Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Tentang Orang Tua’ Category


saver community

Setelah sebelumnya sempat ramai perang antar ibu, yang mempertentangkan antara ibu bekerja (working mom) dan ibu rumah tangga (full time mom), kini muncul perang baru yang mempertentangkan antara ibu penerima metode bentak dan marah dan ibu penolak metode bentak dan marah dalam proses pengasuhan anak.

Untuk mengingatkan saja, barangkali ada diantara kita yang sempat mem-post-ing atau men-share-ing link dari sebuah laman facebook tentang kerusakan yang akan dialami otak anak dari sebuah bentakan orang tuanya? Nah setelah artikel itu bergulir secara bebas di media sosial dan dibagikan secara masif dan terstruktur (hehehe lebay banget!) di laman fb masing-masing ibu, ternyata melahirkan reaksi yang menarik dari kelompok ibu yang lain.

Muncullah kemudian, kelompok ibu-ibu yang membagikan tulisan melalui media sosial juga, yang intinya menyuarakan pendapat bahwa seorang ibu berhak dan pantas marah, bahkan melakukan kekerasan pada anaknya jika anaknya bertingkah laku negatif, sulit diatur dll, dengan menyitir sebuah hadist tentang diperbolehkannya orang tua memukul anaknya yang telah berusia 10 tahun dan tidak mau sholat. Untuk memperkuat alasan dan latar belakang mengapa sampai seorang ibu perlu membentak, memukul, bahkan digambarkan konflik dan sulitnya menjadi seorang ibu yang berjuang membesarkan dan mendidik anak dengan berbagai masalah dan tantangannya dengan sangat detail dan menyentuh. Namun demikian, artikel itu diakhiri dengan mengatakan bahwa mereka pun setelah berlaku keras pada anaknya, pasti merasa bersalah, bahkan menangis sambil memeluk anaknya, dan kemudian meminta maaf. Pertanyaan saya, kalau memang tahu itu salah, lalu mengapa masih melakukannya dan menganggap bahwa melakukan kekerasan pada anak adalah boleh?

Tidak mudah menjadi seorang ibu, ini adalah pekerjaan terberat dan tersulit di dunia menurut saya. Tidak ada satu metode pengasuhan yang berlaku umum dan sukses diterapkan pada semua situasi, ketika kita berhadapan dengan seorang anak, apalagi banyak anak. Bahkan perlu banyak metode dan pendekatan yang harus dikombinasikan untuk bisa berhasil dalam membiasakan 1 tingkah laku baik pada anak atau hanya untuk mengurangi 1 saja tingkah laku negatifnya. Apalagi untuk mengasuh dan membesarkannya secara umum. Mengasuh dan membesarkan anak ganjarannya surga, maka pasti tidak mudah melakukannya. Diantara banyak metode pengasuhan anak, saya tetap memilih dan menganjurkan, untuk tidak menggunakan metode membentak dan memukul sebagai salah satu caranya. Ini diantara alasannya.

Dalam sebuah sesi konseling, seorang ibu membawa anak laki-lakinya yang berusia 10 tahun, kelas 4 SD. Ibu ini menerima saran dari kepala sekolah anaknya untuk membawa anaknya ke psikolog, karena dia baru memukul temannya, dan mengakibatkan temannya itu harus menerima 8 jahitan di kepalanya. Permintaan ibunya pada saya adalah, tolong anak saya diterapi karena ini kali kedua anaknya melukai orang lain yang mengakibatkan luka serius pada orang yang dilukainya, dan sudah sering terlibat pertengkaran dengan teman-teman sekolahnya. Anak ini badannya besar sekali, bahkan lebih besar dari saya. Yang membuat ia memukul temannya adalah, karena ada teman yang duduk di belakangnya, berbisik-bisik ke teman yang lain saat ia lewat, dan mengatakan, “beruang”. Ia pikir, temannya itu mengejeknya dengan mengatakan bahwa ia beruang.

Setelah mengobrol dan mendapat informasi dari anak dan Ibu, here are the story.

Anak ini hingga usia 3 tahun dibesarkan oleh ibu saja, single parent. Dengan kondisi single parent, ibu mengakui bahwa terkadang hidup dirasa sangat sulit dan secara emosi Ia sering lepas kontrol, namun tidak pernah menyakiti secara fisik, hanya suka membentak saja. Beberapa bulan setelah ulang tahun anak lelakinya yang ke-3. Ibu menikah lagi. Dan kemudian melahirkan anak perempuan. Perangai ayah kepada anak laki-lakinya kemudian berubah. Menjadi keras, mudah memukul, terutama jika ia ‘mengganggu’ adiknya dan membuat adiknya rewel. Mencubit, menjewer, bahkan menampar dan menghukum kurung di kamar mandi adalah biasa. Ibu tidak bisa berbuat apa-apa, karena merasa terjepit. Terkadang juga ikut memarahi dan membentak.

Saya tanya pada anak ini tentang ibunya, jawabnya adalah “aku sayang mama, walaupun mama suka marahin aku.”

Ketika saya tanya apa yang ia pikirkan tentang ayahnya, jawabannya adalah “aku ngebayangin bu, aku ikat tali yang halus, mungkin benang layangan warnanya bening, yang satu di kaki kursi di ruang tivi, terus yang satu lagi di kaki kursi meja makan, kenceng banget aku ngiketnya. Terus papa lewat situ nggak liat ada tali, terus kakinya kesangkut, dia jatuh ke lantai kepalanya bocor sampai berdarah. Aku suka bu bayangin itu kalo papa lagi pukulin aku”

Saya sampaikan pada ibunya, apa yang dikatakan anaknya, Ibunya menangis berlinang air mata.

Ibunya bertanya, “bisakah dengan terapi atau alat permainan apa anaknya menjadi tidak mudah marah dan tidak suka memukul”?

Saya katakan saya bisa membantu melatihnya untuk mengelola emosi, belajar mengekspresikan marah dengan cara yang baik dan tidak mencelakai orang lain, tetapi tetap tidak akan efektif jika pola pengasuhan di rumah tidak di ubah.

Tidak ada alat bermain atau alat terapi yang bisa mengubahnya. Ubah pola pengasuhan anak di rumah, maka anak akan berubah. Ibu kembali berlinang air mata.

Untuk menghibur ibu, saya katakan, bagaimana jika mereka sekeluarga sering bermain bersama, misalnya main ular tangga, ludo, monopoli, atau halma (hadeuh jadul pisan ya!) atau permainan lainnya (yang lebih kekinian), dengan bahagia, dan tidak ada kekerasan baik lisan maupun fisik kepada anaknya, cobalah satu minggu saja. Jika berhasil lakukan terus secara rutin. Kemudian ibu buktikan, apakah alat ini bisa mengubah tingkah laku negatif anak atau tidak. Ibu tersenyum.

Yang menjadi concern dan kekhawatiran utama saya adalah, jika kita memberlakukan kekerasan di rumah pada anak, ia bisa melakukan hal yang sama di luar rumah, kepada orang lain. Karena ia menganggap, melakukan kekerasan adalah boleh, salah satu cara untuk menyelesaikan masalah, atau untuk mendapatkan apa yang ia mau. Padahal jika anak sudah di luar rumah, dengan berbagai stimulus yang menghampirinya, dan tidak bisa kita kontrol, maka satu-satunya cara bertindak yang akan ia lakukan adalah cara bertindak yang menurut dia berhasil mengendalikannya, yang ia pelajari dari rumahnya. Jika Bapak/ibu berpikir dan punya pengalaman bahwa baru setelah dibentak dan dikerasi anak bisa dikendalikan, maka begitu jugalah cara anak kita berpikir. Yakinkah Bapak/Ibu ingin mewarisi pemikiran dan kebiasaan tersebut pada anak-anak?

Diakhir pembicaraan, saat saya tanya mau kesini lagi gak, anak ini menjawab dengan riangnya, “gak ah Bu Neni mah kepmal, alias kepo maksimal!”

Bwhehehe…what a sweet boy.

Wallahu a’lam bish showab.

Tulisan lain yang terkait bisa dilihat di https://nsholihat.wordpress.com/2012/07/31/pukul-aku-maka-aku-akan-belajar-memukul atau https://nsholihat.wordpress.com/2012/08/08/bullying-oh-bullying

Read Full Post »


family2

Bulan Februari kemarin, adalah 5th anniversary saya menjadi seorang psikolog, dan memberanikan diri terjun di dunia profesional sebagai praktisi psikolog. Belum banyak keterampilan dan pengetahuan saya sesungguhnya ketika mulai menceburkan diri di dunia profesi psikologi, tetapi seorang dosen saya yang sangat saya hormati, beliau juga salah satu pembimbing thesis saya, terus menyemangati dan ‘ngomporin’ untuk berani melakukan praktek sebagai seorang profesional jika sudah lulus. “Kamu justru akan lebih banyak belajar dari klien-klienmu, kalau ada kasus yang sulit, kamu ke Bandung ketemu saya dan kita diskusi”, begitu ucap beliau disebuah kesempatan. Dalam beberapa kesempatan mengikuti pelatihan yang beliau selenggarakan, saya memang sengaja menemuinya untuk lapor, hehehe…khususnya untuk kasus-kasus yang saya pikir berat dan butuh second opinion dalam menanganinya.

Maka begitulah, setelah ijin praktek psikolog saya terbit, saya memberanikan diri ‘nongkrong menunggui lapak saya’, untuk mulai perform dan menari bersama-sama dengan kasus-kasus yang datang. Sampai sekarang pun saya masih terus belajar dari guru-guru, teman-teman, para orang tua, klien-klien dan kasus-kasus yang saya hadapi.

Yang saya tulis disini adalah sebagian kecil dari kasus yang pernah saya hadapi, mewakili kasus lain yang senada. Tidak ada maksud lain selain berbagi kisah saja dan mari belajar bersama-sama, semoga ada lebih banyak manfaat yang bisa diambil dan dipelajari, oleh lebih banyak orang yang tidak punya kesempatan menghadapinya.

BELAJAR DARI ORANG TUA KLIEN TK DAN SD
“Saya katakan jujur pada ibu, memang anak saya sedang mengikuti les calistung secara private, pertimbangan kami tahun depan ingin dia sudah bisa masuk SD, jadi harus disiapkan dari sekarang, selain itu saya pikir adalah manusiawi jika kami membandingkan kemampuan anak kami dengan anak-anak lain seusianya ada yang sudah bisa calistung, tidak masalah jika dia berada di posisi terbawah sekalipun dalam kemampuan itu, yang penting dia bisa”

(Seorang ayah dari anak berusia 5 tahun 4 bulan, dengan kondisi pemahaman anak terhadap bentuk geometris dasar masih kurang, kemampuan membedakan kanan kiri/lateralisasi belum ajeg, pengetahuan terhadap warna masih kurang, info dari guru: di kelas anak sering melamun, hayalannya sangat tinggi dan senang mengarang serta melebih-lebihkan cerita )
“Saya pusing Bu, kadang-kadang saya pikir saya tidak bisa dan sudah gagal menjadi seorang ibu, anak saya sering dibanding-bandingkan dengan sepupunya, dia sudah bisa apa, pialanya udah ada berapa di rumah, saya sering kesal bu, kalo saya kesal kadang anak saya saya marahin, soalnya anak saya itu belum bisa apa-apa bu, huruf aja masih belum hapal, warna juga sama, pernah saya kasih benda-benda warna hijau semua, terus saya tanya mana yang warnanya hijau, dia nggak tau juga, Iqro nya masih iqro satu, saya tidak punya pengetahuan tentang ngurus dan ngajarin anak bagaimana, makanya saya sekolahkan, saya les- kan membaca, guru-guru dan orang di tempat les kan lebih tau bu bagaimana mengajari anak”

(Seorang Ibu dari anak laki-laki berusia 4 tahun 11 bulan, info dari guru, anak ini empatinya sangat tinggi, jika ada teman yang menangis atau dipukul oleh teman yang lain, ia-lah yang menghibur temannya tersebut)

Ya ampun Bu, anak saya itu manja banget, apa karena dia anak bungsu ya, padahal secara akademik saya perhatikan dia lebih pintar dari dua kakaknya, dia bisa baca sendiri lewat main game, lebih cepat bisa bacanya daripada kakak-kakaknya, tapi bu di rumah, semua-semua masih harus dilayani, pake kaos kaki aja masih harus dipakein, baju bekas pake, mainan, buku pelajaran masih harus saya yang ngeberesin, terus itu bu…masih aja gelendotan sama saya kalo kemana-mana, terus kalo udah nggak mau sekolah, saya nggak bisa ngapa-ngapain, pernah udah sampe sekolah nggak mau turun dari mobil, nggak mau sekolah katanya, tapi saya suruh turun bilang sendiri ke gurunya kalo lagi nggak mau sekolah dia mau bu, turun bilang ke gurunya, terus pulang lagi, di rumah padahal nggak ngapa-ngapain bu, ngintilin saya aja terus…beberapa kali bu dia kayak gitu…terus kalo udah nanya…nggak pernah berhenti bu, kalo belum puas terus aja nanya, saya suka mati gaya bu, kalo udah ditanya sama dia…hehehe…”
(Seorang Ibu dari anak perempuan berusia 4 tahun 8 bulan)

Barangkali diantara kita ada yang mengalami masalah yang sama atau mengenal beberapa orang yang punya pengalaman yang sama, menghadapi anak-anak usia prasekolah yang menurut kita “belum bisa apa-apa atau tidak bisa apa-apa”. Kita sering kali tidak menyadari bahwa sesungguhnya anak kita bisa melakukan banyak hal, namun kita terlalu fokus pada apa yang ia tidak bisa. Kita lupa mengapresiasi ketika anak-anak kita bisa bermain dengan teman-temannya, bisa bertingkah laku sopan, murah hati dan mau berbagi kepada orang lain, bisa bermain dengan damai dan menyayangi saudara, binatang atau barang-barang milikinya, bersedia mengantri di tempat main, makan sendiri, bisa membersihkan sendiri ketika ke kamar mandi, mengucap salam ketika masuk ke rumah, mencium tangan orang yang lebih tua, mau shalat jum’at di mesjid dll. Kita lupa mengapresiasi dan mengakui, bahwa mereka bisa melakukan sesuatu yang baik.

Kita cenderung mengabaikan apa yang mereka sudah bisa, dan menganggap bahwa hal itu memang sudah seharusnya mereka lakukan. Kita tidak memandangnya sebagai sebuah kemampuan yang berarti dan pantas dihargai. Padahal, softskill semacam itulah justru keterampilan yang akan mereka gunakan seumur hidupnya. Bekal attitude dan kemampuan yang pada tahap usia berapapun akan sangat mereka butuhkan untuk bisa berhasil dalam hidupnya. Seringkali kita menganggapnya bukan sesuatu yang istimewa dibandingkan bisa membaca dan punya banyak piala.

Dan standar kompetensi pendidikan anak prasekolah, memang bukan tentang kemampuan akademik.

Saya pikir, taman kanak-kanak dan sekolah dasar, mestinya adalah fondasi, sebuah alas, blue print, gambaran awal yang kita siapkan pada anak tentang sekolah dan pendidikan formal. Masih ada belasan tahun ke depan, waktu sekolah yang serius yang harus mereka jalani. Kita ingin anak-anak punya ingatan yang positif dan pengalaman yang menyenangkan tentang sekolah, supaya ketika nanti mereka ‘benar-benar sekolah’, mereka akan happy dan bersemangat menjalaninya.

Jika di TK dan SD anak-anak tidak mendapatkan pengalaman menyenangkan tentang sekolah, justru sekolah dihayati sebagai institusi yang menekan, menakutkan, bikin capek dan membuat malas, lalu bagaimana mereka akan bersemangat dan senang menempuh pendidikan selanjutnya, yang justru lebih penting dalam menentukan kehidupan mereka di masa yang akan datang.

BELAJAR DARI ORANG TUA KLIEN REMAJA

Saya tidak mengerti Bu, anak saya sekarang sulit sekali diatur, apa yang kami ingin dan suruh dia tidak lakukan, apa yang kami larang malah dia lakukan, beberapa kali dia pernah mencuri uang saya, suka berbohong, berhutang pada orang lain, dan pernah dua kali memakai kendaraan tanpa ijin, padahal dia tidak punya SIM, pake motor aja saya larang, ini malah bawa kabur mobil, saya kehabisan cara menghadapinya Bu”
(Seorang ayah, dari anak berusia 15 tahun, kelas 1 SMA)

Cucu saya tidak bisa bergaul, tidak berani pergi kemana-mana, sering dimanfaatkan temannya, study tour tidak pernah ikut karena dia tidak bisa makan sembarangan, ke kamar mandi juga tidak bisa sembarangan, di rumah sering marah-marah nggak jelas, diajak bicara baik-baik tidak bisa, diam saja atau marah-marah dan membentak-bentak, sudah dua minggu ini dia menolak untuk sekolah”
(Seorang kakek dari anak perempuan berusia 14 tahun, kelas 2 SMP)

“Anak saya sudah bolak-balik di panggil guru BK, saya adalah tamu rutin ruang BK Bu, dia sering bolos sekolah, padahal dari rumah dia selalu berangkat tapi sering tidak sampai di sekolah, nyangkut di bengkel, di warnet atau di kantin. Pernah kabur dua kali tidak pulang ke rumah gara-gara motornya saya sita, motornya suka dioprek bu, masih baru diganti ini itu sampe jadi rongsokan, itu dipengaruhi sama gank-nya bu, gank-nya itu remaja yang diatas umurnya dan pengangguran, sekolah nggak, kerja juga nggak. Sekarang saya tahu tempat dia nongkrong dimana aja bu, base camp-nya saya tau, pentolan gank-nya saya tau, saya punya nomer telepon mereka semua, pernah saya datangi dan ancam segala, kalo macem-macem sama anak saya, saya akan lapor polisi, anak saya bukannya takut dan nurut sama saya bu, malah lebih berani lagi, bahkan sekarang sudah berani membentak dan melawan saya jika saya marahi”
(seorang Ibu dari anak laki-laki usia 12 tahun, kelas 1 SMP)

Yang khas dari klien remaja dan orang tua para remaja adalah, pola komunikasi dan pola pendekatan dalam mengasuh mereka. Begitu anak tumbuh dan berkembang, semestinya pola pengasuhan kita pun tumbuh dan berkembang sesuai perkembangan anak-anak. Pola komunikasi yang menuntut, mengarahkan tanpa memberi kebebasan, harus ini harus itu, yang bisa diterima oleh anak-anak diusia yang lebih muda, semestinya berubah menjadi lebih lentur dan luwes ketika mereka beranjak remaja.

Memasuki remaja, ada banyak perubahan drastis pada anak kita, diantara yang paling khas adalah perkembangan dalam kemampuan berpikir dan membuat keputusan, juga tentang bagaimana anak-anak menampilkan dirinya di lingkungan. Anak harus selalu dilibatkan dalam membuat keputusan yang berkaitan dengan kehidupan mereka. Peraturan adalah sesuatu yang harus bisa didiskusikan, termasuk juga dalam menentukan konsekuensi dari pelanggarannya.

Pernah dalam satu sessi konseling saya menghadapi remaja, yang menurut orang tuanya ia bermasalah, namun ia sendiri merasa baik-baik saja.

Klien: “Bu, berapa lama biasanya ibu konseling sama klien ibu?”
Saya: “ tergantung, bisa 1 jam, atau kurang atau maksimal 2 jam, kenapa?”
Klien: “Ya udah bu, saya numpang main game sama baca buku ya disini, ibu kerjain aja kerjaan ibu yang lain, saya nggak akan ganggu ibu, ntar satu jam lagi saya selesai, anggap aja kita udah konseling, gimana bu?”
Saya: “ Oke, sambil ngobrol boleh nggak?”
Klien: “boleh bu”
Saya: “orang tuamu pikir kamu bermasalah dan perlu bantuan saya”
Klien: “Saya pikir orang tua saya yang bermasalah bu, saya mah baik-baik aja, mereka aja yang nggak nyambung sama saya”
Saya: “kalo kamu merasa nyambung sama orang tuamu?”
Klien: “Nggak juga bu, tapi saya biasa-biasa aja, ortu saya nggak ngerti saya bu, tapi bodo amat ah..saya sih asik-asik aja..hehehe…”

Lalu, selama satu jam lebih kami mengobrol sambil melakukan kegiatan kami masing-masing, dan diakhir pembicaraan kemudian, klien remaja saya ini mengucapkan terima kasih karena saya sudah mau mengobrol dengannya, dan membiarkan dia melakukan apa yang ingin dia lakukan di ruang konseling saya.

Remaja memang unik, jika ada yang mengatakan bahwa proses parenting, membesarkan dan mengasuh anak adalah proses wiring, menyambungkan kabel-kabel sistem syaraf otak anak hingga terhubung dengan sempurna di usia 25 tahun, maka menyambungkan kabel syaraf di usia remaja adalah yang proses menyambungkan yang paling kompleks. Secara neurologis, saat remaja inilah otak mengalami ledakan perkembangan yang sangat dahsyat. Ledakan perkembangan otak remaja umumnya mulai di usia 13 tahun dan selesai sempurna di usia 25 tahun. Itu sebabnya remaja tingkah lakunya menjadi sulit ditebak, menentang, mengamuk, marah-marah tidak jelas dan senang melakukan tindakan-tindakan yang beresiko tinggi. Dalam ledakan perkembangan itu otak remaja mengalami pemangkasan sambungan sel sel otak yang tidak perlu, namun juga mengalami penguatan sambungan sel-sel otak yang sering ia pakai.

Proses penyambungan syaraf-syaraf otak ini berlangsung dari bagian belakang otak ke arah depan, berturut-turut mulai dari cerebellum (otak kecil) tempat koordinasi motorik fisik, amygdala tempat pengontrol emosi, nucleus acumbens tempat pengontrol motivasi, dan bagian terdepan yaitu daerah prefrontal cortex, area judgment kemampuan menilai situasi, yang mengontrol reasoning (penalaran) and impulses (dorongan). Area prefrontal cortex ini adalah area yang paling matang belakangan yaitu ketika manusia menginjak 25 tahun. Karena itu, jika remaja tampak kacau, tingkah lakunya menyulitkan, susah dipahami, satu-satunya alasan mengapa mereka seperti itu, ya karena mereka REMAJA. Otaknya ‘salah’. Itu saja. Perkembangan otaknya memang sedang meledak, dimana-mana dan pada peristiwa apa saja jika terjadi sebuah ledakan, tentu ada banyak masalah yang muncul. Begitu pula dalam hidup remaja.

Maka menemani remaja, biasanya menjadi masa paling sulit pada periode pengasuhan, setelah kita mengalami itu juga ketika anak memasuki usia 3 tahun. Ini seperti siklus berulang. Tetapi tenang saja, akan ada masanya periode strum and drung, topan dan badai ini berlalu, lalu mereka akan tumbuh menjadi manusia-manusia yang matang dan bertanggung jawab dalam hidupnya.

Selamat menari bersama anak-anak Bapak Ibu, dan nikmatilah tarian itu pada setiap babak dan episodenya!
Wallahu a’lam bish-shawabi.

family4

Read Full Post »


child abuse4

Sebagai orang tua, kita adalah garis terdepan support system yang dimiliki oleh anak-anak kita. Sehingga menjadi sangat penting bagi kita untuk memiliki saluran komunikasi yang bagus dengan mereka dan memiliki relasi yang dekat berlandaskan rasa saling percaya. Ketika anak-anak (berapapun usia mereka), memiliki permasalahan dalam hidupnya, kita ingin mereka menjadikan kita sebagai orang pertama yang mereka cari, kita ingin mereka merasa nyaman untuk bicara dengan kita sebebas-bebasnya.

Adalah penting juga bagi kita untuk memiliki kemampuan mengindentifikasi atau mengenali saat anak kita sedang bermasalah dengan emosinya. Biasanya anak-anak akan menyimpan sendiri berbagai perasaan ataupun emosi yang sedang mereka rasakan, terutama emosi negatif. Ketika mereka sedang memiliki masalah, biasanya mereka tidak akan bicara atau meminta bantuan. Mereka tidak sadar bahwa sebetulnya mereka punya bantuan yang tersedia, jika mereka membutuhkan. Sehingga, sekali lagi penting bagi orang tua untuk bisa mendeteksi secara dini, ketika terjadi sesuatu pada anak-anaknya dan bagaimana melakukan pendekatan dengan mereka untuk membantunya.

Membuat anak-anak untuk terbuka dan bicara, adalah sesuatu yang sangat menantang, it’s challenging! Banyak orang tua tidak mampu dan merasa gagal untuk mengajak anaknya bicara, dan kemudian harus meminta bantuan orang lain untuk bisa tahu apa yang dirasakan atau diinginkan oleh anaknya.

Dibawah ini terdapat beberapa tips yang bisa membantu untuk memulai pembicaraan dan untuk bisa memahami apa yang terjadi pada mereka.

• Buat mereka merasa aman dan nyaman
Jika ingin membuat mereka bicara, maka kita harus membuat mereka nyaman untuk bicara. Anak-anak perlu tahu mengapa kita ingin bisa bicara dengan mereka, atau mengapa mereka bisa bicara dengan kita, kita tidak akan menghakimi. Tujuan kita bicara dengan mereka adalah untuk memahami, sehingga kemudian bisa membantu. Anak-anak takut sekali jika mereka sudah melakukan kesalahan atau mereka menghadapi masalah yang besar. Mereka takut disalahkan, atau mereka akan dihukum, jika mereka bicara pada kita. Yakinkan pada mereka bahwa bukan itu intinya, dan bukan itu tujuan kita. Kita ada untuk memberi dukungan pada mereka. Bisa juga orang tua, membiasakan untuk berbicara pada anak-anak secara rutin, misal setiap makan siang, atau makan malam, atau saat menemani mereka belajar, atau saat akan mengantarkan anak-anak tidur. Bicarakan berbagai hal secara regular di waktu-waktu tertentu. Sehingga ketika mereka menghadapi masalah mereka sudah biasa bicara secara terbuka.

• Dengarkan mereka
Ini penting, meski simpel, tidak semua orang bisa mendengarkan. Dalam bahasa Inggris, mendengarkan memiliki dua pengertian, hearing dan listening. Meski keduanya memiliki arti sama, yaitu mendengar, tetapi ada perbedaan mendasar dari keduanya. Hearing adalah mendengar secara fisik, berkaitan dengan organ, dalam hal ini telinga. Kita semua bisa hearing jika telinga kita tidak ada masalah dalam fungsinya. Tetapi belum tentu bisa listening. Listening adalah mendengar dengan memahami, memaknai dan memilih respon yang tepat. Tidak semua yang disampaikan anak kita membutuhkan respon yang sama. Ada ungkapan yang bagus sekali untuk hal ini, “people tend to reply when they communicate, instead of understanding”. Ketika berkomunikasi, kita seringkali sibuk dengan ingin segera memberi respon, tanpa berusaha terlebih dahulu memahami. Kita bicara dengan anak kita bukan sekedar untuk merespon mereka, tetapi yang lebih penting adalah untuk memahami mereka.

• Affirmasi dan dukung mereka untuk mendapatkan pertolongan
Ketika anak-anak datang pada kita dan menyampaikan bahwa mereka sedang punya masalah, mereka marah, mereka sedih atau mereka kesal, atau mereka merasa telah melakukan kesalahan yang besar, Peluk mereka. Kemudian sampaikan bahwa kita merasa senang dan bangga, juga berterima kasih karena mereka sudah mau membagi apa yang sedang mereka rasakan ataupun hadapi. Affirmasi yang kita sampaikan, akan membuat mereka merasa diterima. Kita senang dan bangga karena mereka punya keberanian untuk bicara dan mengakui bahwa mereka punya masalah. Kita berterima kasih karena mereka percaya kepada kita, dan mau berbagi masalahnya. Jika kita tidak bisa membantu atau kita pikir mereka membutuhkan bantuan dari orang lain yang lebih ahli, tawarkan pada mereka bantuan tersebut. Bicara dengan guru BK- nya atau menemui psikolog, jika mereka bersedia.

• Tulus
Kendalikan reaksi dan ekspresi kita saat anak-anak sedang bermasalah. Tetapi juga jangan terlalu kaku dan teoritis. Jadilah diri sendiri, sebagai orang tua, kita punya cinta dan kasih sayang yang tidak dimiliki siapapun, termasuk orang yang ahli membantu sekalipun. Jadi bantulah anak kita pertama kali dengan modal yang kita punya, yaitu cinta dan kasih sayang yang tulus. Jika kita terbuka, bersikap apa adanya dan tenang, itu juga akan menenangkan mereka.

Beranilah untuk mengatakan tidak tahu
Sebagai orang tua, adalah wajar jika kita tidak tahu segala hal, atau kita tidak punya jawaban terhadap masalah anak kita. Jika kita tidak punya jalan keluar atau tidak tahu harus berbuat apa, katakan itu pada mereka. Tetapi pada saat yang sama, mereka juga harus tahu bahwa kita akan melakukan berbagai cara untuk mengatasinya, termasuk meminta bantuan ahli misalnya, dan kita akan berada bersama mereka ketika bantuan itu datang.

HATI-HATI DAN WASPADAI TANDA-TANDA KECENDERUNGAN BUNUH DIRI

Tindakan bunuh diri bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk oleh anak-anak dan ini bisa dicegah.Terkadang, anak-anak atau mereka yang sedang memikirkan untuk mengakhiri hidupnya, tanpa sadar atau sengaja, menyampaikan pesan-pesan atau tanda-tanda ingin melakukan hal tersebut. Misal dengan membaca atau memposting berita-berita tentang bunuh diri, memposting status di media sosial mengenai bunuh diri, atau melakukan tingkah laku-tingkah laku seperti orang yang bersiap-siap akan pergi jauh, membagi barang-barang miliknya kepada orang lain, menulis pesan-pesan yang bernada ‘selamat tinggal’ dll.

Dua langkah paling penting dalam mencegah tindakan bunuh diri adalah kenali tanda-tandanya dan segera cari pertolongan. Diantara tanda-tanda peringatan yang harus kita waspadai, adalah mengkonsumsi obat-obatan terlarang, alkohol, atau obat bebas yang dikonsumsi secara berlebihan, menolak sekolah atau prestasi belajar menurun drastis, mengatakan hal-hal yang berkaitan dengan kematian atau melukai diri sendiri. Selalu temani mereka dan jangan biarkan mereka sendiri walaupun sebentar, termasuk saat mereka ke kamar mandi. Segera lakukan pertolongan pertama, jika terlanjur telah terjadi sesuatu dan segera hubungi pihak-pihak yang berkaitan. Bersikaplah tenang.

anak sedih

Sumber: Sebagian besar diambil dari artikel http://www.apa.org/helpcenter/help-kids.aspx, dengan beberapa penambahan

Read Full Post »


sress

Stres merupakan hal yang esensial bagi kehidupan. Tanpa stres tidak ada kehidupan, namun kegagalan dalam mereaksi stressor merupakan pertanda kematian (Hans Selye – peneliti stress sejak 1928)

Definisi Stres
Stres merupakan fenomena psikofisik yang manusiawi, dialami oleh setiap orang dengan tidak mengenal jenis kelamin, usia, kedudukan, jabatan, atau status sosial. Stres dapat memberikan pengaruh positif dan negatif terhadap individu. Secara positif, stres akan mendorong individu untuk waspada, melakukan sesuatu, membangkitkan kesadaran, dan menghasilkan pengalaman baru. Secara negatif, stres akan menimbulkan rasa tidak percaya diri, penolakan, marah, depresi, yang memicu munculnya penyakit seperti sakit kepala, sakit perut, insomnia, tekanan darah tinggi, atau stroke.
Menurut Dadang Hawari (1997 : 44-45), istilah stres tidak dapat dipisahkan dari distress dan depresi karena satu sama lainnya saling terkait. Stres merupakan reaksi fisik terhadap permasalahan hidup, dan apabila fungsi organ tubuh sampai terganggu, dinamakan distress. Sedangkan depresi merupakan reaksi kejiwaan terhadap stressor yang dialaminya.

Gejala Stress
Asosiasi Stres Amerika (American Stress Association), mengindentifikasi ada kurang lebih 50 gejala yang muncul pada seseorang ketika mengalami stres. Diantaranya adalah sebagai berikut:
– Gejala fisik di antaranya seperti gigi gemeletuk, sakit kepala, sakit lambung (maag), hipertensi (darah tinggi), sakit jantung atau jantung berdebar-debar, insomnia, mudah lelah, kurang selera makan, dll.
– Gejala psikis dari stres meliputi gelisah atau cemas, sulit berkonsentrasi, sikap apatis, sikap pesimis, hilang rasa humor, sering melamun, bersikap agresif, dll. Gejala-gejala tersebut kecenderungan awal dari seseorang yang mengalami stres dalam hidupnya

Sumber Stres

sources-of-stress

Dinamika Stres

brain lopp stress

Tahap Reaksi terhadap Stres
1. Reaksi alarm –> Terjadi ketika individu merasakan adanya ancaman, yang kemudian meresponsnya dengan fight atau flight
2. Resistensi/ bertahan –>Terjadi apabila stres itu berkelanjutan, terjadi perubahan fisiologis yang mengimbangi sebagai upaya mengatasi ancaman
3. Exhaustion/Kelelahan –>Terjadi apabila stres terus berkelanjutan di atas periode waktu tertentu, sehingga organisme mengalami sakit.

Dampak Stres Secara Fisiologis
1. Sistem Syaraf
Sistem syaraf simpatetik memberi sinyal kepada kelenjar adrenal untuk melepaskan hormon adrenalin & cortisol –> detak jantung lebih cepat, tekanan darah meningkat, proses pencernaan terganggu dan jumlah glukosa dalam darah meningkat tajam –> jika bisa diatasi maka sistem tubuh secara keseluruhan akan normal kembali.
2. Otot/persendian dan rangka tubuh
Pada saat stress, otot menjadi lebih tegang. Kontraksi otot yang sering dan periodik akan memicu rasa sakit kepala, migrain dan kondisi lainnya.
3. Sistem Pernafasan
Stres dapat membuat kita bernafas lebih cepat dan lebih berat –> hiperventilasi, yang dapat membuat seseorang mengalami serangan kepanikan
4. Sistem peredaran darah
Stres yang sifatnya sebentar, seperti saat terjebak macet, akan meningkatkan detak jantung dan membuat kontraksi yang lebih kuat pada otot-otot tubuh. Pembuluh darah yang mengalirkan darah ke otot-otot besar dan ke jantung, akan meningkatkan jumlah darah yang dipompakan ke bagian tubuh tersebut. Pada kondisi stres berat yang terjadi secara berulang akan menyebabkan peradangan pada arteri koroner, yang bisa menyebabkan seseorang mengalami serangan jantung.

5. Endokrin/kumpulan kelenjar & organ penghasil hormon.
Kelenjar Adrenal
Ketika tubuh kita merasa stres, maka otak akan mengirim sinyal dari hypothalamus sehingga menyebabkan cortex adrienal untuk menghasilkan hormon cortisol, dan adrenal medulla menghasilkan epinephrine –> keduanya disebut sebagai hormon stres
Liver
Ketika cortisol dan ephinephrine dilepas, maka liver akan menghasilkan lebih banyak glukosa/gula darah yang akan memberi kita energi untuk melawan (fight) atau menghindar/pergi (flight)
6. Gastrointestinal/ sistem pencernaan
Kerongkongan
stres bisa membuat seseorang menjadi lebih banyak makan atau sebaliknya. Stres juga bisa membuat seorang perokok menambah jumlah rokok yang dikonsumsinya, begitu pula pada peminum minuman keras. Hal ini akan membuat seseorang mengalami rasa panas diperut, atau asam lambung meningkat tajam.
Perut
Perut bisa bereaksi seperti ada ‘kupu-kupu’ didalamnya, atau merasa mual juga sakit
Usus Besar
Stres bisa membuat sistem pencernaan bekerja lebih cepat dan makanan yang kita makan terserap lebih cepat. Hal ini kadang membuat seseorang mengalami diare atau konstipasi.
6. Sistem reproduksi
Pada laki-laki, jumlah kortisol yang berlebihan diproduksi pada saat stres dapat mempengaruhi fungsi normal sistem reproduksinya. Stres yang akut bisa merusak testosteron dan produksi sperma dan bisa menyebabkan impotensi.
Pada perempuan, stres bisa membuatnya tidak mengalami menstruasi atau jadwal menstruasi menjadi terganggu. Atau bisa juga membuat rasa sakit yang diderita selama menstruasi menjadi lebih kuat. Bisa juga membuatnya kehilangan keinginan seksual

Manajemen Stress

stress-reducing-methods
Saat tubuh menunjukkan gejala-gejala awal yang menandakan kita mengalami stres, maka lakukan hal ini:
1. Relaks,  tarik nafas, dengarkan musik, meditasi, ibadah.
2. Olahraga –> tubuh yang stres, perlu pasokan oksigen dan darah yang lancar, maka olahraga akan membantu otak mendapat suplai keduanya dengan lancar.
3. Lakukan Hobby atau kegiatan yang diminati
4. Kelola hidup dan waktu –> kenali apa yg bisa memicu stres, hindari, kelola waktu dengan tidak menumpuk pekerjaan/masalah dll untuk diselesaikan di waktu yang bersamaan/sempit/mepet
5. Bersyukur –> semua orang punya ujian dan masalah sesuai dengan kemampuan masing-masing, hindari membandingkan diri dengan orang lain, syukuri dan nikmati pemberian dari Tuhan, karena Tuhan tidak pernah salah (memberi jodoh, memberi rejeki, memberi fisik, kemampuan dll)
6. Kembali ke alam  –> nikmati suasana, ganti suasana, liburan, tinggalkan gadget sejenak, yoga, dll
7. Terapi –> tergantung pada seberapa parah dan apa penyebabnya/akarnya

Read Full Post »


Diskusi Parenting 4 – Masjid Perum Situ Gede Indah

parenting class 4

Read Full Post »


Diskusi Parenting 2 – masjidParenting Class Here and There

Ceramah Parenting ini dilaksanakan pada Forum Pengajian Ibu-ibu Ta’lim Nisa di Masjid Jami Al Muhyi – Tasikmalaya

Read Full Post »


Diskusi Parenting 3 – PesantrenParenting Class Here and There

Kegiatan Ceramah Parenting ini dilaksanakan di Pesantren Mathlaul Khaer Cintapada Tasikmalaya

Read Full Post »

Older Posts »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 925 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: