Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Fictions’ Category


anggur4

Buahan-buahan di toko buah Pak Ahmad saling berteman. Meski kadang-kadang ada sedikit pertengkaran, namun mereka saling menyayangi satu sama lain. Pagi itu, suasana di rumah Pak Ahmad cukup sibuk dan agak ramai. Mereka semua sedang bersiap-siap karena akan melakukan perjalanan.

Para buah, punya kegiatan sendiri.  Jiju si Jeruk, sedang merasa kegelian karena tubuhnya sedang di lap oleh Bu Ahmad. Sika si Semangka dan Pisi si Pisang, sambil menempatkan tubuhnya sesuai posisi yang diatur Bu Ahmad, asik tertawa-tawa melihat Jiju, yang sibuk menggeliat-geliatkan badan dan berusaha menahan rasa geli sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.

Sementara Mela si melon, Anggi si anggur, dan Peya si pepaya, yang sudah lebih dulu tertata rapi didalam keranjang buah, sedang asik mengobrol tentang apa yang akan mereka lakukan sebentar lagi. Hari ini keluarga Pak Ahmad akan berwisata ke pantai! Wow…Mereka senang sekali  mendengarnya, dan tidak sabar ingin tahu seperti apa yang namanya pantai.

“Sika, aku penasaran sekali, tak sabar ingin melihat seperti apa sih pantai, ayolah…tolong  ceritakan sedikit saja!”..pinta Anggi.

“Sudahlah Anggi, sebentar lagi kau akan melihatnya.” jawab Sika  tak semangat, karena dia sedang sibuk menikmati pemandangan sambil menertawakan Jiju.

“Ayolah Sika…sedikiiiit…saja, apakah akan ada banyak orang dan anak-anak?” tanya Anggi

“Apakah kita bisa berenang dan bertemu dengan para ikan?” timpal Peya

Sika tahu, jika ia tak menjawab,   Anggi pasti akan terus bertanya, karena dari tadi malam ia bertanya terus. Maka ia putuskan untuk menjawab sedikit.

“Ya, kita bisa melihat apa saja di sana, ada orang-orang,  anak-anak, ada yang  berlarian, main bola, makan, berjemur, berenang, mendengar musik, atau hanya tidur-tiduran saja, dan kalau beruntung bisa melihat ikan dan ubur-ubur ketika naik perahu!”

“Sika, apakah…?” Anggi ingin bertanya lagi

“Ssst…Kita sudah akan berangkat, diamlah!” tukas Pisi si pisang. Mereka pun diam, menikmati perjalanan.

Tak lama kemudian, mobil keluarga Pak Ahmad berhenti. Rupanya mereka sudah tiba di pantai. Setelah menurunkan barang-barang dan menatanya, Pak Ahmad dan keluarganya pun berlarian menuju pantai untuk berenang dan melakukan kegiatan masing-masing.

anggur

Para buah segera keluar dari keranjang. Mereka merasa takjub dengan keramaian dan suasana pantai yang hiruk pikuk. Terutama Anggi.

“Waah…..waah..kereen sekali…!” teriak Anggi.

Dengan segera, ia berlari dan berputar-putar, merasakan suasana dan cuacanya, meski panas namun ada banyak angin. Ada banyak suara, tapi tidak ribut dan enak terdengar. Ini pengalaman baru buat Anggi.  Ia memalingkan wajahnya ke segala arah, ada banyak tikar dan banyak keluarga berkumpul diatas masing-masing tikar.

Ia melambaikan tangannya sambil tersenyum pada nanas dan bengkuang yang ada ditikar lain tak jauh dari tikar keluarga Pak Ahmad. Mereka membalas lambaian tangan Anggi dan senyumannya. Anggi mendekati mereka dan mengobrol sebentar.

“Semuanya tampak senang disini, ya…pantai memang tempat yang menyenangkan!” Sorak Anggi dalam hati sambil berjalan riang.

Ia melangkah mendekati ketimun, selada, dan tomat di tikar keluarga yang lain lagi. Ia menyapa mereka juga. Mereka tampak sesenang Anggi.

Tanpa sadar, Anggi semakin jauh dari teman-temannya. Tak lama kemudian, ia asik menatap sepasang anak kecil yang sedang bermain lempar tangkap bola sambil tertawa-tawa. Dan tidak jauh dari keduanya, beberapa anak lain bermain pasir dengan cetakan-cetakan plastik, sedang membuat istana. Anggi tersenyum-senyum senang, ia seperti ikut merasakan kebahagiaan semua anak itu. Tanpa ia sadari, ada anak lain mendekatinya, dan kemudian membawanya sambil berlari kecil.  Anggi terkejut, ia menatap wajah anak itu, anak itu masih kecil.

“Waduh, bagaimana ini?”  Anggi berkata dalam hati, ia cemas.

Ia baru sadar ia akan terpisah jauh dari teman-temannya. Anak itu berlari semakin jauh dari tempat Anggi berdiri tadi.

***

Sementara itu, teman-teman Anggi yang lain, juga asik dengan pengalaman barunya masing-masing. Namun mereka tetap berkumpul disekitar keranjang buah. Mereka tidak sadar, bahwa Anggi terpisah dari mereka.

“Apa kalian melihat kemana perginya Anggi si Anggur? Tanya Jiju tiba-tiba pada teman-temannya.

Lalu mereka sadar, Anggi tidak ada diantara mereka. Mereka semua kebingungan, sambil berharap bisa melihat Anggi dari kejauhan dan menemukannya.

“Aku sudah mengira, aku sudah mengira, ini pasti akan terjadi!” teriak Peya.

Peya memang mudah panik.

“Tenanglah, ayo kita cari bersama-sama.” Kata Mela.

“Tidak, Sebaiknya kita berpisah, kita bagi dua kelompok cari ke tempat yang berbeda, jika tidak ketemu, kita berkumpul disini lagi.” Kata Sika.

“Tapi bagaimana, kita juga tidak mengenal tempat ini?” tanya Pisi.

“Oke, sekarang kita perhatikan dulu tempat ini, temukan tanda dan cirinya, supaya tidak tertukar dengan yang lain!” Jawab Sika.

Setelah sepakat mengenali dan menandai tikar tempat keluarga mereka, lalu mereka berpisah.

Tak lama kemudian mereka berkumpul lagi, dengan tangan kosong.

“Baiklah, ayo kita cari lagi ke arah yang berbeda, bersama-sama!” Ajak Sika.

***

Anggi terguncang-guncang, dibawa lari anak kecil itu, rupanya dia sedang bermain kejar-kejaran dengan orang tuanya. Langkahnya  sebenarnya kecil-kecil saja, namun orang tuanya sengaja berpura-pura tidak bisa menangkapnya. Dia berlari-lari senang. Anggi melupakan sejenak kecemasannya, ia juga merasa senang melihat anak itu senang. Setelah tertangkap,  orang tuanya baru melihat bahwa anak itu memegang Anggi.

“Dari mana ini, punya siapa?” tanya orang tuanya.

Anak itu menunjuk ke sebuah arah. Lalu orang tuanya menggendong anak tersebut ke arah yang ditunjukkannya. Ya, ternyata orang tuanya mau mengembalikan Anggi ke tempatnya berdiri tadi, saat ia sedang mengamati anak-anak yang bermain bola dan pasir.

Anggi ingat, ia berdiri tidak jauh dari tikar si ketimun, selada, dan tomat yang disapanya terakhir. Ia mencoba mengingat-ingat arah jalan sebelum ia menyapa mereka, ia juga menyapa bengkuang dan nanas, ya..itu tidak jauh dari tikar Pak Ahmad.

“Semoga saja mereka belum menjadi rujak, supaya aku bisa mengingat tempatnya.” Gumam Anggi dalam hati.

Anggi berjalan perlahan sambil terus mengingat-ingat.

***

Teman-temannya  menemukan Anggi sedang kebingungan dan duduk kelelahan, di tikar keluarga Pak Ahmad!

“Maafkan aku teman-teman, aku hanya mencoba bersikap ramah pada orang-orang dan yang lainnya…yang lainnya…aku tidak bisa menahannya, ..aku terlalu ingin tahu!” Kata Anggi sedih.

“Lain kali kau jangan terlalu ramah pada orang  Anggi, karena itu bisa berbahaya dan kendalikan rasa ingin tahumu itu!” Ujar Peya kesal

“Sudahlah Peya..” Kata Mela sambil duduk mendekati Anggi.

Para buah yang lain mengikutinya.

Anggi menarik nafas panjang, lalu merebahkan tubuhnya, terlentang di pasir pantai menatap langit. Teman-temannya juga mengikuti. Mereka diam, menikmati suasana pantai yang sejak semalam mereka bicarakan, tapi belum sempat mereka rasakan.

“Tidak ada yang salah dengan bersikap ramah sebetulnya, hanya saja, jika  kita sedang di tempat umum, apalagi di tempat yang tidak kita kenal, jika ingin pergi mintalah ditemani.”

Mela bicara sendiri, namun teman-temannya tahu, itu juga ilmu untuk mereka.

Peya merengut, masih kesal dengan kelakuan Anggi. Walaupun dalam hati, sebetulnya ia lega karena tidak terjadi apa-apa pada Anggi.

“Ya, aku mengerti,  setidaknya jika tersesat sekalipun, tersesatnya berdua, tidak sendirian.” Jawab Anggi.

Teman-temannya tertawa mendengar kesimpulan Anggi.

Meski masih ada sedikit rasa takut dan terkejut,  hari itu adalah hari yang paling hebat dalam hidup Anggi. Ia melihat banyak hal.

Diperjalanan pulang, ketika para buah yang lain tertidur karena kelelahan, Anggi masih membuka matanya dan terus menatap jalan. Ia berharap suatu saat bisa pergi ke pantai lagi atau ke tempat lain yang belum pernah ia kunjungi.

Tamat.

Iklan

Read Full Post »


brokoli3

Suasana kebun sayur Pak Tani beberapa hari terakhir ini menjadi ramai. Hal ini dimulai sejak kedatangan Koko si Brokoli. Brokoli yang kribo itu, ternyata bukan sayuran yang cukup menyenangkan untuk dijadikan teman. Ia selalu merasa dirinya sebagai sayuran yang paling keren. Sejak kedatangannya, brokoli sudah bersikap sombong, ia mengatakan dirinya adalah  sayuran yang paling mahal, sehingga semua penghuni kebun sayur Pak Tani harus menghormatinya, dan memberikannya tempat khusus di ladang itu. Ia mengatakan harusnya lahan tempatnya tumbuh berada di petak paling depan, supaya lebih mudah dilihat oleh siapapun yang datang ke kebun sayur Pak Tani, karena ialah sayuran yang paling keren. Padahal, petak paling depan sudah ditempati oleh Tomi si tomat yang memang sudah lebih dulu tinggal dikebun sayur Pak Tani. Tingkah laku Koko,  juga membuat Bongki  si kembang kol, Kapa si kacang panjang dan  Worti si wortel kesal.

Koko si brokoli mengatakan ia adalah sayuran yang  banyak mengandung anti oksidan. Makanan yang sangat dibutuhkan oleh manusia supaya mereka tidak menderita kanker. Kanker adalah sebuah penyakit mematikan yang sekarang banyak diderita oleh orang-orang kota, karena mereka kurang sehat dalam menjalani hidupnya. Ia juga menghina sayuran lain yang menurutnya, tidak punya anti oksidan sepertinya, dan tidak terlalu penting bagi hidup manusia, karena tidak bisa mencegah kanker.

Para sayuran yang semula hidup damai dan saling menghormati menjadi tidak nyaman dengan kedatangan Koko. Mereka menjadi sedih dan juga marah pada kata-kata yang sering diucapkan Koko.

Suatu hari, saat Bela si belalang hinggap disalah satu daunnya, Worti bercerita pada Bela, bahwa  mereka tidak menyukai kelakuan Koko, karena Koko sombong sekali. Worti dan teman-teman para sayuran ingin sekali menegur dan mengingatkan Koko agar tidak seperti itu, tetapi tidak tahu caranya. Bela si belalang mengerti apa yang diinginkan Worti dan teman-temannya. Bela mengatakan, “Tenang saja teman-teman, aku tahu caranya supaya Koko si kribo itu bersikap lebih baik pada kalian, tunggu saja!” katanya. Lalu Bela terbang meninggalkan kebun sayur Pak Tani, entah kemana. “Mungkin ia akan menyusun rencana untuk menegur Koko”, kata Worti kepada teman-teman sayuran yang lain dengan pelan supaya tidak terdengar Koko.

Tanpa sepengetahuan teman-teman para sayuran, Bela si belalang pergi menemui Uli si Ulat, dan menceritakan pada Uli apa yang terjadi pada kebun sayur Pak Tani sejak kedatangan Koko si Brokoli.

Setelah beberapa lama tidak ada kabar dari Bela si Belalang, tiba-tiba pada suatu pagi, kebun sayur Pak Tani yang biasanya tenang, mendadak heboh. Terdengar Suara Koko seperti sedang marah-marah. Koko merasa gatal-gatal pada tubuh dan rambutnya, ia marah ketika melihat ada beberapa ulat tinggal di badan dan rambut kribonya. Ia menggoyang-goyangkan tubuhnya sambil berteriak-teriak, “pergilah ulat-ulat nakal, jangan merusak tubuh dan rambutku…pergi sana!”, katanya terus sambil bergoyang-goyang. Tetapi ulat-ulat terus berpegangan dengan erat pada tubuh Koko, sehingga koko sulit membuat mereka jatuh dari tubuhnya. “Pergi…pergi sana…jauh-jauh…jangan merusakku!….katanya. Tetapi usaha Koko tidak membuahkan hasil. Akhirnya setelah berusaha terus bergoyang-goyang sampai kelelahan, Koko menangis tersedu-sedu sambil berkata, “teman-teman, Worti, Tomi, Bongki…tolong aku, Kapa…tolong aku!”, katanya berteriak lemah karena kelelahan. “Huhuhu….tolong aku, badanku gatal sekali….huhuhu….” katanya sedih.

brokoli1

Worti, Bongki, Tomi dan Kapa ingin menolong, tetapi mereka juga tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ketika melihat Bela si belalang terbang mendekati mereka, Worti dan Tomi  meminta Bela menolong Koko yang terserang gatal. Bela tersenyum, lalu berkata, “Aku tahu siapa yang bisa menolongnya, tunggu sebentar”, kata Bela sambil terbang menjauh. Tidak lama kemudian, Bela datang bersama Uli si ulat.

Uli si ulat kemudian berkata pada Koko, “Jadi bagaimana Koko, jika kami terus berada di tubuh dan rambutmu, apakah kau masih menjadi sayuran yang paling keren dan mahal?”

Koko masih menangis tersedu-sedu, lalu berkata, “ huhuhu….tolonglah Uli, minta teman-temanmu meninggalkanku, mereka merusak tubuh dan rambutku…aku tidak keren lagi…huhuhu…!”

Uli kemudian berkata, “Kami akan meninggalkanmu, tapi kau harus berjanji untuk berlaku baik pada teman sayuranmu yang lain dan tidak sombong lagi, bagaimana?” tanya Uli.

“Iya, iya aku berjanji, aku sudah tidak tahan lagi, aku mengerti…”kata Koko kemudian.

Tak lama kemudian, teman-teman Uli yang tinggal ditubuh Koko turun meninggalkan tubuh dan rambut Koko. Setelah semua ulat tidak ada di tubuh dan rambutnya, Koko lebih tenang dan tidak menangis lagi.

Menyadari apa yang terjadi, Koko kemudian berkata kepada teman-teman sayurannya, “Teman-teman maafkan aku ya…selama ini aku bertingkah menyebalkan, aku tidak akan menjadi keren dan mahal jika tubuhku dipenuhi ulat…maafkan aku…Pak Tani lah yang paling berjasa membuatku keren!” kata Koko sedih.

Teman-teman Koko menerima permintaan maaf Koko. Sejak saat itu mereka semua berteman baik, dan kebun sayur Pak Tani kembali damai dan tenang.

Tamat

Read Full Post »


beruang kecil

[ Tulisan ini adalah salah satu proses belajar saya, dalam menyediakan sendiri stok bahan cerita untuk anak yang punya muatan mengembangkan karakter. Sebagai bentuk jawaban juga terhadap pertanyaan anak saya, “Bu sabar itu apa sih?”]

 

Bubi si beruang kecil tinggal bersama ibunya di tengah hutan yang indah. Ayah Bubi sudah lama meninggal, sehingga ibunyalah yang mengurus semua keperluan Bubi. Ibu Bubi bekerja seharian, dari sejak subuh menyiapkan semua keperluan Bubi, pergi ke hutan mencari makanan, mencuci baju, membersihkan rumah, memasak, begitu terus hingga menjelang tidur malam. Hal ini membuat Ibu Bubi sering merasa lelah, namun tetap bersabar dan senang, karena Ibu sangat menyayangi Bubi.

Sayangnya, Bubi seringkali tidak membuat pekerjaan Ibu menjadi lebih mudah. Bubi sering kali berulah dan menguji kesabaran Ibu. Bubi adalah beruang kecil yang kurang sabar, ia selalu ingin mendapatkan dengan segera apa yang menjadi keinginannya. Bubi juga ingin Ibu membantunya untuk melakukan apapun. Bubi sering bertingkah laku seperti raja yang selalu ingin dilayani oleh Ibunya, termasuk untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang sebetulnya bisa ia lakukan sendiri. Seperti menyimpan baju kotornya setelah pulang sekolah atau bermain, menyimpan piring kotornya atau mengambil air minum sendiri setelah makan, menyiapkan buku pelajaran, dan memakai sepatu sendiri. Bahkan kadang-kadang, untuk ke kamar mandi saja, Bubi ingin ditemani oleh Ibu. Jika Ibu tidak memenuhi keinginan Bubi, Bubi akan marah, berguling-guling atau menangis, atau berteriak-terak sambil melempar barang-barang yang ada di dekatnya.Hal ini membuat Ibu sedih, Ibu tidak tahu mengapa Bubi seperti itu.

Seperti hari itu, Bubi sedang marah sekali pada Ibu, karena Ibu tidak mau membelikan mainan yang Bubi inginkan. Ibu mengatakan belum punya uang karena belum mendapatkan madu hutan untuk ditukar dengan uang, padahal Ibu sudah berkeliling selama beberapa hari di hutan. Ibu meminta Bubi bersabar, namun Bubi tidak bisa bersabar. Bubi lari meninggalkan Ibu, keluar rumah sambil membanting pintu dan terus berlari ke bukit.  Di puncak bukit, Bubi bertemu dengan Kiki si kupu-kupu yang cantik. Kiki menyapa Bubi, “Hai Bubi, sedang apa, mengapa wajahmu kelihatan kesal sekali?”. Bubi mendengus dengan marah, “Aku kesal pada Ibu, Ibu tidak mau membelikan aku mainan, aku marah sekali pada Ibu, Ibu tidak sayang padaku!” katanya dengan suara tinggi.

Kiki yang tahu sedikit sifat Bubi tersenyum, lalu ia berkata, “Kau tahu Bubi, butuh waktu berapa lama aku harus bersabar supaya bisa menjadi kupu-ku seperti ini?” Bubi menggeleng sambil mengangkat bahu, wajahnya masih marah. Kiki meneruskan bicara, “Kurang lebih aku harus bersabar selama 30  hari, untuk bisa menjadi kupu-kupu yang cantik seperti ini. Aku memulai kehidupanku dari mulai telur, menjadi ulat yang baru menetas, kemudian berganti kulit, menjadi ulat dewasa, menjadi kepompong, baru kemudian menjadi kupu-kupu.  Semua itu harus kulalui. Segala sesuatu itu butuh proses Bubi, ada yang harus kita lakukan dan lalui untuk bisa mendapatkan apa yang kita inginkan. Kita tidak bisa segera mendapat apa yang kita ingin karena kita bukan Tuhan, kita harus berusaha dengan keras dulu, melakukan sesuatu dulu, baru kita bisa mendapat apa yang kita inginkan”

“Lalu apa hubungannya denganku? Tanya Bubi. Kiki menjawab, “Itulah yang sedang Ibumu lakukan, bukan ia tidak sayang padamu, tetapi Ibumu sedang melakukan sesuatu supaya kamu bisa mendapatkan mainanmu. Yang perlu kamu lakukan hanya bersabar. Ibumulah  yang pergi ke hutan mencari madu, bukan kamu. Pikirkanlah Bubi, lihatlah apa yang sudah Ibumu lakukan untukmu dan untuk membuatmu senang. Ia  melakukan semua itu sendirian.”

Bubi terdiam mendengarkan penjelasan Kiki. Selama ini ia memang tidak pernah memikirkan hal itu. Ia hanya memikirkan apa yang menjadi keinginannya saja, tanpa berpikir bagaimana hal itu bisa ia dapatkan. Bubi menitikkan air matanya, ia merasa sedih sekali mengingat apa yang sudah ia lakukan pada Ibu. Bubi kemudian berkata pada Kiki, “Kamu betul Kiki, aku tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya, terima kasih sudah mengingatkanku.”  Kiki tersenyum dan berkata, “Sudahlah Bubi, aku senang kamu mengerti sekarang”.

Tiba-tiba Kiki berteriak, ‘Hei lihatlah..itu ada layang-layang putus, bagaimana kalau kita mengejarnya?”, tantang Kiki, “Ayo!” teriak Bubi, mereka pun berlomba menuruni bukit untuk mengejar layang-layang dengan gembira.

Tamat

Read Full Post »

%d blogger menyukai ini: