantara tanda-tanda peringatan yang harus kita waspadai, adalah mengkonsumsi obat-obatan terlarang, alkohol, atau obat bebas yang dikonsumsi secara berlebihan, menolak sekolah atau prestasi belajar menurun drastis, mengatakan hal-hal yang berkaitan dengan kematian atau melukai diri sendiri. Selalu temani mereka dan jangan biarkan mereka sendiri walaupun sebentar, termasuk saat mereka ke kamar mandi. Segera lakukan pertolongan pertama, jika terlanjur telah terjadi sesuatu dan segera hubungi pihak-pihak yang berkaitan. Bersikaplah tenang.

anak sedih

Sumber: Sebagian besar diambil dari artikel http://www.apa.org/helpcenter/help-kids.aspx, dengan beberapa penambahan

Read Full Post »


sress

Stres merupakan hal yang esensial bagi kehidupan. Tanpa stres tidak ada kehidupan, namun kegagalan dalam mereaksi stressor merupakan pertanda kematian (Hans Selye – peneliti stress sejak 1928)

Definisi Stres
Stres merupakan fenomena psikofisik yang manusiawi, dialami oleh setiap orang dengan tidak mengenal jenis kelamin, usia, kedudukan, jabatan, atau status sosial. Stres dapat memberikan pengaruh positif dan negatif terhadap individu. Secara positif, stres akan mendorong individu untuk waspada, melakukan sesuatu, membangkitkan kesadaran, dan menghasilkan pengalaman baru. Secara negatif, stres akan menimbulkan rasa tidak percaya diri, penolakan, marah, depresi, yang memicu munculnya penyakit seperti sakit kepala, sakit perut, insomnia, tekanan darah tinggi, atau stroke.
Menurut Dadang Hawari (1997 : 44-45), istilah stres tidak dapat dipisahkan dari distress dan depresi karena satu sama lainnya saling terkait. Stres merupakan reaksi fisik terhadap permasalahan hidup, dan apabila fungsi organ tubuh sampai terganggu, dinamakan distress. Sedangkan depresi merupakan reaksi kejiwaan terhadap stressor yang dialaminya.

Gejala Stress
Asosiasi Stres Amerika (American Stress Association), mengindentifikasi ada kurang lebih 50 gejala yang muncul pada seseorang ketika mengalami stres. Diantaranya adalah sebagai berikut:
– Gejala fisik di antaranya seperti gigi gemeletuk, sakit kepala, sakit lambung (maag), hipertensi (darah tinggi), sakit jantung atau jantung berdebar-debar, insomnia, mudah lelah, kurang selera makan, dll.
– Gejala psikis dari stres meliputi gelisah atau cemas, sulit berkonsentrasi, sikap apatis, sikap pesimis, hilang rasa humor, sering melamun, bersikap agresif, dll. Gejala-gejala tersebut kecenderungan awal dari seseorang yang mengalami stres dalam hidupnya

Sumber Stres

sources-of-stress

Dinamika Stres

brain lopp stress

Tahap Reaksi terhadap Stres
1. Reaksi alarm –> Terjadi ketika individu merasakan adanya ancaman, yang kemudian meresponsnya dengan fight atau flight
2. Resistensi/ bertahan –>Terjadi apabila stres itu berkelanjutan, terjadi perubahan fisiologis yang mengimbangi sebagai upaya mengatasi ancaman
3. Exhaustion/Kelelahan –>Terjadi apabila stres terus berkelanjutan di atas periode waktu tertentu, sehingga organisme mengalami sakit.

Dampak Stres Secara Fisiologis
1. Sistem Syaraf
Sistem syaraf simpatetik memberi sinyal kepada kelenjar adrenal untuk melepaskan hormon adrenalin & cortisol –> detak jantung lebih cepat, tekanan darah meningkat, proses pencernaan terganggu dan jumlah glukosa dalam darah meningkat tajam –> jika bisa diatasi maka sistem tubuh secara keseluruhan akan normal kembali.
2. Otot/persendian dan rangka tubuh
Pada saat stress, otot menjadi lebih tegang. Kontraksi otot yang sering dan periodik akan memicu rasa sakit kepala, migrain dan kondisi lainnya.
3. Sistem Pernafasan
Stres dapat membuat kita bernafas lebih cepat dan lebih berat –> hiperventilasi, yang dapat membuat seseorang mengalami serangan kepanikan
4. Sistem peredaran darah
Stres yang sifatnya sebentar, seperti saat terjebak macet, akan meningkatkan detak jantung dan membuat kontraksi yang lebih kuat pada otot-otot tubuh. Pembuluh darah yang mengalirkan darah ke otot-otot besar dan ke jantung, akan meningkatkan jumlah darah yang dipompakan ke bagian tubuh tersebut. Pada kondisi stres berat yang terjadi secara berulang akan menyebabkan peradangan pada arteri koroner, yang bisa menyebabkan seseorang mengalami serangan jantung.

5. Endokrin/kumpulan kelenjar & organ penghasil hormon.
Kelenjar Adrenal
Ketika tubuh kita merasa stres, maka otak akan mengirim sinyal dari hypothalamus sehingga menyebabkan cortex adrienal untuk menghasilkan hormon cortisol, dan adrenal medulla menghasilkan epinephrine –> keduanya disebut sebagai hormon stres
Liver
Ketika cortisol dan ephinephrine dilepas, maka liver akan menghasilkan lebih banyak glukosa/gula darah yang akan memberi kita energi untuk melawan (fight) atau menghindar/pergi (flight)
6. Gastrointestinal/ sistem pencernaan
Kerongkongan
stres bisa membuat seseorang menjadi lebih banyak makan atau sebaliknya. Stres juga bisa membuat seorang perokok menambah jumlah rokok yang dikonsumsinya, begitu pula pada peminum minuman keras. Hal ini akan membuat seseorang mengalami rasa panas diperut, atau asam lambung meningkat tajam.
Perut
Perut bisa bereaksi seperti ada ‘kupu-kupu’ didalamnya, atau merasa mual juga sakit
Usus Besar
Stres bisa membuat sistem pencernaan bekerja lebih cepat dan makanan yang kita makan terserap lebih cepat. Hal ini kadang membuat seseorang mengalami diare atau konstipasi.
6. Sistem reproduksi
Pada laki-laki, jumlah kortisol yang berlebihan diproduksi pada saat stres dapat mempengaruhi fungsi normal sistem reproduksinya. Stres yang akut bisa merusak testosteron dan produksi sperma dan bisa menyebabkan impotensi.
Pada perempuan, stres bisa membuatnya tidak mengalami menstruasi atau jadwal menstruasi menjadi terganggu. Atau bisa juga membuat rasa sakit yang diderita selama menstruasi menjadi lebih kuat. Bisa juga membuatnya kehilangan keinginan seksual

Manajemen Stress

stress-reducing-methods
Saat tubuh menunjukkan gejala-gejala awal yang menandakan kita mengalami stres, maka lakukan hal ini:
1. Relaks,  tarik nafas, dengarkan musik, meditasi, ibadah.
2. Olahraga –> tubuh yang stres, perlu pasokan oksigen dan darah yang lancar, maka olahraga akan membantu otak mendapat suplai keduanya dengan lancar.
3. Lakukan Hobby atau kegiatan yang diminati
4. Kelola hidup dan waktu –> kenali apa yg bisa memicu stres, hindari, kelola waktu dengan tidak menumpuk pekerjaan/masalah dll untuk diselesaikan di waktu yang bersamaan/sempit/mepet
5. Bersyukur –> semua orang punya ujian dan masalah sesuai dengan kemampuan masing-masing, hindari membandingkan diri dengan orang lain, syukuri dan nikmati pemberian dari Tuhan, karena Tuhan tidak pernah salah (memberi jodoh, memberi rejeki, memberi fisik, kemampuan dll)
6. Kembali ke alam  –> nikmati suasana, ganti suasana, liburan, tinggalkan gadget sejenak, yoga, dll
7. Terapi –> tergantung pada seberapa parah dan apa penyebabnya/akarnya

Read Full Post »


Sudahlah….stop-bullying-logo

Hari itu Selasa, sekitar jam 1 siang, anak bungsu saya (Adik, 6 th, kelas 1 SD), pulang ke rumah dalam keadaan menangis digendong oleh ayah. Ada apa? tanya saya, anak kecil saya itu hanya menangis dan kemudian pindah ke gendongan saya, karena ayahnya harus kembali ke kantor untuk bekerja, Saya belum sempat bicara banyak dengan ayahnya.

Setelah tenang dan tangisnya reda, serta berganti baju, Ia  bercerita pada saya, bahwa tadi di sekolah ia “dinakalin” oleh anak kelas V. Ia bercerita bahwa setelah shalat dzuhur, ketika akan keluar dari masjid, ia ditahan oleh seorang anak kelas V, dan kemudian  anak itu melakukan gerakan seperti menodongkan senjata dengan menggunakan jarinya ke kepala  Adik  dan kemudian menyusuri motif tribal dipotongan rambut Adik  dengan jari telunjuknya, sementara kemudian ada satu anak  lagi berdiri dibelakang Adik sambil melakukan gerakan seperti memukul-mukul gendang ke kepala Adik, meskipun tidak kena kepala. Ketika Adik  akan memalingkan wajahnya untuk menghindar, salah satu dari keduanya melarang dengan menahan wajah Adik agar ia tidak berpaling. Yang dilakukan anak saya hanya diam berdiri menundukkan wajahnya, sambil menahan tangis karena ketakutan. Setelah keluar dari masjid ia berjalan ke arah mobil yang terparkir tidak jauh dari situ dimana ayah menunggu disana. Sesampainya di mobil, barulah tangisnya meledak, hingga ia sampai digendongan saya di rumah.

Kejadian ini terlihat oleh ayah yang memang sudah menunggu tidak jauh dari masjid, dari sejak Adik  wudlu. Semula ayah tidak mau ikut campur, dan ingin melihat reaksi Adik,  jika ia bisa mengatasi dan baik-baik saja, ayah  tidak akan melakukan apapun, tetapi demi melihat anak kami  menahan tangis sejak di masjid dan kemudian meledak di mobil, ayahpun turun dan menegur kedua anak tadi. Ayah bilang pada mereka, “kalau mau bercanda seperti itu, bercanda dengan teman seusia dan jangan dengan anak kelas satu, kalau terjadi sesuatu pada anak saya, saya sudah menandai kalian”. Ibu Guru kelas V yang kemudian datang mengajak  ayah untuk meluruskan masalah tersebut dengan melakukan rapat, tapi ayah menolak karena harus kembali ke kantor dan Adik masih menangis di mobil.

Tidak lama setelah ayah mengantar Adik ke rumah dan kembali ke kantor, guru kelas 1 (wali kelas Adik) menelepon dan menanyakan keadaan Adik kepada saya, saya katakan bahwa ia baru saja tenang dan berhenti menangis, Ibu guru meminta maaf, menjelaskan sekaligus bertanya tentang kejadiannya menurut versi Adik dari saya, dan kemudian meminta bicara dengannya,  dan Ayah, tetapi karena ayah sudah berangkat kerja lagi, ibu guru  tidak bisa bicara dengan Ayah. Agak Sore, Pak satpam sekolah meminta no telepon Ayah dan saya berikan. Sore itu di rumah, saya bicara dengan kedua anak saya ,  (Adik, dan kakaknya, siswa  kelas IV) bahwa apa yang dilakukan anak kelas V itu tidak baik, jika ia memang tertarik dengan motif tribal dipotongan rambut Adik  serta ingin menyentuhnya, ia harus meminta ijin dulu kepada Adik.  Itu yang namanya menghargai orang lain, dan menghormati tubuh orang lain, karena kita tidak bisa seenaknya menyentuh bagian tubuh orang tanpa ijin. Jika Adik mengijinkan kakak kelas V itu menyentuh rambut dan kepala Adik,  baru ia bisa melakukannya, tetapi kalau Adik  tidak mengijinkan, maka ia tidak boleh menyentuh Adik. Kepada Kakak  saya katakan, sebagai kakak ia harus belajar untuk melindungi adiknya, untuk itulah mereka saya sekolahkan di sekolah yang sama agar bisa saling menjaga. Anak-anak mengerti, dan Adik sudah lebih tenang. Ia pun tetap bersedia berangkat sekolah besok (saya bersyukur, karena dibalik tubuhnya yang kecil, ia ternyata cukup mampu menghadapi masalah ini, karena terus terang saja, saya, ayah, dan ibu gurunya pun mengkhawatirkan Adik akan mogok dan menolak sekolah besok karena kejadian ini. Alhamdulillaah…)

Rabu pagi sekitar jam 6, Ibu guru kelas I menelepon jika memungkinkan ingin bicara dengan Ayah, karena siswa kelas V yang kemarin ditegur ayah, juga menangis dan orang tuanya tidak terima serta meminta penjelasan. Ayah bersedia menemui pada saat menjemput anak-anak. Pertemuan pertama ayah hanya bertemu dengan wali kelas Adik  dan kepala sekolah. Lucunya, respon yang disampaikan pihak sekolah untuk masalah ini adalah Adik  harus merapikan rambutnya, dan menghilangkan motif tribal dipotongan rambutnya. Hiks! secara pribadi buat saya, opsi ini sangat tidak elegan dan tidak  nyambung. Masalahnya ada di orang lain, kok malah rambut Adik yang dipersoalkan. Whatever lah!

Sorenya, pihak sekolah kembali menelepon, mengatakan bahwa orang tua anak kelas V yang kemarin membully Adik  ingin melakukan ishlah. Ayahpun kembali ke sekolah dan menemui kedua orang tua tadi, ada kepala sekolah juga, serta salah seorang guru olah raga.  Lucunya lagi, ketika ayah datang,  (orang tua kelas V ini datang dengan mobil mewahnya…sementara ayah yang cuek datang dengan vespa bututnya), membuka pembicaraan dengan membawa-bawa UU perlindungan anak…bla..bla..bla…dan menyatakan bahwa teguran yang diberikan ayah pada anaknya telah membuat anaknya ketakutan…(haloooo…lalu apa yang dilakukan anaknya terlebih dahulu pada anak kecil saya? please deh…). Ayah pun menjelaskan kejadian yang memang disaksikannya, dan mengapa ayah bereaksi demikian pada anak kelas V tersebut. Lucunya lagi, pada akhirnya ayah si anak kelas V, malah mengatakan bahwa apa yang dilakukan anaknya pada Adik  adalah karena dia tertarik dengan motif dipotongan rambut Adik yang unik (kok sekolah malah lain pendapatnya ya…hehehe) dan bahwa anaknya bukan anak nakal atau anak yang suka macam-macam….case closed! Ishlah pun tercapai. Anggap saja masalah ini selesai.

Tapi saya merasa ada yang salah dari peristiwa ini. Semula saya sendiri bingung  dibagian mana salahnya. Ternyata kemudian, saya menyadari, yang mengusik pemikiran saya dari kejadian ini adalah, solusi atau problem solving yang diambil pihak sekolah. Kejadian seperti ini, sebetulnya pernah terjadi pada anak pertama saya. Ketika dia duduk kelas 2 dulu. Pernah terjadi saat shalat jum’at, sebagian anak-anak shalat sambil bercanda. Kemudian anak-anak yang bercanda ini, (anak pertama saya salah satu diantaranya), dihukum oleh gurunya dengan “dijitak” kepalanya oleh anak-anak lain seluruh jama’ah shalat jum’at yang tidak bercanda. (Whats?…keren kan hukumannya…hiks…hiks…hiks…)

Tentu saja hukuman ini menuai protes para orang tua dan hampir dibawa ke media, namun bisa diselesaikan dengan beberapa kemufakatan. Ini menariknya, solusi yang diambil sekolah setelah kejadian ini adalah…anak kelas 1-3 tidak diwajibkan shalat jum’at di sekolah, yang wajib shalat jum’at di sekolah hanya siswa kelas tinggi saja, karena takut tidak bisa diatur kalau anak-anak kelas rendah ikut shalat jum’at.  See…dari dua kejadian ini, yang kebetulan anak saya ada didalamnya….pikiran saya kok terusik ya…pola problem solving sekolah, selalu kurang sophisticated …apa ya….tidak out of the box- lah, reaktif dan dangkal. Terkesan, penyelesaian yang diambil hanya bertujuan untuk menghindar agar tidak timbul masalah serupa dikemudian hari, dan bukan bagaimana mengelola atau mengajarkan anak-anak untuk tertib ketika shalat berjamaah dari mulai kecil (kelas 1), dan untuk belajar menghargai tubuh atau orang lain. Sepertinya pihak sekolah tidak ingin mendapat tambahan tugas untuk mengembangkan attitude atau sikap anak, baik ketika berhubungan dengan Tuhannya maupun ketika berada diantara sesama manusia. Entahlah. Wallahu’alam bishshawab.

Tulisan khusus yang secara spesifik membahas mengenai bullying silahkan cek di nsholihat.wordpress.com/ Bullying oh bullying.

stop bullying tikus

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: