Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Tentang Anak’ Category


attitude quote bruce lee

Mata kuliah ini adalah mata kuliah baru di semester ini, merupakan pengembangan dari salah satu materi dari mata kuliah Personality Development yang sebelumnya saya ampu.

Character building khususnya, lebih menitik beratkan kajiannya pada bagaimana mahasiswa mengembangkan semua potensi kebaikan yang ada didalam dirinya, untuk membangun konsep dirinya secara utuh, dimulai dari memahami dirinya, memahami prosesnya penciptaannya, memahami tujuan penciptaannya, memahami bagaimana posisinya di dunia ini dan bagaimana memaksimalakn kemanfaatannya bagi manusia lain.  Dengan demikian, diharapkan mahasiswa mengetahui  bagaimana mereka harus berkembang dan bergerak, terus bertumbuh untuk mewujudkan apa yang menjadi tujuan penciptaannya di dunia ini. Sehingga pada gilirannya nanti, mereka akan mampu menggantikan para orang tua dan pemimpin yang sekarang ada, mampu mengelola diri, bangsa dan negaranya dengan seluruh potensi kebaikan yang mereka punya. Semoga.

Secara sepintas, mata kuliah ini masih berkaitan dengan mata kuliah Personality Development dibeberapa subjek dan mata kuliah Psychology and Professional Ethics di subjek yang lain.

 

1st Character

2nd Memahami Hakikat Manusia

3rd Character and Personality

4th Proses Pembentukan Karakter Dalam Diri Manusia

5th Menghormati Diri Sendiri

6th Respect yourself and Respect Others

7th Peduli Lingkungan

Worksheet Kelola Dirimu!

Personality Development

Psychology (of Work) and Professional Ethics

 

Iklan

Read Full Post »


College_Student_Graduation1

 

Mempersiapkan masa depan bagi pada lulusan sekolah, baik SMA/K, akademi maupun perguruan tinggi, bisa dimulai dengan membuat perencanaan karir di masa sekolah.

Slide berikut ini, berisi tahapan-tahapan yang bisa dipelajari oleh para fresh graduate, sebelum mereka memulai mengembangkan dan membangun karir profesionalnya.

Selamat membaca.

Perencanaan Karir dan Kita Sukses Menghadapi Psikotes

Read Full Post »


Materi dalam tulisan ini, adalah materi-materi yang saya sampaikan dalam mata kuliah Psychology and Professional Ethics.

Psychology and Profession Ethics

Psychological Service to the Customer

Discipline, efficiency, Effectivity and Work Productivity

Career of work

Conflict and Work Stress

The Essential of Work

Profession Ethics

Bussines Ethics

work satisfaction

Corporate Social Responsibility

Knowing Customer’s Characters

UNDERSTANDING ETHICS

Read Full Post »


girls
Hampir satu bulan terakhir, setiap minggunya saya bersama tim P2TP2A kabupaten Tasikmalaya, mengunjungi beberapa SMP dan SMA di kecamatan-kecamatan Tasikmalaya untuk memberi penyuluhan kepada siswa-siswinya mengenai pencegahan tindak kekerasan, utamanya kekerasan seksual pada perempuan dan anak.
Perjalanan ini kemudian menghadapkan kami pada kenyataan banyaknya kasus-kasus yang terjadi di wilayah-wilayah kecamatan terpencil di kabupaten Tasikmalaya. Inilah diantara kasus-kasusnya.
Saat ini ada seorang gadis berusia 12 tahun yang didampingi p2tp2a, sedang menunggu detik-detik proses melahirkan anak yang ia kandung, karena pemerkosaan yang dilakukan ayah temannya terhadapnya.
Seorang remaja kelas 3 SMA, tidak bisa ikut UN karena tepat dua minggu sebelum UN, orang tuanya baru mengetahui bahwa putrinya sedang mengandung enam bulan. Dengan kondisi tidak mengenal secara pasti dan mengetahui keberadaan anak laki-laki yang membuat putrinya hamil, karena putrinya hanya mengenalnya melalui facebook, dan baru dua kali bertemu langsung.
Seorang remaja kelas 2 SMP, di suatu malam minggu datang berkelompok dengan teman-temannya untuk menonton acara musik di kota. Saat akan pulang, ia terpisah dari teman-temannya, sehingga tidak tahu jalan pulang, alat komunikasinya habis baterei. Seorang remaja laki-laki ‘baik’ datang menawarkan bantuan. Ia kemudian menghilang selama dua malam. Saat ditemukan oleh seorang tentara, ia dalam keadaan tidak sadar, tergolek tidak berdaya, sendirian di hutan wilayah kabupaten Tasikmalaya, yang sangat jauh dari rumahnya. Hasil visum dokter menunjukkan organ reproduksinya luka.
Ada tiga kasus buang bayi hasil hubungan seksual pranikah di wilayah ujung selatan Tasikmaya. Sebelumnya di wilayah yang sama, ada kasus pelecehan seksual dan percobaan pembunuhan yang dilakukan seorang remaja berusia 18 tahun terhadap anak perempuan berusia lima tahun.
Di wilayah yang lain, ada kasus remaja perempuan yang melahirkan sendirian di kamar mandi umum, sehingga bayinya tidak tertolong dan ia mengalami infeksi di rahimnya.
Dan banyak kasus-kasus lain, dengan kisah yang berbeda tetapi temanya sama. Kekerasan terhadap perempuan. Kasus-kasus ini sedikitnya adalah gambaran dari fenomena iceberg pada kenyataannya di lapangan.
Diskusi dengan para korban dan keluarganya, memberi pelajaran pada saya:
1. Pentingnya mengajari dan membangun harga diri/konsep diri yang positif pada anak-anak perempuan kita. Anak-anak yang tumbuh dengan harga diri positif, mengetahui dengan pasti bahwa dirinya berharga dan berarti. Sehingga ia tidak akan mudah memposisikan dirinya pada situasi direndahkan dan tidak dihargai oleh orang lain. Ia akan tumbuh dengan keyakinan bahwa ia laksana keramik cina ‘a chinese porcelain’. Ia harus dihargai, dilindungi, dan diperlakukan dengan hormat dan hati-hati. Karena retak sedikit saja harga dirinya, maka ia akan menghayati diri sebagai tidak berarti dan bertingkah laku seperti orang yang tidak berharga.
2. Pentingnya mengajari dan mengembangkan kemampuan menilai situasi dan melindungi diri. Kemampuan melindungi diri secara fisik dalam pengertian keahlian bela diri bisa membantu, namun lebih penting dari itu adalah anak-anak perempuan yang memang secara neurologis memiliki kemampuan intuisi yang lebih tajam dibandingkan laki-laki perlu didorong untuk selalu mempercayai intuisinya ketika berada di situasi-situasi yang belum dikenal dan dirasa membahayakan. Kemampuan antisipasinya menjadi berkembang dan ia selalu berada dalam keadaan tenang tetapi waspada.
3. Kedekatan secara fisik dan (terutama) emosional antara orang tua anak harus terus dibangun secara positif. Jangan sampai ada kekosongan di hati anak-anak kita. Oprah Winfrey menyebutnya sebagai ‘an empty hole in their hearts’. Anak-anak yang mengalami dan merasakan kekosongan di hatinya akan mencari cara untuk mengisi kekosongan itu. Dan sering kali cara yang mereka pilih sangat beresiko, bahkan membahayakan. Namun mereka tidak menyadari itu.
4. Kesadaran akan salah satu fungsi keluarga, yaitu fungsi kontrol terhadap perilaku dan keberadaan anak-anak di rumah, harus kembali ditegakkan dan diefektifkan. Orang tua jangan segan-segan dan tidak boleh merasa bosan setiap harinya untuk memastikan kondisi fisik dan emosional anak-anaknya. Ayo mengobrol dan berdiskusilah setiap hari dengan anak-anak.
Wallahu a’lam.
sexual-harassment-3

Read Full Post »


gambar anak7

 

…Tidak seperti orang tuanya, anak-anak tidak menganggap bahwa perceraian sebagai kesempatan kedua, dan ini menjadi bagian dari penderitaan mereka. Mereka percaya bahwa masa kecil mereka telah hilang selamanya….tetapi sesungguhnya anak-anak yang hidup dalam perceraian memang memiliki kesempatan kedua di masa depan yang mereka khawatirkan…-Wallerstein & Blakeslee.

 

PERPISAHAN DAN PERCERAIAN

Keluarga adalah sebuah system support pertama yang dimiliki anak-anak, dan merupakan ikatan attachment yang dimiliki anak dengan orang tuanya, yang merupakan faktor pembentuk perkembangan rasa percaya pada anak. Ikatan ini memberikan kontribusi yang sangat besar dalam mengembangkan kemampuan anak untuk mencintai dan dicintai, dan merupakan sentral dari perkembangan kepribadian yang sehat. Bahkan dalam perceraian yang tetap mampu memberikan attachment yang aman (secure attachment) sekalipun, perjalanan untuk mendapatkan perkembangan dan pertumbuhan yang sehat, tidaklah mudah dan lancar. Selalu ada hal-hal yang mengingatkan kembali anak pada konflik-konflik yang pernah terjadi dan membuat mereka menolak untuk menatap masa depan. Kemunduran ini merupakan reaksi yang normal bagi anak dalam rangka mencari tempat yang lebih aman saat mereka merasa tertekan. Begitu anak tumbuh dan berinteraksi dengan dunia sosial yang lebih luas, kualitas hubungan mereka dengan anggota keluarga yang lain dan hubungan dengan ayah dan ibu menjadi sangat penting dan akan terus berpengaruh terhadap perkembangan anak. Anak-anak membutuhkan dukungan dari keluarga dan orang lain yang penting bagi mereka untuk mengatasi kemunduran perkembangan yang kadang-kadang terjadi, dan untuk mengembalikan mereka pada perkembangan yang sehat yang sebelumnya telah dicapai.

Perpisahan dan perceraian merepresentasikan konflik situasional dalam keluarga yang semakin memperburuk konflik pada suatu tahap perkembangan yang mungkin sedang dialami anak sesuai tahap perkembangannya. Ketika sebuah keluarga terpecah, anak-anak biasanya mengalami kekurangan salah satu aspek pendukung untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang sehat, dan mengalami perasaan kehilangan yang sangat besar. Perasaan kehilangan yang berkaitan dengan perceraian sama dengan perasaan kehilangan yang berhubungan dengan kematian. Hal ini terkait dengan perubahan dalam ritme hidup yang akan berlangsung lama dan dalam kehidupan yang dijalani sehari-hari, juga dalam hubungan orang tua dan anak. Kehilangan adalah tema sentral dalam perceraian, sebagaimana terjadi dalam kematian; kehilangan kontak sehari-hari dengan salah satu atau kedua orang tua, kehilangan teman lama, sekolah yang sudah dikenal, tetangga, juga kehilangan kontak dengan keluarga yang lebih besar dari pihak ayah atau ibu, tergantung dengan siapa nantinya anak akan tinggal. Namun, tidak seperti kematian, walau bagaimanapun dalam perceraian masih terdapat pilihan dan walaupun merupakan sebuah krisis dalam hidup yang sangat khusus dan terus menerus melahirkan masalah-masalah baru, namun alternatif-alternatif penyelesaian yang baru pun dimungkinkan untuk dicapai.

REAKSI EMOSIONAL YANG UMUM TERHADAP PERCERAIAN

Bagaimana anak-anak bereaksi terhadap perceraian sangat tergantung pada usia mereka, tahap perkembangan, dan karakteristik kepribadiannya. Reaksi secara individual akan sangat bervariasi tergantung pada masing-masing anak, karena tiap anak hidup dalam lingkungan keluarga yang berbeda-beda, berbeda juga kelebihan dan kekurangannya, dan tergantung pada kebiasaan cara mereka mengatasi masalah. Persepsi terhadap rasa kehilangan interaksi dengan salah satu orang tua bukan hanya bervariasi antara anak yang satu dengan yang lain, tetapi juga dipandang secara berbeda oleh anak yang sama seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan usianya. Reaksi anak terhadap perceraian pada waktu perceraian itu terjadi juga berbeda dibandingkan dengan reaksi mereka beberapa bulan/tahun sesudahnya. Wallerstein dan Blakeslee (1989) menyimpulkan bahwa ” tidak ada seorangpun  yang dapat memprediksikan dampak jangka panjang dari sebuah perceraian terhadap seorang anak berdasarkan reaksi anak tersebut pada saat perceraian baru saja terjadi”. Secara mengejutkan Wallerstein dan Blakeslee menemukan bahwa anak-anak yang menjadi sangat menyusahkan, penuh kemarahan dan tertekan pada saat perceraian terjadi, ternyata mereka dapat menerimanya sepuluh tahun kemudian.

Review dari berbagai literatur menemukan bahwa anak-anak menampilkan beberapa  reaksi emosi yang umum terhadap perceraian. Pemahaman terhadap reaksi ini akan berguna dalam membantu anak melalui krisis pada awal-awal perceraian terjadi dan dalam mempermudah adaptasi jangka panjang yang harus mereka lalui terhadap perceraian itu sendiri.

 

1. Kesedihan akan rasa kehilangan keluarga

Wallerstein mengatakan, bagi anak, perpisahan atau perceraian orang tua secara emosional dapat disamakan dengan kematian orang tua. Anak tidak hanya menderita dan bersedih karena hilangnya kontak sehari-hari dengan salah satu orang tua, dan berkurangnya kontak dengan yang lain, tetapi juga bersedih karena kehilangan rasa aman dan kesejahteraan yang sebelumnya mereka rasakan dalam keluarga. Dalam respon kesedihan ini, termasuk didalamnya juga kebingungan, rasa marah, penyangkalan (tidak menerima kenyataan), tertekan, perasaan hampa dan tak berdaya.

 

” Ketika orang tuaku bercerai, aku sangat merindukan ayahku terutama saat makan malam. Aku selalu melihat kearah tempat duduk dimana biasanya ia duduk, aku merasa bahwa kini kami bukan sebuah keluarga lagi” – anak laki-laki, 10 tahun.

 

2. Cemas akan penolakan, diabaikan, dan perasan tak berdaya

Besarnya perasaan ditolak, biasanya disertai dengan keinginan untuk menyalahkan diri sendiri. Anak-anak menginterpretasikan orang tua yang meninggalkan rumah sebagai penolakan mereka untuk berada didekat anak-anak, dan bukan karena adanya permasalahan dalam perkawinan orang tuanya. Perasaan ini akan semakin besar saat tiba waktunya untuk berkunjung bagi orang tua yang meninggalkan rumah. Jika mereka tidak memenuhi janjinya untuk mengunjungi anak-anak, anak akan merasa ditolak dan merasa sangat tidak dicintai oleh orang tuanya. Anak-anak akan merasa bahwa orang tua yang bersama mereka sekarang juga akan melakukan hal yang sama suatu hari nanti. Mereka merasa sangat tidak berdaya untuk memperbaiki keadaan, untuk mencegah perceraian, dan untuk “memperbaiki ” keadaan orang tua mereka yang saling menyakiti.

 

Ketika ayahku pergi, aku terus bertanya-tanya, akankah ibuku juga pergi?” – Anak laki-laki, 8 tahun.

 

3. Kemarahan

Anak-anak yang terjebak dalam proses perceraian, sangat marah kepada orang tua mereka karena hanya memikirkan kepentingan dan diri mereka sendiri, dan menempatkan anak-anak ditengah-tengah konflik yang mereka alami. Banyak anak mengalami konflik kesetiaan ketika mereka dipaksa harus memilih atau untuk ikut dengan salah satu orang tuanya. Anak-anak sangat menderita karena jika mereka memilih salah satu orang tua, mereka merasa berkhianat atau menghianati orang tua yang satunya. Beberapa anak tidak menampakkan kemarahan mereka, dan menyimpannya diam-diam didalam hati karena mereka tidak ingin membuat orang tuanya semakin kesal. Setiap anak memiliki perbedaan dalam mengekspresikan rasa marah, diantaranya dengan cara tempertantrum (rewel dan cengeng), tingkah laku agresif terhadap orang lain, atau perasaan tak berdaya menghadapi berbagai situasi. Strangeland dkk (1989), menemukan bahwa anak-anak yang memiliki orang tua bercerai, dikatakan sangat marah pada ayahnya, memiliki masalah di sekolah, dan mengalami gangguan (sulit) tidur.

 

“..Aku rasa orang tuaku bertingkah seperti sepasang anak nakal yang sangat manja. Mereka bertingkah seperti bayi…mereka tidak peduli dengan perasaanku….aku hanya anak-anak” –Anak laki-laki, 8 tahun

 

4. Kepahitan (marah yang terpendam) dan rasa kesepian

Anak-anak biasanya akan mengalami perasaan pahit karena kemarahan yang terpendam, karena mereka tidak diajak bicara bahwa akan terjadi perceraian dan tidak adanya kesempatan untuk mendiskusikannya. Kurangnya komunikasi dalam hal ini seringkali diterjemahkan kedalam perasaan sepi karena hilangnya dukungan dari anggota keluarga, keluarga yang lebih besar dan teman-teman. Wallerstein dan Blakselee mengatakan bahwa hampir 50% keluarga yang mereka konsul, menunggu hingga terjadinya perceraian atau beberapa hari setelahnya untuk mengatakan kepada anak-anak bahwa orang tua akan bercerai. Hanya kurang dari 10 % dari anak-anak yang mereka teliti, memiliki orang dewasa yang memiliki empati untuk berkomunikasi dengan mereka sebelum perceraian diputuskan. Fakta lain yang cukup mengejutkan, ternyata kakek dan nenekpun sedikit sekali memberikan support pada saat anak-anak berada pada masa-masa kritis ini.

 

“Suatu hari aku pulang sekolah dan ibuku sudah tidak ada. Ayahku mengatakan bahwa mereka telah memutuskan untuk bercerai dua bulan sebelumnya, tetapi hari itu mereka bertengkar dan ibuku memutuskan pergi sebelum kami pulang dari sekolah. Aku berteriak-teriak dan menangis. Aku sangat marah karena mereka tidak mengatakannya pada kami. Sampai sekarang aku masih merasakan kepahitan dan kemarahannya”  –Anak perempuan, 12 tahun

 

5. Perasaan bersalah dan menyalahkan diri sendiri

Anak-anak seringkali berpikir dan percaya bahwa jika mereka tidak dilahirkan atau jika mereka menjadi anak yang lebih baik, tentu orang tua tidak akan meninggalkan mereka. Anak-anak marah dan menyalahkan orang tu (yang tidak memiliki hak asuh) yang meninggalkan rumah dan menyalahkan orang tua (yang memiliki hak asuh), karena membuat orang tua yang lain meninggalkan rumah. Anak-anak menyayangi kedua orang tuanya, dan takut kehilangan mereka. Perasaan marah anak kemudian digeneralisasikan kedalam perasaan bersalah. Rasa bersalah yang disertai kecemasan dapat menyebabkan sejumlah reaksi emosi pada anak.

 

“...ibu mengatakan bukan aku yang menyebabkan perceraian terjadi, tapi aku tetap merasa mereka bertengkar karena aku” –Anak laki-laki, 9 tahun

 

6. Perasaan cemas dan dihianati

Karena anak-anak merasa cemas bahwa hidup mereka akan selalu terganggu oleh adanya perceraian orang tuanya, anak-anak akan selalu merasa tidak pasti mengenai masa depan mereka, dan tentang sebuah hubungan. Remaja-remaja tertentu memiliki kesulitan untuk mempercayai orang lain, takut menyakiti mereka dan merasa dikhianati oleh orang tuanya. Beberapa anak memiliki perasaan malu dan ragu, menarik diri dan takut untuk dicintai dan mencintai. Anak-anak yang lain menyimpulkan bahwa mereka tidak berharga dan tidak pantas untuk dicintai.

 

” Ketika ayahku pergi, ibuku menangis sepanjang waktu dan mengurung diri di rumah. Lalu suatu hari ia bertemu seseorang dan kemudian berhubungan dengannya. Ibu meminta ayah membawa kami untuk pergi di akhir minggu, tetapi ayah mengatakan bahwa ia tidak bisa karena terlalu sibuk. Aku merasa sedih sekali karena tidak ada yang menginginkan kami bersama mereka” – Anak laki-laki, 12 tahun.

Untuk lanjutan artikel ini dapat dibaca di https://nsholihat.wordpress.com/2011/07/05/anak-anak-dan-perceraian-2-tugas-tugas-psikologis-yang-berkaitan-dengan-perceraian/

 

 

 

Read Full Post »


 

child-abuse2 Untuk kesekelian kalinya, 1 minggu yang lalu saya dihadapkan pada kasus kekerasan seksual pada anak. Yang paling menyedihkan saat menghadapi kasus seperti ini adalah, saat pelaku dan korban, keduanya sama anak-anak.

Seminggu yang lalu, sepasang suami istri membawa anaknya berusia 10 tahun, laki-laki. Anak ini baru saja melakukan aktivitas seksual dengan temannya sesama laki-laki, dengan melakukan ‘o**l s**s’. Aktivitas ini dilakukan di kelas saat jam pelajaran, ketika guru tidak ada di dalam kelas. Anak ini berdua dengan temannya, diancam oleh teman sekelasnya yang lain, untuk melakukan hal itu, jika tidak akan dipukuli. Sebelum melakukan kegiatan tersebut,  mereka menonton video porno di  youtube, melalui handphone temannya. Ini adalah yang ketiga kalinya, sementara aktivitas menonton video porno baik melalui hp maupun warnet sudah 1o kali karena diajak teman.

Anak ini, dari penampilannya tampan, bersih dan sangat stylish. Latar belakang kedua orang tua adalah pengusaha sandal, cukup mampu secara finansial, namun kurang berpendidikan, juga tidak update terhadap teknologi. Anaknya tidak punya hp, PS ataupun mainan-mainan yang berbau teknologi kekinian. Pengetahuan dan paparan konten dan aktivitas pornografi dan pornoaksi, sepenuhnya didapat dari temannya. Ia kemudian dikeluarkan dari sekolah karena masalah ini.

Interview saya dengan anak ini, menyajikan data sebagai berikut. Ia tidak tahu apa makna dari aktivitas seksual yang ia lakukan dengan temannya. Ia hanya meniru, tanpa tahu maksud dari aktivitas tersebut. Ia tidak merasakan sesuatu saat melakukan hal itu, hanya rasa sakit saja (Ia belum aqil baligh, belum mengalami mimpi basah). Mengapa sampai tiga kali melakukan aktivitas tersebut, karena kalau tidak mau akan dipukuli dan setelah melakukannya ia dibayar dua ribu rupiah oleh teman yang menyuruh dan menontonnya. Saat ini ia masih suka pada anak perempuan (alhamdulillah, orientasi seksualnya masih normal).

Catatan penting yang bisa diambil adalah:

  1. Memilih lingkungan yang baik, mengenal teman anak-anak, mengetahui dan mengontrol aktivitas bermain mereka, adalah penting untuk dilakukan oleh orang tua setiap harinya.
  2. Anak yang tidak terpapar teknologi, tidak ada jaminan bahwa mereka aman dari pengaruh pornografi dan pornoaksi.
  3. Mengajari mereka tentang menjaga anggota tubuh, bagaimana memperlakukannya, menutupinya, dll juga penting.
  4.  Orang tua perlu terus belajar, meng-up grade pengetahuan tentang segala hal yang berbau kekinian, yang berhubungan dengan kehidupan anak-anaknya.
  5. Berdo’a. Minta pada Allah dengan sepenuh hati agar Ia menjaga anak-anak kita. Do’akan anak-anak saat mereka keluar rumah, agar ia terjaga dari mata-mata jahat yang berniat melukainya.

Wallahu a’lam bish showab.

hal-yang-harus-diwaspadai-agar-tidak-dilecehkan-seksual

 

 

Read Full Post »


Mengapa mampu mengelola diri sendiri penting untuk remaja?

“Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan segala sesuatu dimuka bumi dalam keadaan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka selamatkanlah kami dari siksa neraka” (QS. Ali Imran; 191)

 

Materi-materi dalam tulisan ini adalah materi kuliah Personality Development yang saya ampu di LP3I Tasikmalaya. Selama kurang lebih 5 tahun menyampaikan materi ini kepada mahasiswa-mahasiswa baru yang notebene adalah remaja berusia antara 17-18 tahun, dan disiapkan untuk menjadi seorang profesional hanya dalam waktu 2 tahun, justru menyadarkan saya bahwa ternyata, memiliki tujuan hidup, mengetahui apa yang menjadi kekuatan dan kelemahan, dan menyusun strategi untuk bisa mengelola kehidupan dengan berbagai permasalahannya, adalah salah satu soft skill yang sangat penting untuk dimiliki sejak kita muda. Semakin menyadari apa yang kita inginkan dalam hidup, bagaimana meraihnya, bagaimana mengelola dan mengatasi hambatannya agar kita dapat mencapai apa yang kita inginkan, akan mengembangkan semacam kecerdasan dalam diri kita, kecerdasan dalam mengelola dan menghadapi kehidupan. Kecerdasan yang kita butuhkan untuk bisa survive dalam kehidupan yang sangat unpredictable.

Berproses bersama remaja-remaja yang muda, bersemangat, tidak mau berlama-lama sekolah dan hidup dalam teori, kemudian juga menggugah dan mempengaruhi saya bahwa mereka ini adalah anak-anak muda yang sebagian besar sudah tahu betul apa yang mereka inginkan dalam hidup. Mereka ingin segera bekerja baik sebagai pegawai di kantor maupun sebagai entrepreneur, menafkahi diri sendiri, mandiri secara ekonomi dari orang tua, bisa mencicil kendaraan dengan uang sendiri, membantu orang tua membiayai pendidikan adik-adiknya, bisa menabung untuk memberangkatkan orang tua beribadah haji, dll. Mereka punya tujuan-tujuan hidup yang sangat luhur, namun praktis dan terukur, yang ketika saya berada di usia mereka, bahkan belum memikirkannya.

Remaja, anak muda yang punya arah yang jelas akan kehidupannya, akan lebih mungkin terhindar dari masalah-masalah negatif, perilaku yang tidak produktif, tindakan kriminal, atau hidup dalam kesia-siaan. Anak muda yang tahu betul apa yang diinginkannya, akan sibuk dengan berbagai kegiatan dan aktivitas yang memang ia butuhkan untuk meraih cita-citanya. Energinya akan habis dalam kebaikan dan usaha untuk mengejar mimpi-mimpinya, bukan hanya sibuk bermimpi. Maka menjadi jelas ungkapan Presiden Soekarno yang sangat terkenal, “Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia” tentu yang dimaksud adalah anak-anak muda yang tahu apa yang diinginkannya. Atau jargon yang sekarang sering disosialisasikan oleh dokter muda, dr. Gamal Albinsaid, dari kota Malang, “Muda Mendunia” sangat mungkin untuk dicapai jika remaja-remaja ini menyibukkan dirinya dalam kebaikan dan usaha mewujudkan visi misi hidupnya. Alih-alih sibuk nongkrong di gang sempit sambil bermain gitar fals dan menggoda gadis-gadis yang lewat, atau sibuk pamer kendaraan di jalan hasil kredit orang tuanya.

Maka, mengampu mata kuliah Personality Development, secara tidak disadari ternyata justru mengajari saya, membangunkan kesadaran saya, bahwa hidup harus punya arah dan tujuan sedari muda, sedini mungkin. Agar penciptaan kita oleh Allah yang Maha Kuasa tidak sia-sia, kehadiran kita didunia ini punya makna dan bermakna bagi alam semesta. Minimal keluarga. So proud of you all my students. May Allah bless all of you. Aamiin.

2nd-character

3rd-the-power-of-mind

4th-personality

communication1

communication-and-self-disclosure-2

interpersonal-skill

attitude-and-personality

pencarian-peluang-dan-merencanakan-hidup-dan-karir

etika-busana-dan-tabel-manner2

persiapan-kerja

8th-personality-and-ethics

job-interview

Work Preparation

mind mapping your dream job

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: