Feeds:
Pos
Komentar

girls
Hampir satu bulan terakhir, setiap minggunya saya bersama tim P2TP2A kabupaten Tasikmalaya, mengunjungi beberapa SMP dan SMA di kecamatan-kecamatan Tasikmalaya untuk memberi penyuluhan kepada siswa-siswinya mengenai pencegahan tindak kekerasan, utamanya kekerasan seksual pada perempuan dan anak.
Perjalanan ini kemudian menghadapkan kami pada kenyataan banyaknya kasus-kasus yang terjadi di wilayah-wilayah kecamatan terpencil di kabupaten Tasikmalaya. Inilah diantara kasus-kasusnya.
Saat ini ada seorang gadis berusia 12 tahun yang didampingi p2tp2a, sedang menunggu detik-detik proses melahirkan anak yang ia kandung, karena pemerkosaan yang dilakukan ayah temannya terhadapnya.
Seorang remaja kelas 3 SMA, tidak bisa ikut UN karena tepat dua minggu sebelum UN, orang tuanya baru mengetahui bahwa putrinya sedang mengandung enam bulan. Dengan kondisi tidak mengenal secara pasti dan mengetahui keberadaan anak laki-laki yang membuat putrinya hamil, karena putrinya hanya mengenalnya melalui facebook, dan baru dua kali bertemu langsung.
Seorang remaja kelas 2 SMP, di suatu malam minggu datang berkelompok dengan teman-temannya untuk menonton acara musik di kota. Saat akan pulang, ia terpisah dari teman-temannya, sehingga tidak tahu jalan pulang, alat komunikasinya habis baterei. Seorang remaja laki-laki ‘baik’ datang menawarkan bantuan. Ia kemudian menghilang selama dua malam. Saat ditemukan oleh seorang tentara, ia dalam keadaan tidak sadar, tergolek tidak berdaya, sendirian di hutan wilayah kabupaten Tasikmalaya, yang sangat jauh dari rumahnya. Hasil visum dokter menunjukkan organ reproduksinya luka.
Ada tiga kasus buang bayi hasil hubungan seksual pranikah di wilayah ujung selatan Tasikmaya. Sebelumnya di wilayah yang sama, ada kasus pelecehan seksual dan percobaan pembunuhan yang dilakukan seorang remaja berusia 18 tahun terhadap anak perempuan berusia lima tahun.
Di wilayah yang lain, ada kasus remaja perempuan yang melahirkan sendirian di kamar mandi umum, sehingga bayinya tidak tertolong dan ia mengalami infeksi di rahimnya.
Dan banyak kasus-kasus lain, dengan kisah yang berbeda tetapi temanya sama. Kekerasan terhadap perempuan. Kasus-kasus ini sedikitnya adalah gambaran dari fenomena iceberg pada kenyataannya di lapangan.
Diskusi dengan para korban dan keluarganya, memberi pelajaran pada saya:
1. Pentingnya mengajari dan membangun harga diri/konsep diri yang positif pada anak-anak perempuan kita. Anak-anak yang tumbuh dengan harga diri positif, mengetahui dengan pasti bahwa dirinya berharga dan berarti. Sehingga ia tidak akan mudah memposisikan dirinya pada situasi direndahkan dan tidak dihargai oleh orang lain. Ia akan tumbuh dengan keyakinan bahwa ia laksana keramik cina ‘a chinese vase’. Ia harus dihargai, dilindungi, dan diperlakukan dengan hormat dan hati-hati. Karena retak sedikit saja harga dirinya, maka ia akan menghayati diri sebagai tidak berarti dan bertingkah laku seperti orang yang tidak berharga.
2. Pentingnya mengajari dan mengembangkan kemampuan menilai situasi dan melindungi diri. Kemampuan melindungi diri secara fisik dalam pengertian keahlian bela diri bisa membantu, namun lebih penting dari itu adalah anak-anak perempuan yang memang secara neurologis memiliki kemampuan intuisi yang lebih tajam dibandingkan laki-laki perlu didorong untuk selalu mempercayai intuisinya ketika berada di situasi-situasi yang belum dikenal dan dirasa membahayakan. Kemampuan antisipasinya menjadi berkembang dan ia selalu berada dalam keadaan tenang tetapi waspada.
3. Kedekatan secara fisik dan (terutama) emosional antara orang tua anak harus terus dibangun secara positif. Jangan sampai ada kekosongan di hati anak-anak kita. Oprah Winfrey menyebutnya sebagai ‘an empty hole in their hearts’. Anak-anak yang mengalami dan merasakan kekosongan di hatinya akan mencari cara untuk mengisi kekosongan itu. Dan sering kali cara yang mereka pilih sangat beresiko, bahkan membahayakan. Namun mereka tidak menyadari itu.
4. Kesadaran akan salah satu fungsi keluarga, yaitu fungsi kontrol terhadap perilaku dan keberadaan anak-anak di rumah, harus kembali ditegakkan dan diefektifkan. Orang tua jangan segan-segan dan tidak boleh merasa bosan setiap harinya untuk memastikan kondisi fisik dan emosional anak-anaknya. Ayo mengobrol dan berdiskusilah setiap hari dengan anak-anak.
Wallahu a’lam.
sexual-harassment-3

Anak-Anak dan Perceraian1


gambar anak7

 

…Tidak seperti orang tuanya, anak-anak tidak menganggap bahwa perceraian sebagai kesempatan kedua, dan ini menjadi bagian dari penderitaan mereka. Mereka percaya bahwa masa kecil mereka telah hilang selamanya….tetapi sesungguhnya anak-anak yang hidup dalam perceraian memang memiliki kesempatan kedua di masa depan yang mereka khawatirkan…-Wallerstein & Blakeslee.

 

PERPISAHAN DAN PERCERAIAN

Keluarga adalah sebuah system support pertama yang dimiliki anak-anak, dan merupakan ikatan attachment yang dimiliki anak dengan orang tuanya, yang merupakan faktor pembentuk perkembangan rasa percaya pada anak. Ikatan ini memberikan kontribusi yang sangat besar dalam mengembangkan kemampuan anak untuk mencintai dan dicintai, dan merupakan sentral dari perkembangan kepribadian yang sehat. Bahkan dalam perceraian yang tetap mampu memberikan attachment yang aman (secure attachment) sekalipun, perjalanan untuk mendapatkan perkembangan dan pertumbuhan yang sehat, tidaklah mudah dan lancar. Selalu ada hal-hal yang mengingatkan kembali anak pada konflik-konflik yang pernah terjadi dan membuat mereka menolak untuk menatap masa depan. Kemunduran ini merupakan reaksi yang normal bagi anak dalam rangka mencari tempat yang lebih aman saat mereka merasa tertekan. Begitu anak tumbuh dan berinteraksi dengan dunia sosial yang lebih luas, kualitas hubungan mereka dengan anggota keluarga yang lain dan hubungan dengan ayah dan ibu menjadi sangat penting dan akan terus berpengaruh terhadap perkembangan anak. Anak-anak membutuhkan dukungan dari keluarga dan orang lain yang penting bagi mereka untuk mengatasi kemunduran perkembangan yang kadang-kadang terjadi, dan untuk mengembalikan mereka pada perkembangan yang sehat yang sebelumnya telah dicapai.

Perpisahan dan perceraian merepresentasikan konflik situasional dalam keluarga yang semakin memperburuk konflik pada suatu tahap perkembangan yang mungkin sedang dialami anak sesuai tahap perkembangannya. Ketika sebuah keluarga terpecah, anak-anak biasanya mengalami kekurangan salah satu aspek pendukung untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang sehat, dan mengalami perasaan kehilangan yang sangat besar. Perasaan kehilangan yang berkaitan dengan perceraian sama dengan perasaan kehilangan yang berhubungan dengan kematian. Hal ini terkait dengan perubahan dalam ritme hidup yang akan berlangsung lama dan dalam kehidupan yang dijalani sehari-hari, juga dalam hubungan orang tua dan anak. Kehilangan adalah tema sentral dalam perceraian, sebagaimana terjadi dalam kematian; kehilangan kontak sehari-hari dengan salah satu atau kedua orang tua, kehilangan teman lama, sekolah yang sudah dikenal, tetangga, juga kehilangan kontak dengan keluarga yang lebih besar dari pihak ayah atau ibu, tergantung dengan siapa nantinya anak akan tinggal. Namun, tidak seperti kematian, walau bagaimanapun dalam perceraian masih terdapat pilihan dan walaupun merupakan sebuah krisis dalam hidup yang sangat khusus dan terus menerus melahirkan masalah-masalah baru, namun alternatif-alternatif penyelesaian yang baru pun dimungkinkan untuk dicapai.

REAKSI EMOSIONAL YANG UMUM TERHADAP PERCERAIAN

Bagaimana anak-anak bereaksi terhadap perceraian sangat tergantung pada usia mereka, tahap perkembangan, dan karakteristik kepribadiannya. Reaksi secara individual akan sangat bervariasi tergantung pada masing-masing anak, karena tiap anak hidup dalam lingkungan keluarga yang berbeda-beda, berbeda juga kelebihan dan kekurangannya, dan tergantung pada kebiasaan cara mereka mengatasi masalah. Persepsi terhadap rasa kehilangan interaksi dengan salah satu orang tua bukan hanya bervariasi antara anak yang satu dengan yang lain, tetapi juga dipandang secara berbeda oleh anak yang sama seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan usianya. Reaksi anak terhadap perceraian pada waktu perceraian itu terjadi juga berbeda dibandingkan dengan reaksi mereka beberapa bulan/tahun sesudahnya. Wallerstein dan Blakeslee (1989) menyimpulkan bahwa ” tidak ada seorangpun  yang dapat memprediksikan dampak jangka panjang dari sebuah perceraian terhadap seorang anak berdasarkan reaksi anak tersebut pada saat perceraian baru saja terjadi”. Secara mengejutkan Wallerstein dan Blakeslee menemukan bahwa anak-anak yang menjadi sangat menyusahkan, penuh kemarahan dan tertekan pada saat perceraian terjadi, ternyata mereka dapat menerimanya sepuluh tahun kemudian.

Review dari berbagai literatur menemukan bahwa anak-anak menampilkan beberapa  reaksi emosi yang umum terhadap perceraian. Pemahaman terhadap reaksi ini akan berguna dalam membantu anak melalui krisis pada awal-awal perceraian terjadi dan dalam mempermudah adaptasi jangka panjang yang harus mereka lalui terhadap perceraian itu sendiri.

 

1. Kesedihan akan rasa kehilangan keluarga

Wallerstein mengatakan, bagi anak, perpisahan atau perceraian orang tua secara emosional dapat disamakan dengan kematian orang tua. Anak tidak hanya menderita dan bersedih karena hilangnya kontak sehari-hari dengan salah satu orang tua, dan berkurangnya kontak dengan yang lain, tetapi juga bersedih karena kehilangan rasa aman dan kesejahteraan yang sebelumnya mereka rasakan dalam keluarga. Dalam respon kesedihan ini, termasuk didalamnya juga kebingungan, rasa marah, penyangkalan (tidak menerima kenyataan), tertekan, perasaan hampa dan tak berdaya.

 

” Ketika orang tuaku bercerai, aku sangat merindukan ayahku terutama saat makan malam. Aku selalu melihat kearah tempat duduk dimana biasanya ia duduk, aku merasa bahwa kini kami bukan sebuah keluarga lagi” – anak laki-laki, 10 tahun.

 

2. Cemas akan penolakan, diabaikan, dan perasan tak berdaya

Besarnya perasaan ditolak, biasanya disertai dengan keinginan untuk menyalahkan diri sendiri. Anak-anak menginterpretasikan orang tua yang meninggalkan rumah sebagai penolakan mereka untuk berada didekat anak-anak, dan bukan karena adanya permasalahan dalam perkawinan orang tuanya. Perasaan ini akan semakin besar saat tiba waktunya untuk berkunjung bagi orang tua yang meninggalkan rumah. Jika mereka tidak memenuhi janjinya untuk mengunjungi anak-anak, anak akan merasa ditolak dan merasa sangat tidak dicintai oleh orang tuanya. Anak-anak akan merasa bahwa orang tua yang bersama mereka sekarang juga akan melakukan hal yang sama suatu hari nanti. Mereka merasa sangat tidak berdaya untuk memperbaiki keadaan, untuk mencegah perceraian, dan untuk “memperbaiki ” keadaan orang tua mereka yang saling menyakiti.

 

Ketika ayahku pergi, aku terus bertanya-tanya, akankah ibuku juga pergi?” – Anak laki-laki, 8 tahun.

 

3. Kemarahan

Anak-anak yang terjebak dalam proses perceraian, sangat marah kepada orang tua mereka karena hanya memikirkan kepentingan dan diri mereka sendiri, dan menempatkan anak-anak ditengah-tengah konflik yang mereka alami. Banyak anak mengalami konflik kesetiaan ketika mereka dipaksa harus memilih atau untuk ikut dengan salah satu orang tuanya. Anak-anak sangat menderita karena jika mereka memilih salah satu orang tua, mereka merasa berkhianat atau menghianati orang tua yang satunya. Beberapa anak tidak menampakkan kemarahan mereka, dan menyimpannya diam-diam didalam hati karena mereka tidak ingin membuat orang tuanya semakin kesal. Setiap anak memiliki perbedaan dalam mengekspresikan rasa marah, diantaranya dengan cara tempertantrum (rewel dan cengeng), tingkah laku agresif terhadap orang lain, atau perasaan tak berdaya menghadapi berbagai situasi. Strangeland dkk (1989), menemukan bahwa anak-anak yang memiliki orang tua bercerai, dikatakan sangat marah pada ayahnya, memiliki masalah di sekolah, dan mengalami gangguan (sulit) tidur.

 

“..Aku rasa orang tuaku bertingkah seperti sepasang anak nakal yang sangat manja. Mereka bertingkah seperti bayi…mereka tidak peduli dengan perasaanku….aku hanya anak-anak” –Anak laki-laki, 8 tahun

 

4. Kepahitan (marah yang terpendam) dan rasa kesepian

Anak-anak biasanya akan mengalami perasaan pahit karena kemarahan yang terpendam, karena mereka tidak diajak bicara bahwa akan terjadi perceraian dan tidak adanya kesempatan untuk mendiskusikannya. Kurangnya komunikasi dalam hal ini seringkali diterjemahkan kedalam perasaan sepi karena hilangnya dukungan dari anggota keluarga, keluarga yang lebih besar dan teman-teman. Wallerstein dan Blakselee mengatakan bahwa hampir 50% keluarga yang mereka konsul, menunggu hingga terjadinya perceraian atau beberapa hari setelahnya untuk mengatakan kepada anak-anak bahwa orang tua akan bercerai. Hanya kurang dari 10 % dari anak-anak yang mereka teliti, memiliki orang dewasa yang memiliki empati untuk berkomunikasi dengan mereka sebelum perceraian diputuskan. Fakta lain yang cukup mengejutkan, ternyata kakek dan nenekpun sedikit sekali memberikan support pada saat anak-anak berada pada masa-masa kritis ini.

 

“Suatu hari aku pulang sekolah dan ibuku sudah tidak ada. Ayahku mengatakan bahwa mereka telah memutuskan untuk bercerai dua bulan sebelumnya, tetapi hari itu mereka bertengkar dan ibuku memutuskan pergi sebelum kami pulang dari sekolah. Aku berteriak-teriak dan menangis. Aku sangat marah karena mereka tidak mengatakannya pada kami. Sampai sekarang aku masih merasakan kepahitan dan kemarahannya”  –Anak perempuan, 12 tahun

 

5. Perasaan bersalah dan menyalahkan diri sendiri

Anak-anak seringkali berpikir dan percaya bahwa jika mereka tidak dilahirkan atau jika mereka menjadi anak yang lebih baik, tentu orang tua tidak akan meninggalkan mereka. Anak-anak marah dan menyalahkan orang tu (yang tidak memiliki hak asuh) yang meninggalkan rumah dan menyalahkan orang tua (yang memiliki hak asuh), karena membuat orang tua yang lain meninggalkan rumah. Anak-anak menyayangi kedua orang tuanya, dan takut kehilangan mereka. Perasaan marah anak kemudian digeneralisasikan kedalam perasaan bersalah. Rasa bersalah yang disertai kecemasan dapat menyebabkan sejumlah reaksi emosi pada anak.

 

“...ibu mengatakan bukan aku yang menyebabkan perceraian terjadi, tapi aku tetap merasa mereka bertengkar karena aku” –Anak laki-laki, 9 tahun

 

6. Perasaan cemas dan dihianati

Karena anak-anak merasa cemas bahwa hidup mereka akan selalu terganggu oleh adanya perceraian orang tuanya, anak-anak akan selalu merasa tidak pasti mengenai masa depan mereka, dan tentang sebuah hubungan. Remaja-remaja tertentu memiliki kesulitan untuk mempercayai orang lain, takut menyakiti mereka dan merasa dikhianati oleh orang tuanya. Beberapa anak memiliki perasaan malu dan ragu, menarik diri dan takut untuk dicintai dan mencintai. Anak-anak yang lain menyimpulkan bahwa mereka tidak berharga dan tidak pantas untuk dicintai.

 

” Ketika ayahku pergi, ibuku menangis sepanjang waktu dan mengurung diri di rumah. Lalu suatu hari ia bertemu seseorang dan kemudian berhubungan dengannya. Ibu meminta ayah membawa kami untuk pergi di akhir minggu, tetapi ayah mengatakan bahwa ia tidak bisa karena terlalu sibuk. Aku merasa sedih sekali karena tidak ada yang menginginkan kami bersama mereka” – Anak laki-laki, 12 tahun.

Untuk lanjutan artikel ini dapat dibaca di https://nsholihat.wordpress.com/2011/07/05/anak-anak-dan-perceraian-2-tugas-tugas-psikologis-yang-berkaitan-dengan-perceraian/

 

 

 


 

child-abuse2 Untuk kesekelian kalinya, 1 minggu yang lalu saya dihadapkan pada kasus kekerasan seksual pada anak. Yang paling menyedihkan saat menghadapi kasus seperti ini adalah, saat pelaku dan korban, keduanya sama anak-anak.

Seminggu yang lalu, sepasang suami istri membawa anaknya berusia 10 tahun, laki-laki. Anak ini baru saja melakukan aktivitas seksual dengan temannya sesama laki-laki, dengan melakukan ‘o**l s**s’. Aktivitas ini dilakukan di kelas saat jam pelajaran, ketika guru tidak ada di dalam kelas. Anak ini berdua dengan temannya, diancam oleh teman sekelasnya yang lain, untuk melakukan hal itu, jika tidak akan dipukuli. Sebelum melakukan kegiatan tersebut,  mereka menonton video porno di  youtube, melalui handphone temannya. Ini adalah yang ketiga kalinya, sementara aktivitas menonton video porno baik melalui hp maupun warnet sudah 1o kali karena diajak teman.

Anak ini, dari penampilannya tampan, bersih dan sangat stylish. Latar belakang kedua orang tua adalah pengusaha sandal, cukup mampu secara finansial, namun kurang berpendidikan, juga tidak update terhadap teknologi. Anaknya tidak punya hp, PS ataupun mainan-mainan yang berbau teknologi kekinian. Pengetahuan dan paparan konten dan aktivitas pornografi dan pornoaksi, sepenuhnya didapat dari temannya. Ia kemudian dikeluarkan dari sekolah karena masalah ini.

Interview saya dengan anak ini, menyajikan data sebagai berikut. Ia tidak tahu apa makna dari aktivitas seksual yang ia lakukan dengan temannya. Ia hanya meniru, tanpa tahu maksud dari aktivitas tersebut. Ia tidak merasakan sesuatu saat melakukan hal itu, hanya rasa sakit saja (Ia belum aqil baligh, belum mengalami mimpi basah). Mengapa sampai tiga kali melakukan aktivitas tersebut, karena kalau tidak mau akan dipukuli dan setelah melakukannya ia dibayar dua ribu rupiah oleh teman yang menyuruh dan menontonnya. Saat ini ia masih suka pada anak perempuan (alhamdulillah, orientasi seksualnya masih normal).

Catatan penting yang bisa diambil adalah:

  1. Memilih lingkungan yang baik, mengenal teman anak-anak, mengetahui dan mengontrol aktivitas bermain mereka, adalah penting untuk dilakukan oleh orang tua setiap harinya.
  2. Anak yang tidak terpapar teknologi, tidak ada jaminan bahwa mereka aman dari pengaruh pornografi dan pornoaksi.
  3. Mengajari mereka tentang menjaga anggota tubuh, bagaimana memperlakukannya, menutupinya, dll juga penting.
  4.  Orang tua perlu terus belajar, meng-up grade pengetahuan tentang segala hal yang berbau kekinian, yang berhubungan dengan kehidupan anak-anaknya.
  5. Berdo’a. Minta pada Allah dengan sepenuh hati agar Ia menjaga anak-anak kita. Do’akan anak-anak saat mereka keluar rumah, agar ia terjaga dari mata-mata jahat yang berniat melukainya.

Wallahu a’lam bish showab.

hal-yang-harus-diwaspadai-agar-tidak-dilecehkan-seksual

 

 

Personality Development


Mengapa mampu mengelola diri sendiri penting untuk remaja?

“Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan segala sesuatu dimuka bumi dalam keadaan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka selamatkanlah kami dari siksa neraka” (QS. Ali Imran; 191)

Materi-materi dalam tulisan ini adalah materi kuliah Personality Development yang saya ampu di LP3I Tasikmalaya. Selama kurang lebih 5 tahun menyampaikan materi ini kepada mahasiswa-mahasiswa baru yang notebene adalah remaja berusia antara 17-18 tahun, dan disiapkan untuk menjadi seorang profesional hanya dalam waktu 2 tahun, justru menyadarkan saya bahwa ternyata, memiliki tujuan hidup, mengetahui apa yang menjadi kekuatan dan kelemahan, dan menyusun strategi untuk bisa mengelola kehidupan dengan berbagai permasalahannya, adalah salah satu soft skill yang sangat penting untuk dimiliki sejak kita muda. Semakin menyadari apa yang kita inginkan dalam hidup, bagaimana meraihnya, bagaimana mengelola dan mengatasi hambatannya agar kita dapat mencapai apa yang kita inginkan, akan mengembangkan semacam kecerdasan dalam diri kita, kecerdasan dalam mengelola dan menghadapi kehidupan. Kecerdasan yang kita butuhkan untuk bisa survive dalam kehidupan yang sangat unpredictable.

Berproses bersama remaja-remaja yang muda, bersemangat, tidak mau berlama-lama sekolah dan hidup dalam teori, kemudian juga menggugah dan mempengaruhi saya bahwa mereka ini adalah anak-anak muda yang sebagian besar sudah tahu betul apa yang mereka inginkan dalam hidup. Mereka ingin segera bekerja baik sebagai pegawai di kantor maupun sebagai entrepreneur, menafkahi diri sendiri, mandiri secara ekonomi dari orang tua, bisa mencicil kendaraan dengan uang sendiri, membantu orang tua membiayai pendidikan adik-adiknya, bisa menabung untuk memberangkatkan orang tua beribadah haji, dll. Mereka punya tujuan-tujuan hidup yang sangat luhur, namun praktis dan terukur, yang ketika saya berada di usia mereka, bahkan belum memikirkannya.

Remaja, anak muda yang punya arah yang jelas akan kehidupannya, akan lebih mungkin terhindar dari masalah-masalah negatif, perilaku yang tidak produktif, tindakan kriminal, atau hidup dalam kesia-siaan. Anak muda yang tahu betul apa yang diinginkannya, akan sibuk dengan berbagai kegiatan dan aktivitas yang memang ia butuhkan untuk meraih cita-citanya. Energinya akan habis dalam kebaikan dan usaha untuk mengejar mimpi-mimpinya, bukan hanya sibuk bermimpi. Maka menjadi jelas ungkapan Presiden Soekarno yang sangat terkenal, “Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia” tentu yang dimaksud adalah anak-anak muda yang tahu apa yang diinginkannya. Atau jargon yang sekarang sering disosialisasikan oleh dokter muda, dr. Gamal Albinsaid, dari kota Malang, “Muda Mendunia” sangat mungkin untuk dicapai jika remaja-remaja ini menyibukkan dirinya dalam kebaikan dan usaha mewujudkan visi misi hidupnya. Alih-alih sibuk nongkrong di gang sempit sambil bermain gitar fals dan menggoda gadis-gadis yang lewat, atau sibuk pamer kendaraan di jalan hasil kredit orang tuanya.

Maka, mengampu mata kuliah Personality Development, secara tidak disadari ternyata justru mengajari saya, membangunkan kesadaran saya, bahwa hidup harus punya arah dan tujuan sedari muda, sedini mungkin. Agar penciptaan kita oleh Allah yang Maha Kuasa tidak sia-sia, kehadiran kita didunia ini punya makna dan bermakna bagi alam semesta. Minimal keluarga. So proud of you all my students. May Allah bless all of you. Aamiin.

2nd-character

3rd-the-power-of-mind

4th-personality

communication1

communication-and-self-disclosure-2

interpersonal-skill

attitude-and-personality

pencarian-peluang-dan-merencanakan-hidup-dan-karir

etika-busana-dan-tabel-manner2

persiapan-kerja

8th-personality-and-ethics

job-interview

Perang Ibu Jilid II


saver community

Setelah sebelumnya sempat ramai perang antar ibu, yang mempertentangkan antara ibu bekerja (working mom) dan ibu rumah tangga (full time mom), kini muncul perang baru yang mempertentangkan antara ibu penerima metode bentak dan marah dan ibu penolak metode bentak dan marah dalam proses pengasuhan anak.

Untuk mengingatkan saja, barangkali ada diantara kita yang sempat mem-post-ing atau men-share-ing link dari sebuah laman facebook tentang kerusakan yang akan dialami otak anak dari sebuah bentakan orang tuanya? Nah setelah artikel itu bergulir secara bebas di media sosial dan dibagikan secara masif dan terstruktur (hehehe lebay banget!) di laman fb masing-masing ibu, ternyata melahirkan reaksi yang menarik dari kelompok ibu yang lain.

Muncullah kemudian, kelompok ibu-ibu yang membagikan tulisan melalui media sosial juga, yang intinya menyuarakan pendapat bahwa seorang ibu berhak dan pantas marah, bahkan melakukan kekerasan pada anaknya jika anaknya bertingkah laku negatif, sulit diatur dll, dengan menyitir sebuah hadist tentang diperbolehkannya orang tua memukul anaknya yang telah berusia 10 tahun dan tidak mau sholat. Untuk memperkuat alasan dan latar belakang mengapa sampai seorang ibu perlu membentak, memukul, bahkan digambarkan konflik dan sulitnya menjadi seorang ibu yang berjuang membesarkan dan mendidik anak dengan berbagai masalah dan tantangannya dengan sangat detail dan menyentuh. Namun demikian, artikel itu diakhiri dengan mengatakan bahwa mereka pun setelah berlaku keras pada anaknya, pasti merasa bersalah, bahkan menangis sambil memeluk anaknya, dan kemudian meminta maaf. Pertanyaan saya, kalau memang tahu itu salah, lalu mengapa masih melakukannya dan menganggap bahwa melakukan kekerasan pada anak adalah boleh?

Tidak mudah menjadi seorang ibu, ini adalah pekerjaan terberat dan tersulit di dunia menurut saya. Tidak ada satu metode pengasuhan yang berlaku umum dan sukses diterapkan pada semua situasi, ketika kita berhadapan dengan seorang anak, apalagi banyak anak. Bahkan perlu banyak metode dan pendekatan yang harus dikombinasikan untuk bisa berhasil dalam membiasakan 1 tingkah laku baik pada anak atau hanya untuk mengurangi 1 saja tingkah laku negatifnya. Apalagi untuk mengasuh dan membesarkannya secara umum. Mengasuh dan membesarkan anak ganjarannya surga, maka pasti tidak mudah melakukannya. Diantara banyak metode pengasuhan anak, saya tetap memilih dan menganjurkan, untuk tidak menggunakan metode membentak dan memukul sebagai salah satu caranya. Ini diantara alasannya.

Dalam sebuah sesi konseling, seorang ibu membawa anak laki-lakinya yang berusia 10 tahun, kelas 4 SD. Ibu ini menerima saran dari kepala sekolah anaknya untuk membawa anaknya ke psikolog, karena dia baru memukul temannya, dan mengakibatkan temannya itu harus menerima 8 jahitan di kepalanya. Permintaan ibunya pada saya adalah, tolong anak saya diterapi karena ini kali kedua anaknya melukai orang lain yang mengakibatkan luka serius pada orang yang dilukainya, dan sudah sering terlibat pertengkaran dengan teman-teman sekolahnya. Anak ini badannya besar sekali, bahkan lebih besar dari saya. Yang membuat ia memukul temannya adalah, karena ada teman yang duduk di belakangnya, berbisik-bisik ke teman yang lain saat ia lewat, dan mengatakan, “beruang”. Ia pikir, temannya itu mengejeknya dengan mengatakan bahwa ia beruang.

Setelah mengobrol dan mendapat informasi dari anak dan Ibu, here are the story.

Anak ini hingga usia 3 tahun dibesarkan oleh ibu saja, single parent. Dengan kondisi single parent, ibu mengakui bahwa terkadang hidup dirasa sangat sulit dan secara emosi Ia sering lepas kontrol, namun tidak pernah menyakiti secara fisik, hanya suka membentak saja. Beberapa bulan setelah ulang tahun anak lelakinya yang ke-3. Ibu menikah lagi. Dan kemudian melahirkan anak perempuan. Perangai ayah kepada anak laki-lakinya kemudian berubah. Menjadi keras, mudah memukul, terutama jika ia ‘mengganggu’ adiknya dan membuat adiknya rewel. Mencubit, menjewer, bahkan menampar dan menghukum kurung di kamar mandi adalah biasa. Ibu tidak bisa berbuat apa-apa, karena merasa terjepit. Terkadang juga ikut memarahi dan membentak.

Saya tanya pada anak ini tentang ibunya, jawabnya adalah “aku sayang mama, walaupun mama suka marahin aku.”

Ketika saya tanya apa yang ia pikirkan tentang ayahnya, jawabannya adalah “aku ngebayangin bu, aku ikat tali yang halus, mungkin benang layangan warnanya bening, yang satu di kaki kursi di ruang tivi, terus yang satu lagi di kaki kursi meja makan, kenceng banget aku ngiketnya. Terus papa lewat situ nggak liat ada tali, terus kakinya kesangkut, dia jatuh ke lantai kepalanya bocor sampai berdarah. Aku suka bu bayangin itu kalo papa lagi pukulin aku”

Saya sampaikan pada ibunya, apa yang dikatakan anaknya, Ibunya menangis berlinang air mata.

Ibunya bertanya, “bisakah dengan terapi atau alat permainan apa anaknya menjadi tidak mudah marah dan tidak suka memukul”?

Saya katakan saya bisa membantu melatihnya untuk mengelola emosi, belajar mengekspresikan marah dengan cara yang baik dan tidak mencelakai orang lain, tetapi tetap tidak akan efektif jika pola pengasuhan di rumah tidak di ubah.

Tidak ada alat bermain atau alat terapi yang bisa mengubahnya. Ubah pola pengasuhan anak di rumah, maka anak akan berubah. Ibu kembali berlinang air mata.

Untuk menghibur ibu, saya katakan, bagaimana jika mereka sekeluarga sering bermain bersama, misalnya main ular tangga, ludo, monopoli, atau halma (hadeuh jadul pisan ya!) atau permainan lainnya (yang lebih kekinian), dengan bahagia, dan tidak ada kekerasan baik lisan maupun fisik kepada anaknya, cobalah satu minggu saja. Jika berhasil lakukan terus secara rutin. Kemudian ibu buktikan, apakah alat ini bisa mengubah tingkah laku negatif anak atau tidak. Ibu tersenyum.

Yang menjadi concern dan kekhawatiran utama saya adalah, jika kita memberlakukan kekerasan di rumah pada anak, ia bisa melakukan hal yang sama di luar rumah, kepada orang lain. Karena ia menganggap, melakukan kekerasan adalah boleh, salah satu cara untuk menyelesaikan masalah, atau untuk mendapatkan apa yang ia mau. Padahal jika anak sudah di luar rumah, dengan berbagai stimulus yang menghampirinya, dan tidak bisa kita kontrol, maka satu-satunya cara bertindak yang akan ia lakukan adalah cara bertindak yang menurut dia berhasil mengendalikannya, yang ia pelajari dari rumahnya. Jika Bapak/ibu berpikir dan punya pengalaman bahwa baru setelah dibentak dan dikerasi anak bisa dikendalikan, maka begitu jugalah cara anak kita berpikir. Yakinkah Bapak/Ibu ingin mewarisi pemikiran dan kebiasaan tersebut pada anak-anak?

Diakhir pembicaraan, saat saya tanya mau kesini lagi gak, anak ini menjawab dengan riangnya, “gak ah Bu Neni mah kepmal, alias kepo maksimal!”

Bwhehehe…what a sweet boy.

Wallahu a’lam bish showab.

Tulisan lain yang terkait bisa dilihat di https://nsholihat.wordpress.com/2012/07/31/pukul-aku-maka-aku-akan-belajar-memukul atau https://nsholihat.wordpress.com/2012/08/08/bullying-oh-bullying


family2

Bulan Februari kemarin, adalah 5th anniversary saya menjadi seorang psikolog, dan memberanikan diri terjun di dunia profesional sebagai praktisi psikolog. Belum banyak keterampilan dan pengetahuan saya sesungguhnya ketika mulai menceburkan diri di dunia profesi psikologi, tetapi seorang dosen saya yang sangat saya hormati, beliau juga salah satu pembimbing thesis saya, terus menyemangati dan ‘ngomporin’ untuk berani melakukan praktek sebagai seorang profesional jika sudah lulus. “Kamu justru akan lebih banyak belajar dari klien-klienmu, kalau ada kasus yang sulit, kamu ke Bandung ketemu saya dan kita diskusi”, begitu ucap beliau disebuah kesempatan. Dalam beberapa kesempatan mengikuti pelatihan yang beliau selenggarakan, saya memang sengaja menemuinya untuk lapor, hehehe…khususnya untuk kasus-kasus yang saya pikir berat dan butuh second opinion dalam menanganinya.

Maka begitulah, setelah ijin praktek psikolog saya terbit, saya memberanikan diri ‘nongkrong menunggui lapak saya’, untuk mulai perform dan menari bersama-sama dengan kasus-kasus yang datang. Sampai sekarang pun saya masih terus belajar dari guru-guru, teman-teman, para orang tua, klien-klien dan kasus-kasus yang saya hadapi.

Yang saya tulis disini adalah sebagian kecil dari kasus yang pernah saya hadapi, mewakili kasus lain yang senada. Tidak ada maksud lain selain berbagi kisah saja dan mari belajar bersama-sama, semoga ada lebih banyak manfaat yang bisa diambil dan dipelajari, oleh lebih banyak orang yang tidak punya kesempatan menghadapinya.

BELAJAR DARI ORANG TUA KLIEN TK DAN SD
“Saya katakan jujur pada ibu, memang anak saya sedang mengikuti les calistung secara private, pertimbangan kami tahun depan ingin dia sudah bisa masuk SD, jadi harus disiapkan dari sekarang, selain itu saya pikir adalah manusiawi jika kami membandingkan kemampuan anak kami dengan anak-anak lain seusianya ada yang sudah bisa calistung, tidak masalah jika dia berada di posisi terbawah sekalipun dalam kemampuan itu, yang penting dia bisa”

(Seorang ayah dari anak berusia 5 tahun 4 bulan, dengan kondisi pemahaman anak terhadap bentuk geometris dasar masih kurang, kemampuan membedakan kanan kiri/lateralisasi belum ajeg, pengetahuan terhadap warna masih kurang, info dari guru: di kelas anak sering melamun, hayalannya sangat tinggi dan senang mengarang serta melebih-lebihkan cerita )
“Saya pusing Bu, kadang-kadang saya pikir saya tidak bisa dan sudah gagal menjadi seorang ibu, anak saya sering dibanding-bandingkan dengan sepupunya, dia sudah bisa apa, pialanya udah ada berapa di rumah, saya sering kesal bu, kalo saya kesal kadang anak saya saya marahin, soalnya anak saya itu belum bisa apa-apa bu, huruf aja masih belum hapal, warna juga sama, pernah saya kasih benda-benda warna hijau semua, terus saya tanya mana yang warnanya hijau, dia nggak tau juga, Iqro nya masih iqro satu, saya tidak punya pengetahuan tentang ngurus dan ngajarin anak bagaimana, makanya saya sekolahkan, saya les- kan membaca, guru-guru dan orang di tempat les kan lebih tau bu bagaimana mengajari anak”

(Seorang Ibu dari anak laki-laki berusia 4 tahun 11 bulan, info dari guru, anak ini empatinya sangat tinggi, jika ada teman yang menangis atau dipukul oleh teman yang lain, ia-lah yang menghibur temannya tersebut)

Ya ampun Bu, anak saya itu manja banget, apa karena dia anak bungsu ya, padahal secara akademik saya perhatikan dia lebih pintar dari dua kakaknya, dia bisa baca sendiri lewat main game, lebih cepat bisa bacanya daripada kakak-kakaknya, tapi bu di rumah, semua-semua masih harus dilayani, pake kaos kaki aja masih harus dipakein, baju bekas pake, mainan, buku pelajaran masih harus saya yang ngeberesin, terus itu bu…masih aja gelendotan sama saya kalo kemana-mana, terus kalo udah nggak mau sekolah, saya nggak bisa ngapa-ngapain, pernah udah sampe sekolah nggak mau turun dari mobil, nggak mau sekolah katanya, tapi saya suruh turun bilang sendiri ke gurunya kalo lagi nggak mau sekolah dia mau bu, turun bilang ke gurunya, terus pulang lagi, di rumah padahal nggak ngapa-ngapain bu, ngintilin saya aja terus…beberapa kali bu dia kayak gitu…terus kalo udah nanya…nggak pernah berhenti bu, kalo belum puas terus aja nanya, saya suka mati gaya bu, kalo udah ditanya sama dia…hehehe…”
(Seorang Ibu dari anak perempuan berusia 4 tahun 8 bulan)

Barangkali diantara kita ada yang mengalami masalah yang sama atau mengenal beberapa orang yang punya pengalaman yang sama, menghadapi anak-anak usia prasekolah yang menurut kita “belum bisa apa-apa atau tidak bisa apa-apa”. Kita sering kali tidak menyadari bahwa sesungguhnya anak kita bisa melakukan banyak hal, namun kita terlalu fokus pada apa yang ia tidak bisa. Kita lupa mengapresiasi ketika anak-anak kita bisa bermain dengan teman-temannya, bisa bertingkah laku sopan, murah hati dan mau berbagi kepada orang lain, bisa bermain dengan damai dan menyayangi saudara, binatang atau barang-barang milikinya, bersedia mengantri di tempat main, makan sendiri, bisa membersihkan sendiri ketika ke kamar mandi, mengucap salam ketika masuk ke rumah, mencium tangan orang yang lebih tua, mau shalat jum’at di mesjid dll. Kita lupa mengapresiasi dan mengakui, bahwa mereka bisa melakukan sesuatu yang baik.

Kita cenderung mengabaikan apa yang mereka sudah bisa, dan menganggap bahwa hal itu memang sudah seharusnya mereka lakukan. Kita tidak memandangnya sebagai sebuah kemampuan yang berarti dan pantas dihargai. Padahal, softskill semacam itulah justru keterampilan yang akan mereka gunakan seumur hidupnya. Bekal attitude dan kemampuan yang pada tahap usia berapapun akan sangat mereka butuhkan untuk bisa berhasil dalam hidupnya. Seringkali kita menganggapnya bukan sesuatu yang istimewa dibandingkan bisa membaca dan punya banyak piala.

Dan standar kompetensi pendidikan anak prasekolah, memang bukan tentang kemampuan akademik.

Saya pikir, taman kanak-kanak dan sekolah dasar, mestinya adalah fondasi, sebuah alas, blue print, gambaran awal yang kita siapkan pada anak tentang sekolah dan pendidikan formal. Masih ada belasan tahun ke depan, waktu sekolah yang serius yang harus mereka jalani. Kita ingin anak-anak punya ingatan yang positif dan pengalaman yang menyenangkan tentang sekolah, supaya ketika nanti mereka ‘benar-benar sekolah’, mereka akan happy dan bersemangat menjalaninya.

Jika di TK dan SD anak-anak tidak mendapatkan pengalaman menyenangkan tentang sekolah, justru sekolah dihayati sebagai institusi yang menekan, menakutkan, bikin capek dan membuat malas, lalu bagaimana mereka akan bersemangat dan senang menempuh pendidikan selanjutnya, yang justru lebih penting dalam menentukan kehidupan mereka di masa yang akan datang.

BELAJAR DARI ORANG TUA KLIEN REMAJA

Saya tidak mengerti Bu, anak saya sekarang sulit sekali diatur, apa yang kami ingin dan suruh dia tidak lakukan, apa yang kami larang malah dia lakukan, beberapa kali dia pernah mencuri uang saya, suka berbohong, berhutang pada orang lain, dan pernah dua kali memakai kendaraan tanpa ijin, padahal dia tidak punya SIM, pake motor aja saya larang, ini malah bawa kabur mobil, saya kehabisan cara menghadapinya Bu”
(Seorang ayah, dari anak berusia 15 tahun, kelas 1 SMA)

Cucu saya tidak bisa bergaul, tidak berani pergi kemana-mana, sering dimanfaatkan temannya, study tour tidak pernah ikut karena dia tidak bisa makan sembarangan, ke kamar mandi juga tidak bisa sembarangan, di rumah sering marah-marah nggak jelas, diajak bicara baik-baik tidak bisa, diam saja atau marah-marah dan membentak-bentak, sudah dua minggu ini dia menolak untuk sekolah”
(Seorang kakek dari anak perempuan berusia 14 tahun, kelas 2 SMP)

“Anak saya sudah bolak-balik di panggil guru BK, saya adalah tamu rutin ruang BK Bu, dia sering bolos sekolah, padahal dari rumah dia selalu berangkat tapi sering tidak sampai di sekolah, nyangkut di bengkel, di warnet atau di kantin. Pernah kabur dua kali tidak pulang ke rumah gara-gara motornya saya sita, motornya suka dioprek bu, masih baru diganti ini itu sampe jadi rongsokan, itu dipengaruhi sama gank-nya bu, gank-nya itu remaja yang diatas umurnya dan pengangguran, sekolah nggak, kerja juga nggak. Sekarang saya tahu tempat dia nongkrong dimana aja bu, base camp-nya saya tau, pentolan gank-nya saya tau, saya punya nomer telepon mereka semua, pernah saya datangi dan ancam segala, kalo macem-macem sama anak saya, saya akan lapor polisi, anak saya bukannya takut dan nurut sama saya bu, malah lebih berani lagi, bahkan sekarang sudah berani membentak dan melawan saya jika saya marahi”
(seorang Ibu dari anak laki-laki usia 12 tahun, kelas 1 SMP)

Yang khas dari klien remaja dan orang tua para remaja adalah, pola komunikasi dan pola pendekatan dalam mengasuh mereka. Begitu anak tumbuh dan berkembang, semestinya pola pengasuhan kita pun tumbuh dan berkembang sesuai perkembangan anak-anak. Pola komunikasi yang menuntut, mengarahkan tanpa memberi kebebasan, harus ini harus itu, yang bisa diterima oleh anak-anak diusia yang lebih muda, semestinya berubah menjadi lebih lentur dan luwes ketika mereka beranjak remaja.

Memasuki remaja, ada banyak perubahan drastis pada anak kita, diantara yang paling khas adalah perkembangan dalam kemampuan berpikir dan membuat keputusan, juga tentang bagaimana anak-anak menampilkan dirinya di lingkungan. Anak harus selalu dilibatkan dalam membuat keputusan yang berkaitan dengan kehidupan mereka. Peraturan adalah sesuatu yang harus bisa didiskusikan, termasuk juga dalam menentukan konsekuensi dari pelanggarannya.

Pernah dalam satu sessi konseling saya menghadapi remaja, yang menurut orang tuanya ia bermasalah, namun ia sendiri merasa baik-baik saja.

Klien: “Bu, berapa lama biasanya ibu konseling sama klien ibu?”
Saya: “ tergantung, bisa 1 jam, atau kurang atau maksimal 2 jam, kenapa?”
Klien: “Ya udah bu, saya numpang main game sama baca buku ya disini, ibu kerjain aja kerjaan ibu yang lain, saya nggak akan ganggu ibu, ntar satu jam lagi saya selesai, anggap aja kita udah konseling, gimana bu?”
Saya: “ Oke, sambil ngobrol boleh nggak?”
Klien: “boleh bu”
Saya: “orang tuamu pikir kamu bermasalah dan perlu bantuan saya”
Klien: “Saya pikir orang tua saya yang bermasalah bu, saya mah baik-baik aja, mereka aja yang nggak nyambung sama saya”
Saya: “kalo kamu merasa nyambung sama orang tuamu?”
Klien: “Nggak juga bu, tapi saya biasa-biasa aja, ortu saya nggak ngerti saya bu, tapi bodo amat ah..saya sih asik-asik aja..hehehe…”

Lalu, selama satu jam lebih kami mengobrol sambil melakukan kegiatan kami masing-masing, dan diakhir pembicaraan kemudian, klien remaja saya ini mengucapkan terima kasih karena saya sudah mau mengobrol dengannya, dan membiarkan dia melakukan apa yang ingin dia lakukan di ruang konseling saya.

Remaja memang unik, jika ada yang mengatakan bahwa proses parenting, membesarkan dan mengasuh anak adalah proses wiring, menyambungkan kabel-kabel sistem syaraf otak anak hingga terhubung dengan sempurna di usia 25 tahun, maka menyambungkan kabel syaraf di usia remaja adalah yang proses menyambungkan yang paling kompleks. Secara neurologis, saat remaja inilah otak mengalami ledakan perkembangan yang sangat dahsyat. Ledakan perkembangan otak remaja umumnya mulai di usia 13 tahun dan selesai sempurna di usia 25 tahun. Itu sebabnya remaja tingkah lakunya menjadi sulit ditebak, menentang, mengamuk, marah-marah tidak jelas dan senang melakukan tindakan-tindakan yang beresiko tinggi. Dalam ledakan perkembangan itu otak remaja mengalami pemangkasan sambungan sel sel otak yang tidak perlu, namun juga mengalami penguatan sambungan sel-sel otak yang sering ia pakai.

Proses penyambungan syaraf-syaraf otak ini berlangsung dari bagian belakang otak ke arah depan, berturut-turut mulai dari cerebellum (otak kecil) tempat koordinasi motorik fisik, amygdala tempat pengontrol emosi, nucleus acumbens tempat pengontrol motivasi, dan bagian terdepan yaitu daerah prefrontal cortex, area judgment kemampuan menilai situasi, yang mengontrol reasoning (penalaran) and impulses (dorongan). Area prefrontal cortex ini adalah area yang paling matang belakangan yaitu ketika manusia menginjak 25 tahun. Karena itu, jika remaja tampak kacau, tingkah lakunya menyulitkan, susah dipahami, satu-satunya alasan mengapa mereka seperti itu, ya karena mereka REMAJA. Otaknya ‘salah’. Itu saja. Perkembangan otaknya memang sedang meledak, dimana-mana dan pada peristiwa apa saja jika terjadi sebuah ledakan, tentu ada banyak masalah yang muncul. Begitu pula dalam hidup remaja.

Maka menemani remaja, biasanya menjadi masa paling sulit pada periode pengasuhan, setelah kita mengalami itu juga ketika anak memasuki usia 3 tahun. Ini seperti siklus berulang. Tetapi tenang saja, akan ada masanya periode strum and drung, topan dan badai ini berlalu, lalu mereka akan tumbuh menjadi manusia-manusia yang matang dan bertanggung jawab dalam hidupnya.

Selamat menari bersama anak-anak Bapak Ibu, dan nikmatilah tarian itu pada setiap babak dan episodenya!
Wallahu a’lam bish-shawabi.

family4


child abuse4

Sebagai orang tua, kita adalah garis terdepan support system yang dimiliki oleh anak-anak kita. Sehingga menjadi sangat penting bagi kita untuk memiliki saluran komunikasi yang bagus dengan mereka dan memiliki relasi yang dekat berlandaskan rasa saling percaya. Ketika anak-anak (berapapun usia mereka), memiliki permasalahan dalam hidupnya, kita ingin mereka menjadikan kita sebagai orang pertama yang mereka cari, kita ingin mereka merasa nyaman untuk bicara dengan kita sebebas-bebasnya.

Adalah penting juga bagi kita untuk memiliki kemampuan mengindentifikasi atau mengenali saat anak kita sedang bermasalah dengan emosinya. Biasanya anak-anak akan menyimpan sendiri berbagai perasaan ataupun emosi yang sedang mereka rasakan, terutama emosi negatif. Ketika mereka sedang memiliki masalah, biasanya mereka tidak akan bicara atau meminta bantuan. Mereka tidak sadar bahwa sebetulnya mereka punya bantuan yang tersedia, jika mereka membutuhkan. Sehingga, sekali lagi penting bagi orang tua untuk bisa mendeteksi secara dini, ketika terjadi sesuatu pada anak-anaknya dan bagaimana melakukan pendekatan dengan mereka untuk membantunya.

Membuat anak-anak untuk terbuka dan bicara, adalah sesuatu yang sangat menantang, it’s challenging! Banyak orang tua tidak mampu dan merasa gagal untuk mengajak anaknya bicara, dan kemudian harus meminta bantuan orang lain untuk bisa tahu apa yang dirasakan atau diinginkan oleh anaknya.

Dibawah ini terdapat beberapa tips yang bisa membantu untuk memulai pembicaraan dan untuk bisa memahami apa yang terjadi pada mereka.

• Buat mereka merasa aman dan nyaman
Jika ingin membuat mereka bicara, maka kita harus membuat mereka nyaman untuk bicara. Anak-anak perlu tahu mengapa kita ingin bisa bicara dengan mereka, atau mengapa mereka bisa bicara dengan kita, kita tidak akan menghakimi. Tujuan kita bicara dengan mereka adalah untuk memahami, sehingga kemudian bisa membantu. Anak-anak takut sekali jika mereka sudah melakukan kesalahan atau mereka menghadapi masalah yang besar. Mereka takut disalahkan, atau mereka akan dihukum, jika mereka bicara pada kita. Yakinkan pada mereka bahwa bukan itu intinya, dan bukan itu tujuan kita. Kita ada untuk memberi dukungan pada mereka. Bisa juga orang tua, membiasakan untuk berbicara pada anak-anak secara rutin, misal setiap makan siang, atau makan malam, atau saat menemani mereka belajar, atau saat akan mengantarkan anak-anak tidur. Bicarakan berbagai hal secara regular di waktu-waktu tertentu. Sehingga ketika mereka menghadapi masalah mereka sudah biasa bicara secara terbuka.

• Dengarkan mereka
Ini penting, meski simpel, tidak semua orang bisa mendengarkan. Dalam bahasa Inggris, mendengarkan memiliki dua pengertian, hearing dan listening. Meski keduanya memiliki arti sama, yaitu mendengar, tetapi ada perbedaan mendasar dari keduanya. Hearing adalah mendengar secara fisik, berkaitan dengan organ, dalam hal ini telinga. Kita semua bisa hearing jika telinga kita tidak ada masalah dalam fungsinya. Tetapi belum tentu bisa listening. Listening adalah mendengar dengan memahami, memaknai dan memilih respon yang tepat. Tidak semua yang disampaikan anak kita membutuhkan respon yang sama. Ada ungkapan yang bagus sekali untuk hal ini, “people tend to reply when they communicate, instead of understanding”. Ketika berkomunikasi, kita seringkali sibuk dengan ingin segera memberi respon, tanpa berusaha terlebih dahulu memahami. Kita bicara dengan anak kita bukan sekedar untuk merespon mereka, tetapi yang lebih penting adalah untuk memahami mereka.

• Affirmasi dan dukung mereka untuk mendapatkan pertolongan
Ketika anak-anak datang pada kita dan menyampaikan bahwa mereka sedang punya masalah, mereka marah, mereka sedih atau mereka kesal, atau mereka merasa telah melakukan kesalahan yang besar, Peluk mereka. Kemudian sampaikan bahwa kita merasa senang dan bangga, juga berterima kasih karena mereka sudah mau membagi apa yang sedang mereka rasakan ataupun hadapi. Affirmasi yang kita sampaikan, akan membuat mereka merasa diterima. Kita senang dan bangga karena mereka punya keberanian untuk bicara dan mengakui bahwa mereka punya masalah. Kita berterima kasih karena mereka percaya kepada kita, dan mau berbagi masalahnya. Jika kita tidak bisa membantu atau kita pikir mereka membutuhkan bantuan dari orang lain yang lebih ahli, tawarkan pada mereka bantuan tersebut. Bicara dengan guru BK- nya atau menemui psikolog, jika mereka bersedia.

• Tulus
Kendalikan reaksi dan ekspresi kita saat anak-anak sedang bermasalah. Tetapi juga jangan terlalu kaku dan teoritis. Jadilah diri sendiri, sebagai orang tua, kita punya cinta dan kasih sayang yang tidak dimiliki siapapun, termasuk orang yang ahli membantu sekalipun. Jadi bantulah anak kita pertama kali dengan modal yang kita punya, yaitu cinta dan kasih sayang yang tulus. Jika kita terbuka, bersikap apa adanya dan tenang, itu juga akan menenangkan mereka.

Beranilah untuk mengatakan tidak tahu
Sebagai orang tua, adalah wajar jika kita tidak tahu segala hal, atau kita tidak punya jawaban terhadap masalah anak kita. Jika kita tidak punya jalan keluar atau tidak tahu harus berbuat apa, katakan itu pada mereka. Tetapi pada saat yang sama, mereka juga harus tahu bahwa kita akan melakukan berbagai cara untuk mengatasinya, termasuk meminta bantuan ahli misalnya, dan kita akan berada bersama mereka ketika bantuan itu datang.

HATI-HATI DAN WASPADAI TANDA-TANDA KECENDERUNGAN BUNUH DIRI

Tindakan bunuh diri bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk oleh anak-anak dan ini bisa dicegah.Terkadang, anak-anak atau mereka yang sedang memikirkan untuk mengakhiri hidupnya, tanpa sadar atau sengaja, menyampaikan pesan-pesan atau tanda-tanda ingin melakukan hal tersebut. Misal dengan membaca atau memposting berita-berita tentang bunuh diri, memposting status di media sosial mengenai bunuh diri, atau melakukan tingkah laku-tingkah laku seperti orang yang bersiap-siap akan pergi jauh, membagi barang-barang miliknya kepada orang lain, menulis pesan-pesan yang bernada ‘selamat tinggal’ dll.

Dua langkah paling penting dalam mencegah tindakan bunuh diri adalah kenali tanda-tandanya dan segera cari pertolongan. Diantara tanda-tanda peringatan yang harus kita waspadai, adalah mengkonsumsi obat-obatan terlarang, alkohol, atau obat bebas yang dikonsumsi secara berlebihan, menolak sekolah atau prestasi belajar menurun drastis, mengatakan hal-hal yang berkaitan dengan kematian atau melukai diri sendiri. Selalu temani mereka dan jangan biarkan mereka sendiri walaupun sebentar, termasuk saat mereka ke kamar mandi. Segera lakukan pertolongan pertama, jika terlanjur telah terjadi sesuatu dan segera hubungi pihak-pihak yang berkaitan. Bersikaplah tenang.

anak sedih

Sumber: Sebagian besar diambil dari artikel http://www.apa.org/helpcenter/help-kids.aspx, dengan beberapa penambahan

%d blogger menyukai ini: