Feeds:
Tulisan
Komentar

Arsip untuk ‘Tentang Orang Tua’ Kategori


nsholihat:

Untuk mereka yang selalu protes pada usaha kemenkominfo memblokir situs-situs porno, you better read this! Let save our children!

Originally posted on Islam is Fun:

Bismillahirrahmanirrahim..

Oke, sebetulnya kontributor sontoloyo ini belum ijin sama empunya blog buat ngisi. Cuman desakan lingkungan *caelah* udah sangat kuat. (1) teman sebaya yang ngojok-ngojokin buat nulis di laman ini lagi; (2) kasus di lapangan *emang mau nulis apaan sampe bawa kasus segala* yang udah menggila, ntar diceritain; (3) abis nonton Mata Najwa edisi Bu Risma sampe meleleh air mata, jadi pengen berjuang bareng semampu yang saya bisa; (4) kemaren kakak kelas ngeshare video dan kayaknya saya nemu benang baru (dari kasus yang ntar saya ceritain) dan penting buat saya tulis ulang supaya bisa saya runut benangnya biar ga kusut dikepala (kepentingan pribadi).

videonya ada disini :

Cukup sekian aja yang bikin saya bulet untuk nulis lagi disini. Dan sebenernya saya rada2 ragu tadi, mau nulis disini atau di blog pribadi, tapi karena nilai yang saya bawa bakal kental banget dengan prinsip hidup, saya pilih disini karena saya memposisikan diri…

View original 4.581 more words

Read Full Post »


Sudahlah….stop-bullying-logo

Hari itu Selasa, sekitar jam 1 siang, anak bungsu saya (Adik, 6 th, kelas 1 SD), pulang ke rumah dalam keadaan menangis digendong oleh ayah. Ada apa? tanya saya, anak kecil saya itu hanya menangis dan kemudian pindah ke gendongan saya, karena ayahnya harus kembali ke kantor untuk bekerja, Saya belum sempat bicara banyak dengan ayahnya.

Setelah tenang dan tangisnya reda, serta berganti baju, Ia  bercerita pada saya, bahwa tadi di sekolah ia “dinakalin” oleh anak kelas V. Ia bercerita bahwa setelah shalat dzuhur, ketika akan keluar dari masjid, ia ditahan oleh seorang anak kelas V, dan kemudian  anak itu melakukan gerakan seperti menodongkan senjata dengan menggunakan jarinya ke kepala  Adik  dan kemudian menyusuri motif tribal dipotongan rambut Adik  dengan jari telunjuknya, sementara kemudian ada satu anak  lagi berdiri dibelakang Adik sambil melakukan gerakan seperti memukul-mukul gendang ke kepala Adik, meskipun tidak kena kepala. Ketika Adik  akan memalingkan wajahnya untuk menghindar, salah satu dari keduanya melarang dengan menahan wajah Adik agar ia tidak berpaling. Yang dilakukan anak saya hanya diam berdiri menundukkan wajahnya, sambil menahan tangis karena ketakutan. Setelah keluar dari masjid ia berjalan ke arah mobil yang terparkir tidak jauh dari situ dimana ayah menunggu disana. Sesampainya di mobil, barulah tangisnya meledak, hingga ia sampai digendongan saya di rumah.

Kejadian ini terlihat oleh ayah yang memang sudah menunggu tidak jauh dari masjid, dari sejak Adik  wudlu. Semula ayah tidak mau ikut campur, dan ingin melihat reaksi Adik,  jika ia bisa mengatasi dan baik-baik saja, ayah  tidak akan melakukan apapun, tetapi demi melihat anak kami  menahan tangis sejak di masjid dan kemudian meledak di mobil, ayahpun turun dan menegur kedua anak tadi. Ayah bilang pada mereka, “kalau mau bercanda seperti itu, bercanda dengan teman seusia dan jangan dengan anak kelas satu, kalau terjadi sesuatu pada anak saya, saya sudah menandai kalian”. Ibu Guru kelas V yang kemudian datang mengajak  ayah untuk meluruskan masalah tersebut dengan melakukan rapat, tapi ayah menolak karena harus kembali ke kantor dan Adik masih menangis di mobil.

Tidak lama setelah ayah mengantar Adik ke rumah dan kembali ke kantor, guru kelas 1 (wali kelas Adik) menelepon dan menanyakan keadaan Adik kepada saya, saya katakan bahwa ia baru saja tenang dan berhenti menangis, Ibu guru meminta maaf, menjelaskan sekaligus bertanya tentang kejadiannya menurut versi Adik dari saya, dan kemudian meminta bicara dengannya,  dan Ayah, tetapi karena ayah sudah berangkat kerja lagi, ibu guru  tidak bisa bicara dengan Ayah. Agak Sore, Pak satpam sekolah meminta no telepon Ayah dan saya berikan. Sore itu di rumah, saya bicara dengan kedua anak saya ,  (Adik, dan kakaknya, siswa  kelas IV) bahwa apa yang dilakukan anak kelas V itu tidak baik, jika ia memang tertarik dengan motif tribal dipotongan rambut Adik  serta ingin menyentuhnya, ia harus meminta ijin dulu kepada Adik.  Itu yang namanya menghargai orang lain, dan menghormati tubuh orang lain, karena kita tidak bisa seenaknya menyentuh bagian tubuh orang tanpa ijin. Jika Adik mengijinkan kakak kelas V itu menyentuh rambut dan kepala Adik,  baru ia bisa melakukannya, tetapi kalau Adik  tidak mengijinkan, maka ia tidak boleh menyentuh Adik. Kepada Kakak  saya katakan, sebagai kakak ia harus belajar untuk melindungi adiknya, untuk itulah mereka saya sekolahkan di sekolah yang sama agar bisa saling menjaga. Anak-anak mengerti, dan Adik sudah lebih tenang. Ia pun tetap bersedia berangkat sekolah besok (saya bersyukur, karena dibalik tubuhnya yang kecil, ia ternyata cukup mampu menghadapi masalah ini, karena terus terang saja, saya, ayah, dan ibu gurunya pun mengkhawatirkan Adik akan mogok dan menolak sekolah besok karena kejadian ini. Alhamdulillaah…)

Rabu pagi sekitar jam 6, Ibu guru kelas I menelepon jika memungkinkan ingin bicara dengan Ayah, karena siswa kelas V yang kemarin ditegur ayah, juga menangis dan orang tuanya tidak terima serta meminta penjelasan. Ayah bersedia menemui pada saat menjemput anak-anak. Pertemuan pertama ayah hanya bertemu dengan wali kelas Adik  dan kepala sekolah. Lucunya, respon yang disampaikan pihak sekolah untuk masalah ini adalah Adik  harus merapikan rambutnya, dan menghilangkan motif tribal dipotongan rambutnya. Hiks! secara pribadi buat saya, opsi ini sangat tidak elegan dan tidak  nyambung. Masalahnya ada di orang lain, kok malah rambut Adik yang dipersoalkan. Whatever lah!

Sorenya, pihak sekolah kembali menelepon, mengatakan bahwa orang tua anak kelas V yang kemarin membully Adik  ingin melakukan ishlah. Ayahpun kembali ke sekolah dan menemui kedua orang tua tadi, ada kepala sekolah juga, serta salah seorang guru olah raga.  Lucunya lagi, ketika ayah datang,  (orang tua kelas V ini datang dengan mobil mewahnya…sementara ayah yang cuek datang dengan vespa bututnya), membuka pembicaraan dengan membawa-bawa UU perlindungan anak…bla..bla..bla…dan menyatakan bahwa teguran yang diberikan ayah pada anaknya telah membuat anaknya ketakutan…(haloooo…lalu apa yang dilakukan anaknya terlebih dahulu pada anak kecil saya? please deh…). Ayah pun menjelaskan kejadian yang memang disaksikannya, dan mengapa ayah bereaksi demikian pada anak kelas V tersebut. Lucunya lagi, pada akhirnya ayah si anak kelas V, malah mengatakan bahwa apa yang dilakukan anaknya pada Adik  adalah karena dia tertarik dengan motif dipotongan rambut Adik yang unik (kok sekolah malah lain pendapatnya ya…hehehe) dan bahwa anaknya bukan anak nakal atau anak yang suka macam-macam….case closed! Ishlah pun tercapai. Anggap saja masalah ini selesai.

Tapi saya merasa ada yang salah dari peristiwa ini. Semula saya sendiri bingung  dibagian mana salahnya. Ternyata kemudian, saya menyadari, yang mengusik pemikiran saya dari kejadian ini adalah, solusi atau problem solving yang diambil pihak sekolah. Kejadian seperti ini, sebetulnya pernah terjadi pada anak pertama saya. Ketika dia duduk kelas 2 dulu. Pernah terjadi saat shalat jum’at, sebagian anak-anak shalat sambil bercanda. Kemudian anak-anak yang bercanda ini, (anak pertama saya salah satu diantaranya), dihukum oleh gurunya dengan “dijitak” kepalanya oleh anak-anak lain seluruh jama’ah shalat jum’at yang tidak bercanda. (Whats?…keren kan hukumannya…hiks…hiks…hiks…)

Tentu saja hukuman ini menuai protes para orang tua dan hampir dibawa ke media, namun bisa diselesaikan dengan beberapa kemufakatan. Ini menariknya, solusi yang diambil sekolah setelah kejadian ini adalah…anak kelas 1-3 tidak diwajibkan shalat jum’at di sekolah, yang wajib shalat jum’at di sekolah hanya siswa kelas tinggi saja, karena takut tidak bisa diatur kalau anak-anak kelas rendah ikut shalat jum’at.  See…dari dua kejadian ini, yang kebetulan anak saya ada didalamnya….pikiran saya kok terusik ya…pola problem solving sekolah, selalu kurang sophisticated …apa ya….tidak out of the box- lah, reaktif dan dangkal. Terkesan, penyelesaian yang diambil hanya bertujuan untuk menghindar agar tidak timbul masalah serupa dikemudian hari, dan bukan bagaimana mengelola atau mengajarkan anak-anak untuk tertib ketika shalat berjamaah dari mulai kecil (kelas 1), dan untuk belajar menghargai tubuh atau orang lain. Sepertinya pihak sekolah tidak ingin mendapat tambahan tugas untuk mengembangkan attitude atau sikap anak, baik ketika berhubungan dengan Tuhannya maupun ketika berada diantara sesama manusia. Entahlah. Wallahu’alam bishshawab.

Tulisan khusus yang secara spesifik membahas mengenai bullying silahkan cek di nsholihat.wordpress.com/ Bullying oh bullying.

stop bullying tikus

Read Full Post »


Tulisan ini saya terbitkan kembali, sebagai respon terhadap munculnya baligo-baligo foto mereka yang mencalonkan diri menjadi anggota legislatif yang mulai marak lagi di jalan-jalan. Sumbang saran saja dan mengingatkan kembali kepada mereka yang akan bertarung agar bersiap secara mental baik untuk menang dan terutama untuk kalah. Semoga bermanfaat!

Gambar

Euphoria pemilu calon legislatif yang baru lalu masih menyisakan fenomena menarik mengenai kondisi para caleg yang gagal melenggang ke gedung DPR, baik daerah maupun pusat. Pemberitaan mengenai para caleg gagal yang menjadi jatuh sakit, stress dan depresi, bahkan bunuh diri, sungguh memprihatinkan. Kenyataan ini sedikitnya memberi gambaran mengenai bagaimana sesungguhnya kondisi mental individu-individu yang pada 9 April lalu bertarung memperebutkan kursi anggota legislatif.

Terdapat beberapa sudut pandang yang bisa kita coba telaah untuk memahami kondisi para calon anggota legislatif yang gagal meraih suara untuk duduk tenang di gedung DPR. Disatu sisi, pekerjaan sebagai anggota legislatif dengan gaji besar, berbagai tunjangan, fasilitas, dan bahkan menurut kabar, besarnya peredaran uang yang mencapai ratusan juta rupiah dalam setiap kesempatan membahas kebijakan, adalah daya tarik yang luar biasa bagi siapapun untuk turut merasakan rasanya menjadi anggota DPR. Belum lagi status dan prestis sebagai anggota legislatif, terutama dengan kondisi tingginya jumlah pengangguran di negara kita, maka tidak aneh jika menjadi anggota legislatif adalah sebuah kesempatan yang sangat menggoda dan sulit sekali untuk diabaikan, bahkan bagi mereka yang tidak memiliki kapasitas memadai sekalipun. Karena itu, para caleg yang tidak menyiapkan mental untuk gagal, padahal mereka sudah bermimpi mendapat materi sedemikian besar, dan mengeluarkan materi yang juga tidak sedikit untuk membeli suara, menjadi mudah sekali terpukul dan mengalami syok ketika gagal mendapatkan apa yang mereka harapkan.

Disisi yang lain, sebagai sebuah pekerjaan, anggota legislatif juga mensyaratkan berbagai kualifikasi agar seseorang pantas menyandang pekerjaan tersebut. Penguasaan terhadap berbagai bidang dan aspek yang mengatur seluruh perikehidupan masyarakat seperti ekonomi, hukum dan perundang-undangan, kesehatan, dan lain sebagainya sesuai dengan komisi-komisi yang ada di DPR, kemampuan komunikasi personal dan interpersonal, serta tentu saja kemampuan analisa sintesa dan pengambilan keputusan, adalah diantara kualifikasi yang idealnya dikuasai oleh mereka yang tertarik menjadi anggota legislatif. Di gedung DPR lah berbagai isu strategis yang akan berpengaruh dan menentukan kualitas hidup rakyat Indonesia, ditentukan. Dengan memperhatikan hal tersebut, maka adalah suatu keharusan bahwa para anggota legislatif semestinya adalah mereka yang memiliki kompetensi dibidangnya masing-masing baik secara intelektual maupun sosial. Namun uniknya, pertarungan memperebutkan kursi legislatif pada pemilu kita kemarin dan mungkin juga pada pemilu sebelumnya, bukanlah pertarungan kompetensi para caleg, tetapi lebih kepada pertarungan bagaimana menarik massa agar mereka mendapat suara. Harus diakui, tidak banyak mereka yang mencalonkan diri menjadi anggota legislatif adalah mereka yang memang pantas menyandang pekerjaan tersebut.

Hal menarik lainnya adalah bagaimana sikap para caleg gagal ini setelah pemilu legislatif berakhir. Mereka secara tidak malu-malu menarik kembali berbagai materi yang telah mereka berikan pada konstituennya sebagai imbalan untuk membeli suara. Di beberapa stasiun TV diberitakan bagaimana, pompa air yang disumbangkan untuk mushola, televisi, uang, bahkan rekening tabungan yang sudah mereka berikan kepada para pemilih mereka ambil kembali karena gagal meraih suara yang signifikan. Ini jelas fenomena yang sangat menggelikan, bagaimana secara kasat mata para caleg menggunakan materi untuk mendapatkan suara, seolah-olah mereka memang tidak memiliki hal lain yang lebih layak untuk dijadikan asset sebagai bukti kapabilitas mereka sebagai calon wakil rakyat. Dan ketika mereka tidak mendapatkan apa yang diinginkan, dengan tidak malu-malu mereka mengambil apa yang sudah diberikan atau tidak memberikan apa yang sebelumnya mereka janjikan. Jelas sekali pamrih dan tidak adanya ketulusan dari mereka yang mengaku calon wakil rakyat, untuk memberi kepada rakyat.

Fenomena-fenomena diatas, sedikit banyak mewakili gambaran para caleg yang materialistis, tidak memiliki kapabilitas memadai dan tidak punya ketulusan untuk memberi pada rakyat. Dengan kepribadian caleg seperti ini, maka tidak aneh jika kegagalan mereka duduk di gedung DPR akhirnya diikuti dengan berbagai gangguan kesehatan yang kemudian banyak diberitakan media, dan depresi adalah salah satu gangguan yang paling sering disebut. Jika saja para caleg ini adalah mereka yang sungguh-sungguh ingin mengabdi pada rakyat dan tidak materialistis, tentu jika rakyat tidak memilih mereka, apapun alasannya, mereka akan dengan besar hati menerima dan menghadapi kekalahan dengan lapang dada. Sehingga tidak perlu mengalami depresi berkepanjangan yang membuatnya harus menjalani perawatan baik medis maupun psikologis.

Depresi, jika terjadi pada orang normal adalah merupakan keadaan kemurungan (kesedihan, patah semangat) yang ditandai dengan perasaan tidak pas, menurunnya kegiatan dan pesimisme menghadapi masa yang akan datang. Pada kasus patologis, depresi merupakan ketidakmauan ekstrim untuk mereaksi terhadap perangsang, disertai menurunnya nilai-nilai, delusi ketidak pasan, perasaan tidak mampu dan putus asa. Kondisi terburuk mereka yang mengalami depresi adalah bisa terdorong untuk melakukan bunuh diri. Hal ini disebabkan oleh karena adanya ketidak seimbangan neurotransmitter (zat penghantar dalam system syaraf) seperti serotonin (neurotransimitter yang mengatur perasaan), norepinefrin (neurotransmitter yang mengatur energi interest) dan dopamine (neurotransmitter yang mengatur minat) di berbagai bagian otak kita. Ada berbagai penyebab seseorang mengalami depresi, diantaranya adalah peristiwa dalam kehidupan sehari-hari, perubahan kimia dalam otak, efek samping obat dan beberapa penyakit fisik. Disinyalir kurang lebih 5-10 persen masyarakat kita mengalami depresi.

Namun depresi memang unik, suatu pencetus depresi yang bisa menyebabkan depresi pada seseorang belum tentu bisa menyebabkan depresi pada orang lain, karena itu kualitas kepribadian seseorang sangat menentukan kecenderungannya untuk mengalami depresi atau tidak. Individu-individu yang rentan terhadap depresi adalah mereka yang memiliki kepribadian paranoid dan pesimis.

Salah satu kualitas pribadi yang harus dimiliki oleh seorang individu agar tidak mudah mengalami depresi adalah resiliensi. Resiliensi dalam psikologi adalah kapasitas positif individu untuk mengatasi stress dan bencana alam yang menimpa dirinya. Istilah ini juga digunakan untuk mengindentifikasi karakteristik dari resistensi seseorang dalam menghadapi kejadian-kejadian negatif yang mungkin terjadi didalam hidupnya. Secara sederhana, resiliensi (resilient/resilience) adalah kapasitas yang dimiliki seorang individu untuk mampu dengan segera mengatasi berbagai kejadian tidak menyenangkan yang terjadi dalam hidup (seperti, syok, mengalami kecelakan, dsb, atau hal lain yang lebih substansial), dan dengan segera mampu mengembalikan kondisi kepada keadaan semula seperti sebelum terjadinya hal yang tidak menyenangkan tersebut.

Resiliensi seseorang akan tampak pada kemampuannya dalam menghasilkan sesuatu meski berada pada situasi yang penuh resiko, kompetensi yang tetap konstan meskipun berada dalam situasi stress dan kemampuan recovery setelah mengalami trauma. Individu yang memiliki resiliensi yang baik, juga akan mampu melihat sisi positif dari bencana atau kejadian buruk yang terjadi pada dirinya. Beberapa faktor pribadi yang diidentifikasi dapat meningkatkan resiliensi seseorang adalah (1) memiliki kemampuan untuk mengatasi stress dengan cara yang sehat dan efektif (2) memiliki keterampilan penyelesaian masalah yang baik (3) memiliki dukungan sosial yang erat seperti keluarga dan teman (4) memiliki keyakinan bahwa ia dapat mengelola perasaannya dengan efektif, dan (5) memiliki spritualitas, sehingga mampu melihat hal yang positif dari setiap kejadian buruk dalam hidup.

Sebagaimana kualitas-kualitas pribadi yang lain, resiliensi juga dikembangkan dalam keluarga. Lingkungan keluarga yang penuh kasih sayang dan memiliki aturan yang jelas, memiliki harapan yang tinggi dalam hal tingkah laku anak dan mendorong keterlibatan masing-masing anggota keluarga dalam kehidupan keluarga, dikatakan dapat menghasilkan anak-anak yang memiliki resiliensi yang tinggi. Anak-anak yang dibiasakan untuk memiliki harapan yang tinggi mengenai sesuatu, diajarkan mengenai makna dan tujuan hidup, keterampilan menyelesaikan masalah secara mandiri, serta dibiasakan untuk mampu mengelola dirinya sendiri, akan terlatih dan terbangun resiliensinya. Anak-anak yang memiliki resiliensi yang tinggi, memiliki kemungkinan yang kecil untuk mengalami depresi, mengkonsumsi rokok dan obat-obatan terlarang saat menghadapi masalah dibandingkan anak-anak yang rendah resiliensinya, hal ini berlaku juga pada orang dewasa. Mereka yang memiliki resiliensi rendah, memiliki kesulitan dalam mengelola emosi negatif dan menampilkan reaksi yang sensitif terhadap berbagai kejadian sehari-hari yang tidak menyenangkan (misalnya kehilangan orang yang dicintai). Mereka ini merasa bahwa kejadian buruk dalam hidup mereka tidak akan pernah berakhir, sehingga memilki kecenderungan untuk memiliki tingkat stress yang tinggi.

Selain dibangun dalam keluarga, lingkungan juga memegang peranan sangat penting dalam mengembangkan resiliensi seseorang. Karakteristik lingkungan tersebut adalah: (1) lingkungan yang memiliki institusi-institusi sosial yang menyediakan sejumlah fasilitas dan sumber daya untuk anggota masyarakatnya (2) konsisten dalam memegang norma sosial sehingga setiap anggota masyarakat memahami aturan-aturan apa yang membatasi tingkah laku mereka, dan (3) adanya kesempatan bagi anak-anak dan orang-orang muda untuk berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat sebagai sehingga mereka merasa diakui sebagai anggota masyarakat.

Terakhir, sungguh ironis, wakil rakyat yang semestinya berjuang untuk mensejahterakan kehidupan rakyat dengan segala kemampuan yang ada pada mereka, pada akhir pemilu legislatif justru melahirkan berbagai permasalahan yang biayanya lagi-lagi harus ditanggung oleh pemerintah, dan tentu saja rakyat Indonesia sendiri. Namun demikian, keterbatasan kita sebagai rakyat yang tidak bisa turut menyeleksi kualitas mereka yang mewakili kita di parlemen, akhirnya toh bisa tergantikan oleh pemilu legislative kemarin, sehingga kita masih bisa berharap mereka yang nantinya duduk di parlemen bukanlah mereka yang memiliki kecenderungan untuk depresi. Wallahu ‘alam bishawab.

 ganbatte3

Read Full Post »


Gambar

Tulisan ini saya copas dari tulisan Ustadz Djalaludin Asy Syatibi*), dalam rangka memenuhi permintaan seorang teman yang saat ini sedang sangat galau dalam menjalani perannya menjadi orang tua. Sebetulnya sudah cukup lama tulisan ini saya baca dan copy dalam file pribadi, tapi karena lupa dimana menyimpan filenya jadi agak lama mencarinya, akhirnya dengan berkah Ramadhan ketemu juga. Semoga bermanfaat.

Bismillahirrohmanirrohiim…

Seorang lelaki menegur Al-A’masyi, “Bagaimana Anda mau dikerumuni oleh anak-anak kecil seperti itu?” Lalu ulama dari kalangan Tabi’in itu menyahuti pertanyaan itu, “Kenapa tidak? Mereka itulah calon pembela agama Anda.”

Kisah di atas penulis nukilkan dari Kitab al-Kifaayah fii ‘Ilmi ar-Riwaayah karya Al-Khatib Al-Baghdady. Sungguh dalam kisah itu menyiratkan banyak pesan: kedekatan dan keakraban seorang ulama dengan anak-anak kecil, dan yang paling utama adalah bagaimana Al-A’masy melekatkan asanya terhadap anak-anak itu sebagai perisai terdepan dalam membela Islam.

Inilah yang dinamakan orientasi pendidikan anak untuk menjadi seorang pewaris para Nabi (waratsatul anbiya). Sebuah cetak biru seorang anak yang tak hanya seonggok harapan ego orang tua atau ambisi pribadinya. Tapi lebih dari itu ia adalah aspek terpenting dalam kerangka keummatan. Sang penyampai kebenaran dan tentunya sang reformis sejati seperti halnya digemakan oleh salah seorang Nabi Allah. Sang Reformis dalam bidang ekonomi Syuaib AS.,” Yang kukehendaki hanya reformasi sekuat tenagaku.” (11:88)

Adalah panutan Al-A’masy, Rasulullah SAW, telah lebih dulu memberikan isyarat ihwal cetak biru sang anak dalam kerangka keummatan. Tatkala Al-Mustafa SAW didera derita dan duka teramat dalam akibat cercaan dan lemparan batu penduduk Thaif, tepatnya di Qarnul Manazil, maka dihampirilah beliau oleh Malaikat Jibril dan Malaikat Jabal (Gunung). Kedua utusan Allah menawari Rasulullah untuk menimpakkan dua gunung atas penduduk Thaif yang enggan menerima cahaya Islam. Perhatikanlah, apa jawaban Rasulullah, “Tapi saya berharap kepada Allah agar memunculkan dari anak cucu mereka yang menyembah Allah dan sekali-kali tidak menyekutukan-Nya dengan apapun.”

Nah, dalam konteks kekitaan sebagai dai, murobbi, dan penyeru dakwah, merupakan sebuah keniscayaan menjadikan anak-anak kita sebagai asset umat, yang berperan sebagai halqatul washl (penyambung) perjuangan dakwah. Bukan sekedar menghantarkan anak-anak kita meraih ego pribadinya, tanpa sedikitpun berkontribusi dan bersaham untuk ishlahul ummah-mereformasi ummat. Konsep ini kemudian dilukiskan oleh Al-Qur’an sebagai bagian dari untaian doa seorang yang sudah menginjak usia kematangan,

“…dan berikanlah aku kebaikan (wa ashlih lii) yang akan mengalir sampai anak cucuku…”(46:15)

Untaian doa itu jelas-jelas menginginkan agar generasi kemudian tertulari kebaikan-kebaikan pendahulunya, yang antara lain kebaikan sebagai dai, murobbi dan penyeru. Menarik untuk direnungi, penggalan doa wa ashlih lii dapat juga diartikan sebuah permohonan tulus agar para orangtua direformasi terlebih dulu, untuk kemudian mereka dapat mengishlaah anak cucunya, sehingga dengan demikian terjadi regenerasi kebaikan.

Tentu mencetak anak menjadi pewaris para nabi, dai, dan reformis tak segampang membalikkan telapak tangan. Ada banyak hal yang dapat mewarnai (shibghoh) sang anak. Namun dari sekian banyak hal itu, lingkungan pertama anaklah yang paling menentukan, yaitu keluarga, yang terdiri ayah dan ibu sang anak. Di sinilah peran orangtua menjadi demikian krusial dalam kaitan cetak biru si anak. Oleh karenanya, Rasulullah telah mewanti-wanti kita semua bahwa, “Kedua orangtuanya lah yang menjadikan ia seorang Yahudi atau Nasrani atau Majusi.”

Maka kata kuncinya adalah, untuk menjadikan anak itu seorang pewaris para nabi-sang reformis-, maka yang perlu dikemukakan di sini adalah: sudahkan orangtua memiliki kafaah (kompentensi) yang mushlih (reformis)? Karena faaqidu asyaysi laa yu’thiy.

Karakter Orangtua Mushlih

Pepatah mengatakan “Buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya”. Boleh dikatakan bahwa perilaku anak merupakan miniatur orangtuanya. Artinya, anak akan merekam semua tingkah laku orangtuanya. Pasalnya, orangtua merupakan guru pertama si anak, dan demikian pula keluarga merupakan sekolah perdananya. Terlebih lagi masa anak-anak merupakan masa penyetingan paling awal yang akan dapat menghitam putihkan seorang anak.

Dalam pepatah Arab dikatakan,
العلم في الصغر كالنقش في الحجر ، و العلم في الكبر كالغرز بالإبر

“Belajar ketika kecil tak ubahnya memahat di atas batu, sementara belajar ketika sudah berumur tak ubahnya menusuk dengan jarum.”

Walhasil, orangtua yang tengah memberikan asupan tarbiyah kepada anaknya tak jauh beda dengan seseorang yang sedang mengukir di atas batu, yang tak pelak lagi ukiran itu merupakan torehan yang tak akan lekang dalam sekejap, tapi memerlukan rentang waktu lumayan lama untuk menghilangkan torehan itu.

Jadi, tak diragukan lagi bahwa orang tua memegang peranan sangat strategis dalam menentukan putih atau hitamnya seorang anak. Maka dalam kaitan ini, perlu kiranya kita-sebagai orangtua- mereevaluasi perilaku-perilaku kita, dengan sebuah pengharapan agar perilaku-perilaku kita kompeten untuk menjadi pribadi-pribadi pewaris para nabi, dai, murobbi dan seorang reformis sejati. Dengan demikian, kita tidak menjadi pribadi yang ambigu seperti disindir Allah SWT,

“Apakah kalian menyuruh manusia untuk berbuat kebajikan sementara kalian melupakan diri kalian.” (2:44)

Dan mencari sosok yang memiliki kompetensi sebagai orangtua yang ashlih lii (baca:mushlih) tidaklah sulit. Rasululah merupakan telaga teladan dalam banyak hal tanpa kecuali Rasulullah sebagai orangtua. Dan sifat-sifat Rasulullah dalam mentarbiyah anak-anaknya adalah:

Pertama, bersikap adil. Keadilan merupakan kebenaran universal. Islam memandang keadilan sebagai hal yang dapat mendekatkan kepada ketaqwaan. Penegakkan keadilan dalam tataran kehidupan bernegara sama pentingnya dalam tataran kehidupan keluarga.

Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang berlaku adil akan dimuliakan di sisi Allah di atas mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya, yaitu mereka yang berlaku adil dalam hukumnya, berlaku adil terhadap keluarga dan apa saja yang mereka pimpin.” (HR. Muslim)

Keadilan orangtua atas anak-anaknya akan mendatangkan ketenteram dan ketenangan. Sudah barang tentu tumbuh kembang psikologis anak akan sehat jika lingkungan tempat ia hidup sehat. Sehingga, pelbagai patologi sosial yang mengancam si anak semakin tak menemukan relevansinya. Lingkungan yang dikungkungi keadilan merupakan ranah yang haram bagi iri, dengki, benci, amarah, permusuhan dan prasangka-prasangka buruk. Dan kisah Nabi Yusuf menyisakan pelajaran penting ihwal perlakukan tidak adil yang dirasakan saudara-saudara Yusuf. Alhasil, kisah Yusuf dan saudara-saudaranya itu dipenuhi dengan intrik, konspirasi dan aksi balas dendam.

Maka wajar saja Rasulullah pernah menegur keras seorang lelaki yang mencium anak lelakinya dan tak melakukan hal yang sama terhadap anak perempuannya. “Kamu tidak bersikap adil di antara keduanya,” ujar Rasulullah (HR. Baihaqi)

Lebih tegas lagi Rasulullah berpesan kepada kita, “Bertaqwalah kepada Allah, bersikap adillah terhadap anak-anak kalian.” (HR. Muslim)

Kedua, bersikap sabar, yaitu menahan jiwa dari rasa putus asa, lisan dari keluh kesah dan jasmani dari aksi-aksi vandalisme. Jiwa menyekam rasa putus asa, lisan ekspresi kata-kata dan puncaknya diekspresikan oleh aksi-aksi brutal yang tak terkendali.

Adalah anak-anak yang kerapkali menjadi sumber rasa putus asa, kekesalan dan tumpahan kekerasan fisik. Pasalnya, dunia anak selain menggemaskan sekaligus mengesalkan. Karenanya orangtua dituntut sabar dalam menghadapi anak-anaknya. Sesungguhnya dalam kesabaran itu ada kejernihan pikir. Rasulullah menyebutnya “Sabar itu cahaya”. Sesungguhnya pula kesabaran itu sifat pemimpin sejati. Bersikap sabar terhadap anak berarti pula mengajari anak secara verbal tentang makna penting dari kesabaran, yang merupakan prasyarat kandidat pemimpin handal. Faktanya pemimpin akan selalu dihadapkan pada pelbagai macam prilaku dan masalah yang mendera rakyatnya.

“Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka sabar dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami.”(As-Sjadah: 56)

Ketiga, kasih sayang. Allah SWT telah menjadikan anak sebagai pribadi yang sangat tergantung kepada orang lain, terutama ibunya. Sebuah studi menemukan bahwa anak bayi akan mengenal ibunya hanya beberapa saat sejak kelahirannya melalui ciuman. Lalu, mulailah sang anak itu menantikan perlindungan, kelembutan dan sentuhan kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya. Karena itu, anak akan selalu mencari orang yang membuatnya sumringah, membelai wajahnya, memanjakannya, mencandainya dan mengajaknya bicara dan bermain. Maka, sejauh mana kelembutan dan kasih sayang yang diberikan kepada si anak, sejauh itulah kelapanga dirinya untuk mencintai dan mengasihi orang lain di masa depan.

Diriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah shalat Jum’at sambil menggendong putri beliau Umamah Binti Zainab. Jika Rasulullah sujud, beliau meletakkannya dan manakala bangkit dari sujud, beliau menggendongnya kembali. Pada riwayat lainnya diceritakan bahwa Rasulullah mempercepat shalatnya gara-gara ada anak yang tengah menangis.

Abdullah bin Syidad menceritakan,

بينما رسول الله صلى الله عليه و سلم يصلي بالناس إذ جاءه الحسين فركب عنقه و هو ساجد ، فأطال السجود بين الناس حتى ظنوا أنّه قد حدث أمر فلما قضى صلاته ، سألوه عن ذلك ، فقال عليه الصلاة و السلام : (إن ابني ارتحلني ، فكرهت أن أعجله حتى يقضي حاجته

Ketika Rasulullah menjadi imam shalat, tiba-tiba Husen datang menghampiri beliau dan langsung menunggangi leher beliau ketika beliau sujud, maka beliau memanjangkan sujudnya sampai-sampai orang menyangka bahwa telah terjadi sesuatu hal. Ketika shalat selesai, mereka bertanya ihwal kejadian itu. Rasulullah SAW mengatakan, “Sesungguhnya anakku menunggangiku, maka saya tidak mau ia terburu-buru (agar turun) sampai ia merasa puas.” (HR. An-Nasai)

Jika saat shalat saja Rasulullah tetap mencurahkan rasa kasih sayang dan kelembutan terhadap anak, tentu min baabil aula saat-saat di luar shalat. Ini saja sudah memberikan sinyal sangat kuat bahwa memperlakukan anak dengan penuh kasih sayang adalah sebuah kewajiban yang tidak boleh disepelekan.

Sebenarnya sikap keras hati dan kasar hanya akan membuat orang menjauh. Demikian pula sikap kasih sayang akan kian mendekatkan hubungan anak dengan orangtuanya. Pada spectrum yang lebih luas lagi, lembut dan kasih sayang menyebabkan mendekatnya obyek-obyek dakwah. Allah telah memberikan bimbinganNya,

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

Dan akhirnya, secara lugas dan tegas Rasulullah mengatakan, “Sesungguhnya setiap pohon itu berbuah. Buah hati adalah anak. Allah tidak akan menyayangi orang yang tidak sayang kepada anaknya.”

Lalu Rasulullah melanjutkan,

والذي نفسي بيده! لا يدخل الجنة إلاّ رحيم
“Demi Dzat yang jiawaku ada di Tangan-Nya, tidak akan masuk surga kecuali penyayang.” (HR Ibnu Bazzar)

Keempat, menjadi teladan. Keteladanan merupakan cara paling efektif dalam transfer berbagai corak nilai-nilai kebaikan. Pepatah Arab mengatakan bahwa contoh nyata satu orang bagi seribu orang lebih baik ketimbang kata-kata seribu orang untuk satu orang. Dalam kaitan ini orangtua benar-benar dituntut bisa menyelaraskan segala bentuk perilakunya. Hal demikian karena anak akan selalu melihat dan meniru tingkah pola orang tua ketimbang kata-katanya. Bagi anak, bahasa tubuh lebih mudah dipahami daripada bahasa lisan.

Ibnu Abbas mengenang masa kecilnya bersama Rasulullah, “Aku bermalam di rumah bibiku, Maimunah, dan aku melihat Rasulullah bangun malam. Setelah memasuki sebagian malam, beliau bangun dan berwudhu ringan dengan air dari dalam kantong kulit yang digantung di dinding kamarnya. Usai itu beliau pun mengerjakan shalat malam. Aku pun ikut bangun dan berwudhu dari tempat air yang dipergunakan beliau, kemudian aku berdiri shalat di samping kiri beliau, lalu beliau memindahkanku ke samping kanannya.” (HR Bukhari)

Selain itu, orangtua juga dituntut untuk senantiasa menyelaraskan antara perbuatan dan perkataan. Hal itu akan membantu anak dalam menginternalisasi nilai-nilai kejujuran pada diri anak. Abdullah Ibnu Amir bertutur bahwa saat Rasulullah berada di rumahnya tiba-tiba sang ibu memanggilnya, “Kemarilah! Saya akan memberimu.” Rasulullah pun menyela, “Apa yang akan engkau berikan?” “Saya akan memberinya kurma,” ujar wanita itu. Nabi pun menasehatinya, “Ingat! Jika ternyata engkau tidak memberinya apapun maka engkau akan tercatat sebagai pembohong.” (HR Abu Dawud)

Maka, tatkala seorang anak melihat adanya keselarasan antara kata-kata dan perbuatan, pada hakikatnya anak sedang diajari makna kejujuran, integritas dan komitmen. Imbasnya, orangtua akan memiliki wibawa di mata anak, sehingga orangtua akan selalu digugu, ditiru dan ditaati. Inilah yang dinamakan birrul waalidain, berbakti kepada orangtua.

Keterlibatan orangtua dalam memberikan keteladanan terhadap anak, adalah bagian dari sikap responsive orangtua dalam mempersiapkan anaknya untuk berbakti, tidak malah durhaka. Model orangtua proaktif seperti itu akan mendapatkan rahmat Allah SWT. “Semoga Allah merahmati orangtua yang menolong anaknya agar berbakti kepadanya,” kata Rasulullah (HR Ibnu Hibban)

Kelima, karakter orangtua yang reformis adalah senantiasa menghargai sang anak. Adalah Rasulullah yang pernah membariskan Abdullah, Ubaidillah dan anak-anak Abbas lainnya. Beliau mengatakan, “Siapa saja yang dapat mendahului saya, dia akan mendapatkan ini.” Maka mereka pun berlomba membalap Rasulullah sehingga mereka berjatuhan di atas dada dan punggung beliau. Setelah itu mereka dipegangi dan diciumi oleh beliau. Itulah sebuah bentuk penghargaan Nabi terhadap anak-anak.

Menghargai anak adalah bentuk pengakuan terhadap keberadaan sang anak, sehingga anak akan termotivasi untuk mengembangkan potensinya tanpa merasa malu dan minder. Ketika anak itu dihargai dan dipuji, maka itu akan membuatnya terdorong untuk kembali melakukan pekerjaan kebaikan yang pernah dilakukannya.

Ibnu Abbas bertutur, saat Rasulullah pergi ke tempat buang hajat, saya menyediakan air untuk wudhu beliau. Usai buang hajat, beliau melihat air tersebut telah tersedia. “Siapa yang membawakannya?” Tanya beliau. Setelah saya memberitahukannya, maka beliau pun mendoakan aku sebagai bentuk penghargaan,

اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِى الدِّينِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ
“Ya Allah, berilah ia pemahaman tentang agama dan ilmu tentang tafsir Al-Qur’an.”

Hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim itu merupakan kisah bagaimana Rasulullah memberikan penghargaan atas inisiatif Ibnu Abbas, dimana penghargaaan itu tidak identik dengan materi, tapi juga meliputi kata-kata yang membuat sang anak bersemangat.

Keenam, mengayomi. Syaikh Muhammad AL-Khidr dalam bukunya As-Sa’adatul Udhma memberikan sebuah analisa, banyak orang tidak menyadari kalau anak adalah salah satu dari pemimpin umat, hanya karena masih tertutup dengan baju anak. Seandainya apa yang ada di balik bajunya dibukakan kepada kita, niscaya kita akan melihat mereka layak disejajarkan dengan para pemimpin. Namun, sunnatullah menghendaki agar tabir itu disibakkan sedikit demi sedikit melalului pendidikan.

Merujuk ke analisa tadi, maka orangtua dituntut untuk mengayomi bakat-bakat dan kemampuan anak yang tersembunyi di balik tabir, bukan malah membunuhnya. Mengayomi artinya memelihara potensi-potensi anak sembari berupaya memberikan stimulasi-stimulasi untuk mengembangkan potensi anak seperti dengan metode bercerita, reward dan punishment, dan games-games yang bermanfaat. Oleh karena itu, orangtua dituntut kreatif dalam upaya pengembangan ini.

Adalah Umar bin Khatab yang telah memberikan contoh bagaimana mengayomi dan mengembangkan potensi seorang anak bernama Ibnu Abbas. Umar pernah mengajak Ibnu Abbas ke sebuah pertemuan yang dihadiri para pembesar Badar. Sebagian dari mereka mempertanyakan sikap Umar itu, karena mereka melihat majlis itu tak diperuntukkan untuk anak kecil. Hingga akhirnya para pembesar Badar itu sadar ihwal ketinggian ilmu Ibnu Abbas meski masih belia ketika Ibnu Abbas memberikan makna dari Surat An-Nashr sebagai isyarat sudah dekatnya ajal Rasulullah.

Sejarah Islam pun mencatat banyak sosok belia yang punya peran penting dalam kerangka keummatan. Usamah bin Zaid pada usia 17 tahun tercatat sebagai panglima perang dalam sebuah pasukan yang akan menghadapi tentara Romawi di wilayah Syam, padahal dalam pasukan itu tercatat nama Abu Bakar dan Umar. Rasulullah mengutus Muadz bin Jabal sebagai duta Islam ke Yaman. Saat itu Muadz berusia 19 tahun.

Tentu yang harus diperhatikan para orangtua dalam proses pengembangan ini adalah adanya pentahapan (tadarruj), karena kemampuan akal seorang anak sangat berbeda dengan orang dewasa. Rasulullah bersabda, “Perintahlah anakmu untuk shalat ketika berusia tujuh tahun dan pukullah mereka (jika enggan shalat) ketika berumur sepuluh tahun.” (HR Abu Dawud)

Ketujuh, komunikatif. Sebenarnya dari semua nilai-nilai yang akan diberikan kepada anak tidak akan pernah tersampaikan secara baik bila saluran komunikasinya buruk. Maka orangtua haruslah menjadi pribadi yang komunikatif, tidak tertutup dan berbicara hanya satu arah. Terjadinya komunikasi sehat antara orangtua dengan anak akan membantu menumbuhkan dan mempertajam penalarannnya serta menjadi lebih terbuka.

Umar pernah mendapati pengaduan seseorang yang anaknya dianggap durhaka. Umar pun bertanya kepada anak itu, “Apa yang menyebabkan kamu durhaka kepada ayahmu?” “Wahai Amirul Mukminin, apa sajakah hak anak yang harus ditunaikan oleh orangtuanya,” Tanya anak itu. Umar menjawabnya, “Memberi nama yang baik, memilihkan ibu yang baik dan mengajarinya Al-Qur’an.” Anak itu mengatakan, “Wahai Amirul Mukminin, ayahku tidak melaksanakan sedikit pun perkara itu terhadapku.” Maka Umar pun menasehati orangtua itu, “Kamu telah mendurhakai anakmu sebelum anakmu mendurhakaimu.”

Sangat jelas sekali buah dari adanya dialog yang komunikatif adalah adanya keterbukaan. Dengan begitu, segala permasalahan akan segera dapat ditemukan cara penyelesaiannya.

Demikianlah tujuh karakter orangtua reformis, yang kesemua karakter itu pada dasarnya merupakan sikap dasar seorang dai dan murobbi. Sebenarnya ketujuh karakter itu merupakan perilaku yang harus dipraktekkan, bukan sekedar teori kata-kata. Dengan demikian, para orangtua harus mempraktekkan karakter-karakter itu dengan sebenar-benarnya. Wallahua’lam bish showwab

*) Ust.Djalaludin Asy Syatibi adalah seorang tokoh agama di Bandung, mungkin teman-teman aktivis di Bandung sudah sangat familiar dengan nama beliau. Beliau adalah pendiri ponpes Miftahul Khoir di Bandung. dari segi usia beliau sudah termasuk sepuh namun beliau terkenal sebagai ustadz yang suka bercanda, sehingga materi-materi ceramahnya disampaikan dengan suasana yang ringan namun tetap dengan kedalaman ilmu dan hujjah. Beliau juga adalah kakak dari ustadz Syaiful Islam Mubarak, Lc yang merupakan tokoh dakwah juga di Bandung dan merupakan pendiri serta pencetus metode Tahsin sebagai metode belajar membaca Al Qur’an.

Read Full Post »


Lovely_illustration_of_Parents_daughter_watching_snail_on_leaf_wallcoo.com

Menjadi orang tua, menurut saya adalah peran yang paling sulit di dunia. Jika Allah meletakkan surgaNya ditelapak kaki seorang ibu, dan ridhoNya pada seorang manusia berdasarkan pada ridho orang tuanya, maka peran menjadi orang tua pastilah bukan peran yang mudah untuk disandang,  karena dia dilekatkan pada makna dan fungsi keIlahian yang mistis dan sakral. Peran ini pastilah peran yang sangat mulia,  sehingga pantas diganjar dengan surga dan dilekatkan dengan kasih sayang dan ridhoNya. Itu jika kita gunakan sudut pandang akhirat untuk memahami betapa tingginya makna peran orang tua.

Dari sudut pandang dunia, jika saja job deskripsi dari pekerjaan parenting (mengasuh anak) tertulis dengan jelas hitam diatas putih, tanpa diragukan lagi pasti akan sedikit sekali orang yang mau mengerjakan pekerjaan ini.  Namun untunglah tidak demikian, karena ternyata,  selalu setiap tahunnya berjuta orang akhirnya melakukan pekerjaan ini walaupun tanpa pelatihan yang mendahuluinya, tanpa menyelesaikan pendidikan khusus terlebih dahulu, dan tanpa pengalaman sebelumnya.

Ketika menjadi orang tua dan sebagai orang tua,  tiba-tiba saja kita diharapkan menjadi seorang yang ahli dalam perkembangan anak, seorang komunikator yang fasih dalam mengekspresikan cinta dan kasih sayang, penerimaan, moral dan nilai-nilai, seorang disiplinarian yang kuat, yang tahu kapan harus bertindak tegas dan kapan berlaku adil, seorang yang dapat mengeringkan air mata dan dapat mengobati luka, seorang perawat yang tahu apa yang harus dilakukan dengan berbagai macam penyakit, seorang guru yang harus tahu bagaimana mengerjakan pekerjaan rumah seluruh mata pelajaran dari mulai membaca sampai algoritma, seorang psikolog yang bisa mengobati patah hati dan meningkatkan harga diri, dan penjaga perdamaian yang dapat meredakan konflik di dalam rumah serta menjembatani berbagai ketidak sepakatan dalam berbagai hal.

Inilah tugas, job deskripsi dari pekerjaan sebagai orang tua. Semua memahami bahwa hal tersebut adalah tugas yang sulit, dan bahwa tidak seorangpun apakah orang tua, profesional atau seorang ahli sekalipun, bisa melakukan semua hal yang disyaratkan dalam tugas ke-orang tua-an dapat  melakukannya dengan sempurna pada setiap anak, pada setiap waktu. Semua orang tua melakukan kesalahan, sebab mereka adalah manusia. Dan manusia, menurut Penciptanya adalah tempatnya salah.

Mungkin juga bagi sebagian orang, mengerjakan tugas-tugas orang tua seperti yang tersebut diatas, tidaklah serumit membacanya. Terutama jika suasana rumah hangat selalu, ada pasangan setia yang mengerti dan mendukung,  serta anak-anak bersikap manis dan bisa diatur, pokoknya everything is under controlled deh,  menjadi orang tua tidaklah sesulit yang kita pikirkan. Masalahnya adalah, pada saat anak-anak bertingkah laku negatif dan sulit dikendalikan, sementara pasangan sama bingungnya, dan keluarga besar juga tidak tahu harus berbuat apa. Maka, lengkaplah sudah kegalauan kita sebagai orang tua, (jika meminjam istilah ABG sekarang, mungkin galaunya sudah tingkat dewa….hehe)

Salah satu pendekatan yang bisa dijadikan kerangka untuk memahami anak-anak yang bertingkah laku negatif, jika merujuk pada teori Alfred Adler (disebut sebagai Adlerian Approach), adalah bahwa semua tingkah laku itu bertujuan dan semua tingkah laku individu termasuk tingkah laku anak-anak didorong oleh usaha untuk meraih tempat yang berarti dalam kelompok sosialnya (striving for significance within the social group). Ini bermakna, tingkah laku anak-anak, termasuk tingkah laku negatifnya digerakkan oleh usahanya untuk menunjukkan identitasnya yang khas dan untuk menumbuhkan perasaan dalam dirinya bahwa ia dimiliki (diakui) oleh kelompok sosialnya.

Pembentukan Identitas yang khas, (oleh ahli lain sering kali diterjemahkan sebagai self actualization, self expansion, dan competence) dimulai dengan usaha individu untuk mengatasi perasaan tidak mampu (feelings of inferiority) yang digeneralisasi oleh anak-anak dalam bentuk perasaan tak berdaya dan tergantung kepada orang dewasa atau orang tuanya. Perasaan tidak mampu ini, oleh anak-anak tidak dipandang sebagai sesuatu yang negatif, justru mereka pandang sebagai sesuatu yang memotivasi atau mendorong, sebuah energi yang mendorong mereka untuk keluar dari perasaan itu dan berusaha menguasai dunianya. Dorongan untuk melepaskan diri dari ketidak berdayaan yang semula mereka rasakan ini, akan sangat jelas terlihat pada saat anak memasuki usia 2-3 tahun. Anak-anak mulai belajar dan berusaha menunjukkan kemandirian dan kemampuannya, dengan bertingkah laku menolak dibantu saat melakukan berbagai hal, dan ingin melakukan segala hal sendiri. Dari mulai makan sendiri, menentukan menu makanan sendiri, mengambil minum sendiri, memakai baju sendiri, memilih baju sendiri, dll. Masalah akan muncul justru ketika rasa tidak mampu ini ditampilkan anak  secara berlebihan dalam bentuk tingkah laku yang betul-betul menunjukkan ketidak berdayaannya dengan cara bergantung sepenuhnya pada orang dewasa di sekitarnya. Anak-anak inilah yang kemudian menjadi anak-anak yang pasif, penakut dan tidak berdaya jika tidak ada orang dewasa disekelilingnya.

Adlerians menggunakan pendekatan yang menyeluruh untuk memahami gaya hidup yang khas dari seorang individu. Gaya hidup (lifestyle) merujuk pada keyakinan dasar bahwa setiap anak berkembang, untuk membantu mereka memahami dan mengatasi dunianya. Keyakinan ini dipengaruhi oleh persepsi anak mengenai  berbagai kejadian dan interaksi mereka dengan orang lain, khususnya dengan anggota keluarga. “Gaya hidup mereka dibentuk oleh pelajaran-pelajaran yang mereka dapatkan dalam drama keluarga mereka, dimana orang tua dan saudara-saudaranya menjadi bagian yang bermain dalam drama tersebut” (Dinkmeyer, Pew, 1979). Menurut Dreikurs dan Grey (1968), jika orang tua tidak mengenali dan memahami keinginan anak akan rasa dimiliki,  atau tidak mampu atau tidak mau meresponnya dengan cara yang memungkinkan anak untuk memuaskan tujuan dasarnya dengan cara yang baik, kooperatif, kolaboratif dan tingkah laku positif, maka mereka akan mengembangkan tujuan yang salah, yang hasilnya akan tampil dalam bentuk variasi berbagai  tingkah laku yang negatif. Anak-anak yang bertingkah laku negatif adalah anak-anak yang tidak didukung, anak-anak yang berpikir dengan cara yang salah bahwa tingkah laku yang mereka tampilkan adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan penerimaan dari orang lain yang mereka sangat ingin dan butuhkan.

Empat  Tujuan Tingkah Laku Negatif Anak

Adlerian meyakini bahwa anak-anak bertingkah laku sesuai tujuan mereka, dan tujuan itu sesuai dengan kebutuhan mereka akan penerimaan dan persetujuan dari lingkungannya. Pertama kali, anak-anak akan mencoba bertingkah laku sesuai dengan tuntutan sosial, kemudian ketika hal tersebut tidak berhasil, mereka akan melakukan tingkah laku negatif untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Esensinya, kebutuhan akan perasaan dimiliki  dan diterima pada diri anak sangat kuat, sehingga anak-anak akan melakukan segala cara untuk mendapatkannya.  Dreikurs dan Soltz mengklasifikasikan semua tingkah laku negatif anak kedalam empat kategori, masing-masing berkorelasi dengan tujuan yang sesuai yaitu perhatian, kekuasaan, balas dendam dan rasa tidak mampu.

Jadi, siapa siap jadi orang tua?

(bersambung ke “MEMAHAMI TUJUAN TINGKAH LAKU NEGATIF ANAK” yang sedang dalam proses penulisan)

Read Full Post »



Tulisan ini adalah copas dari sebuah tulisan pada halaman muka Ustadz Yusuf Mansur Network disebuah jejaring sosial

( KELUARGA ) MENGENAL JIWA ANAK – Mengurus anak dengan baik itu butuh keinsyafan tingkat tinggi. Butuh pengelolaan emosi yang handal. Butuh ketenangan dan kecerdasan, baik kecerdasan emosi maupun kecerdasan taktis strategis. Dan sebagai manusia, tentu saja kita tidak melulu dalam keadaan emosi yang baik, yang stabil. Disinilah seninya saya rasa. Pada titik inilah kecerdasan kita diuji. Jika kita berhasil melewati waktu-waktu emosional itu dengan solutif maka kecerdasan kita akan naik peringkatnya, namun jika kita menuruti hawa nafsu, kedzolimanlah yang terjadi. Dan rasakanlah bahwa hati segera menjadi keruh dan butuh waktu dan energi yang cukup banyak untuk menjernihkannya. Maka, tahanlah hawa nafsu sedapat mungkin kita mampu. Tetaplah berpikir jernih. Perbanyaklah lafadz istighfar dan ta’awudz.

”Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran TuhanNya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Nazi’at:40-41).

”Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang dan sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Alloh mencintai orang yang berbuat kebaikan,.”(QS. Ali ’Imran: 133-134)

Menjadi orang tua yang sukses tentu menjadi salah satu jalan kita mendapatkan surga. Dan sudah dari dulu semua tahu, mendapat surga memang tidak murah. Jangankan surga, mau menikmati fasilitas hotel mewah saja harus merogoh kocek lebih dalam kan? Sementara ada makhluk yang tidak akan rela begitu saja saat kita meniti jalan menuju surga.

Merekalah yang senantiasa menghalang-halangi, merekalah yang membuat kita menganggap baik meledaknya amarah kita. Dan jumlah mereka banyak. Jangan turuti langkah-langkah syetan, sesungguhnya merekalah musuh yang nyata.

A’udzubilllahiminasysyaithonnirrodzhimi min hamdzihi wanafkhihi wanafsihi.

Namun, jika amarah sudah terlanjur diperturutkan, lengan sang anak sudah kadung biru karena dicubit, jiwa anak sudah terlanjur luka dengan rengkuhan kasar kita, hati mereka sudah tertoreh umpatan dan tatapan kasar kita.

Maka, bersegeralah minta maaf padanya, dengan penuh keikhlasan. Berjanjilah padanya untuk tidak mengulanginya. Mohonlah ampun pada Alloh atas perbuatan kita yang telah menyia-nyiakan amanahNya.

”dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Alloh, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa selain Alloh? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali ’Imran:135)

Senantiasa ingatkan diri kita, betapa marahnya Rasulullullah (salawat dan salam baginya) mendapati sikap kasar seorang ibu. Ketika Ummu Fadhl secara kasar merenggut bayi dari gendongan Nabi (salawat dan salam baginya) lantaran sang bayi pipis dan membasahi pakaian Rasul (salawat dan salam baginya).

Maka Rasululloh shalallahu ’alaihi wassalam menegur,”Pakaian yang basah ini dapat dibersihkan dengan air. Tetapi apa yang dapat menghilangkan kekeruhan jiwa anak ini akibat renggutan yang kasar itu?”

Astaghfirullohal’adzhim. Entahlah, apa yang mampu menghilangkan kekeruhan jiwa mereka. Semoga dengan permintaan maaf yang ikhlas kepada sang anak dan taubat kita kepada Alloh, Allohlah yang akan menyembuhkan jiwa-jiwa suci mereka yang terluka itu. Berazzamlah untuk tidak mengulanginya lagi. Karena pada jiwa-jiwa itulah kita menitipkan bermiliar-miliar harapan, kita lantunkan jutaan doa. Dan jika Alloh menghendaki, jiwa-jiwa itulah yang mereka bawa dua puluh lima tahun yang akan datang untuk menjadi pribadi dewasa untuk melanjutkan estafet perjuangan ini.

Bertekadlah untuk meluaskan dada kita saat mereka menyulitkan kita, maafkanlah mereka. Karena Rasulullah bersabda,
”Sesungguhnya Alloh merahmati orang tua yang membantu anaknya berbakti kepadanya, kata Nabi saw.. Orang-orang di sekeliling beliau bertanya, ”Bagaimana cara orang tua membantu anaknya, ya Rasulullullah?” Nabi saw. Menjawab, ”Dia menerima yang sedikit darinya, memaafkan yang menyulitkannya, tidak membebaninya, dan tidak memakinya.”

Bersikap lembutlah pada mereka, tidak hanya pada saat mereka menampakkan senyum lucu yang manis, atau ketika ia berceloteh menggemaskan. Dalam keadaan membuat kita susah pun, kelembutan itu tetap ada pada kita.

Read Full Post »


Menyimak berita akhir-akhir ini mengenai kasus bullying, atau kekerasan yang dilakukan anak-anak terhadap anak lain di sekolah, menarik saya pada ingatan tentang cerita anak saya sepulang sekolah suatu hari.

Beberapa bulan kebelakang, anak saya yang pertama bercerita (saat itu ia adalah siswa kelas 2 sebuah sekolah dasar). Ibu, katanya, tadi disekolah aku dihukum, gara-gara waktu shalat bercanda. Dihukum apa, tanya saya, aku, sama teman-temanku yang lain yang bercanda, dijitakin sama semua anak yang tidak bercanda. Siapa yang menyuruh seperti itu tanya saya, Bapak X, kata anak saya, guru yang menjadi penanggung jawab kegiatan shalat hari itu.
Dalam hati, saya agak marah sesungguhnya, apakah memang demikian cara mendisiplinkan anak saat mereka sedang belajar untuk shalat? Padahal jika merujuk pada salah satu kisah yang pernah saya baca, Rasulullah SAW saja dengan sengaja membiarkan dirinya bersujud lebih lama dari yang seharusnya, karena cucunya menaiki Beliau saat Beliau sedang shalat. Rasulullah adalah teladan. Uswatun Hasanah. Maka seharusnya kita merujuk pada beliau untuk segala hal, termasuk dalam mendidik, membesarkan anak-anak dan mengajari mereka beribadah.
Kemudian pada suatu hari, anak saya kembali bercerita (saat ini ia sudah duduk di kelas 3), bahwa saat dikelas tadi ada temannya yang menangis karena dicubit oleh temannya yang lain dengan sangat keras. Saya bertanya, terus ibu gurunya ngapain? Gak ngapa-ngapain, cuma tanya aja, kenapa menangis, terus anak yang nyubitnya dikasih tau ga boleh begitu.

Kemudian saya teringat, pada saat ia kelas satu, ia juga pernah bercerita bahwa dikelasnya ada anak yang suka “neke” (ini adalah bahasa lokal “menjitak kepala”) teman yang lain.

Tampaknya, berdasarkan cerita anak saya diatas, budaya kekerasan memang sering terjadi di sekolah. Tidak hanya oleh anak-anak kepada temannya, tetapi juga oleh orang dewasa. Buat saya, sekalipun gurunya tidak secara langsung melakukan tindakan ‘menjitak’ (ini bahasa Indonesia baku atau bukan ya?), tetapi menyuruh anak-anak melakukan tindakan tersebut pada anak yang lain, sama saja dengan membolehkan dan bahkan menganjurkan anak-anak melakukan kekerasan pada anak yang lain.

Karena saya sendiri, belum secara mendalam membaca dan memahami referensi mengenai tindakan kekerasan pada anak-anak di sekolah, maka dengan bantuan om Google, saya mendapatkan sebuah artikel yang sangat lengkap tentang hal tersebut. Tanpa saya edit, berikut adalah copas artikel tersebut dari http://harunnihaya.blogspot.com/2011/12/bullying-dan-solusinya.html. Semoga bermanfaat.

Bullying berasal dari kata Bully, yaitu suatu kata yang mengacu pada pengertian adanya “ancaman” yang dilakukan seseorang terhadap orang lain (yang umumnya lebih lemah atau “rendah” dari pelaku), yang menimbulkan gangguan psikis bagi korbannya (korban disebut bully boy atau bully girl) berupa stress (yang muncul dalam bentuk gangguan fisik atau psikis, atau keduanya; misalnya susah makan, sakit fisik, ketakutan, rendah diri, depresi, cemas, dan lainnya). Apalagi Bully biasanya berlangsung dalam waktu yang lama (tahunan) sehingga sangat mungkin mempengaruhi korban secara psikis. Sebenarnya selain perasaan-perasaan di atas, seorang korban Bully juga merasa marah dan kesal dengan kejadian yang menimpa mereka. Ada juga perasaan marah, malu dan kecewa pada diri sendiri karena “membiarkan” kejadian tersebut mereka alami. Namun mereka tak kuasa “menyelesaikan” hal tersebut, termasuk tidak berani untuk melaporkan pelaku pada orang dewasa karena takut dicap penakut, tukang ngadu, atau bahkan disalahkan. Dengan penekanan bahwa bully dilakukan oleh anak usia sekolah, perlu dicatat bahwa salah satu karakteristik anak usia sekolah adalah adanya egosentrisme (segala sesuatu terpusat pada dirinya) yang masih dominan. Sehingga ketika suatu kejadian menimpa dirinya, anak masih menganggap bahwa semua itu adalah karena dirinya.
Definisi Bullying menurut PeKA (Peduli Karakter Anak) adalah penggunaan agresi dengan tujuan untuk menyakiti orang lain baik secara fisik maupun mental. Bullying dapat berupa tindakan fisik, verbal, emosional dan juga seksual.
Berikut ini adalah contoh tindakan yang termasuk kategory bullying; pelaku baik individual maupun group secara sengaja menyakiti atau mengancam korban dengan cara:
- menyisihkan seseorang dari pergaulan,
- menyebarkan gosip, mebuat julukan yang bersifat ejekan,
- mengerjai seseorang untuk mempermalukannya,
- mengintimidasi atau mengancam korban,
- melukai secara fisik,
- melakukan pemalakan/ pengompasan.

Bullying tidaklah sama dengan occasional conflict atau pertengkaran biasa yang umum terjadi pada anak. Konflik pada anak adalah normal dan membuat anak belajar cara bernegosiasi dan bersepakat satu sama lain. Bullying merujuk pada tindakan yang bertujuan menyakiti dan dilakukan secara berulang. Sang korban biasanya anak yang lebih lemah dibandingkan sang pelaku.
Menurut Dan Olweus, penulis dari Bullying at School, Bullying Bisa dibagi menjadi dua bagian besar yaitu :
1. Direct bullying : intimidasi secara fisik, verbal.
2. Indirect Bullying: isolasi secara sosial.

Bullying itu sangat menyakitkan bagi si korban. Tidak seorangpun pantas menjadi korban bullying. Setiap orang memiliki hak untuk diperlakukan dan dihargai secara pantas dan wajar. Bullying memiliki dampak yang negatif bagi perkembangan karakter anak, baik bagi si korban maupun pelaku.

Berikut ini contoh dampak bullying bagi sang korban :
- Depresi
- Rendahnya kepercayaan diri / minder
- Pemalu dan penyendiri
- Merosotnya prestasi akademik
- Merasa terisolasi dalam pergaulan
- Terpikir atau bahkan mencoba untuk bunuh diri

Di sisi lain, apabila dibiarkan, pelaku bullying akan belajar bahwa tidak ada risiko apapun bagi mereka bila mereka melakukan kekerasan, agresi maupun mengancam anak lain. Ketika dewasa pelaku tersebut memiliki potensi lebih besar untuk menjadi preman ataupun pelaku kriminal dan akan membawa masalah dalam pergaulan sosial.
Tentu kita masih ingat kasus yang terjadi pada STPDN /IPDN yang sampai menelan korban jiwa. Dan entah sudah berapa ratus dan mungkin bahkan ribuan dan jutaan orang yang pernah mengecap pendidikan di STPDN/IPDN yang rusak mental dan jiwanya karena telah di Bullying oleh seniornya dan pada akhirnya sebagai pembalasan mereka kembali melakukan hal yang sama seperti kakak seniornya, melakukan Bullying. Dan itu akan terus terjadi secara turun temurun dan lembaga pendidikan yang notabene nya adalah pencetak Pejabat.
Bullying tidak terjadi juga antar pelajar dan senior tapi juga kerap terjadi oleh guru, mungkin saja tidak terjadi bunuh diri apabila siswa yg menunggak SPP tidak merasa dipermalukan dan disisihkan di hadapan teman sekolahnya. Baik itu karena berulangkali harus menghadapi pemanggilan kepala sekolah maupun perlakuan yang berbeda dari pihak sekolah terhadapnya. Bisa jadi tidak akan terjadi lagi “mati konyol” akibat proses penerimaan siswa baru, apabila kita tidak menganggap praktek perploncoan sebagai hal yang biasa.
Bentuk Bully terbagi dua, tindakan langsung seperti menyakiti, mengancam, atau menjelekkan anak lain. Sementara bentuk tidak langsung adalah menghasut, mendiamkan, atau mengucilkan anak lain. Apapun bentuk Bully yang dilakukan seorang anak pada anak lain, tujuannya adalah sama, yaitu untuk “menekan” korbannya, dan mendapat kepuasan dari perlakuan tersebut. Pelaku puas melihat ketakutan, kegelisahan, dan bahkan sorot mata permusuhan dari korbannya.
Karakteristik korban Bully adalah mereka yang tidak mampu melawan atau mempertahankan dirinya dari tindakan Bully. Bully biasanya muncul di usia sekolah. Pelaku Bully memiliki karakteristik tertentu. Umumnya mereka adalah anak-anak yang berani, tidak mudah takut, dan memiliki motif dasar tertentu. Motif utama yang biasanya ditenggarai terdapat pada pelaku Bully adalah adanya agresifitas. Padahal, ada motif lain yang juga bisa dimiliki pelaku Bully, yaitu rasa rendah diri dan kecemasan. Bully menjadi bentuk pertahanan diri (defence mechanism) yang digunakan pelaku untuk menutupi perasaan rendah diri dan kecemasannya tersebut. “Keberhasilan” pelaku melakukan tindakan bully bukan tak mungkin berlanjut ke bentuk kekerasan lainnya, bahkan yang lebih dramatis.
Ada yang menarik dari karakteristik pelaku dan korban Bully. Korban Bully mungkin memiliki karakteristik yang bukan pemberani, memiliki rasa cemas, rasa takut, rendah diri, yang kesemuanya itu (masing-masing atau sekaligus) membuat si anak menjadi korban Bully. Akibat mendapat perlakuan ini, korban pun mungkin sekali menyimpan dendam atas perlakuan yang ia alami.
Selanjutnya, bukan tak mungkin, korban Bully, menjadi pelaku Bully pada anak lain yang ia pandang sesuai dengan tujuannya, yaitu untuk mendapat kepuasan dan membalaskan dendam. Ada proses belajar yang sudah ia jalani dan ada dendam yang tak terselesaikan. Kasus di sekolah-sekolah, dimana kakak kelas melakukan Bully pada adik kelas, dan kemudian Bully berlanjut ketika si adik kelas sudah menjadi kakak kelas dan ia kemudian melakukan Bully pada adik kelasnya yang baru, adalah contoh dari pola Bully yang dijelaskan di atas.
Tindakan Bullying bisa terjadi dimana saja, terutama tempat-tempat yang tidak diawasi oleh guru atau orang dewasa lainnya. Pelaku akan memanfaatkan tempat yang sepi untuk menunjukkan “kekuasaannya” atas anak lain, agar tujuannya tercapai. Sekitar toilet sekolah, pekarangan sekolah, tempat menunggu kendaraan umum, lapangan parkir, bahkan mobil jemputan dapat menjadi tempat terjadinya Bullying.
Sebagai orang tua, kita wajib waspada akan adanya perilaku bullying pada anak, baik anak sebagai korban atau sebagai pelaku. Beberapa hal yang dapat dicermati dalam kasus Bullying adalah :
Bagaimana mengenali anak yang diindikasi mengalami tindakan intimidasi di sekolahnya? Sejumlah tips yang dirangkum Kompas.com dari berbagai sumber ini mungkin bisa membantu Anda.
Ciri-ciri yang harus diperhatikan di antaranya:
1. Enggan untuk pergi sekolah
2. Sering sakit secara tiba-tiba
3. Mengalami penurunan nilai
4. Barang yang dimiliki hilang atau rusak
5. Mimpi buruk atau bahkan sulit untuk terlelap
6. Rasa amarah dan benci semakin mudah meluap dan meningkat
7. Sulit untuk berteman dengan teman baru
8. Memiliki tanda fisik, seperti memar atau luka

Jika menemukan ciri-ciri seperti di atas, langkah yang harus dilakukan orangtua di antaranya:
1. Berbicara dengan orangtua si anak yang melakukan bully terhadap anak Anda
2. Mengingatkan sekolah tentang masalah seperti ini
3. Datangi konselor profesional untuk ikut membantu mengatasi masalah ini

Jika tindakan kekerasan ini masih terus berlanjut dan tidak ada respons yang baik dari sekolah, pikirkanlah cara lain. Salah satu pilihan, jika memungkinkan, pindahkan sekolah anak Anda. Dalam situasi yang ekstrem, mungkin perlu menghubungi polisi atau meminta perlindungan. Namun, hal yang paling penting adalah mendengarkan komplain anak dan tetaplah membuka komunikasi kepada mereka.
Bullying tidak boleh diabaikan mengingat dampak psikis dan mental terhadap anak sangat besar.
Berikut ini beberapa saran untuk mengetahui anak kita menjadi korban bullying atau tidak :
 Ketahuilah bahwa seorang anak yang sedang diintimidasi kemungkinan besar akan memberitahu rekan pertama, lalu orang tua, dan kemudian guru. “Selalu tahu siapa teman-teman anak Anda,” kata Robin D’Antona, pendiri Asosiasi Internasional Pencegahan Bullying. Dengan menjalin persahabatan dengan teman anak kita, maka banyak “bocoran” yang akan disampaikannya tentang dia.
 Tanyakan kepada anak kita secara rutin apakah dia suka sekolah. Jika seorang anak menjawab bahwa ia “membenci” sekolah, tanyakan lebih dalam untuk mengetahui rincian apa yang membuatnya benci sekolah. Apakah ia membenci akademisi? Bisakah dia tidak melihat papan tulis? Gambar dari sumber sikap anak Anda ke sekolah.
 Privasi berakhir saat keselamatan anak kita terancam di sekolah. Perhatikan apa yang mereka lakukan di web, dan memeriksa ponselnya. Jika anak menginginkan buku harian, membeli buku dan sarankan menyimpan di tempat yang sekiranya perlu, kita bisa juga mengaksesnya tanpa dia tahu. “Misalnya di bawah kasur,” kata D’Antona.
 Ciptakan komunikasi yang harmonis dalam keluarga kita. Buatlah anak-anak bebas mengungkapkan kata hatinya dan bisa terbuka untuk berbicara setiap saat. Ada kalanya kita harus kontak mata dengannya saat berbiicara, ada kalanya anak juga lebih nyaman bercerita pada kita tanpa kontak mata. “Perjalanan sambil mengobrol selama kita tengah menyetir, misalnya, membuat anak bebas mengungkapkan apa saja,” tambah D’Antona.

Beberapa hal yang dapat dicermati dalam kasus Bullying adalah :

a. Anak menjadi Korban
Tanda-tandanya :

1. Munculnya keluhan atau perubahan perilaku atau emosi anak akibat stres yang ia hadapi karena mengalami perilaku bullying (anak sebagai korban).
2. Laporan dari guru atau teman atau pengasuh anak mengenai tindakan bullying yang terjadi pada anak.

b. Anak sebagai Pelaku
Tanda-tandanya :

1. Anak bersikap agresif, terutama pada mereka yang lebih muda usianya, atau lebih kecil atau mereka yang tidak berdaya (binatang, tanaman, mainan).
2. Anak tidak menampilkan emosi negatifnya pada orang yang lebih tua/ lebih besar badannya/ lebih berkuasa, namun terlihat anak sebenarnya memiliki perasaan tidak senang.
3. Sesekali anak bersikap agresif yang berbeda ketika bersama anda.
4. Melakukan tindakan agresif yang berbeda ketika tidak bersama anda (diketahui dari laporan guru, pengasuh, atau teman-teman).
5. Ada laporan dari guru/ pengasuh/ teman-temannya bahwa anak melakukan tindakan agresif pada mereka yang lebih lemah atau tidak berdaya (no. 1).
6. Anak yang pernah mengalami bully mungkin menjadi pelaku bully.

Salah satu bullying adalah bentuk penindasan. Penindasan sendiri bisa dengan atau tanpa kekerasan. Bullying adalah perilaku yang diulangi dari waktu ke waktu yang secara nyata melibatkan ketidak-seimbangan kekuasaan, yang lebih kuat menyerang kelompok anak-anak atau mereka yang kurang kuat. Bullying dapat berupa pelecehan lisan atau penyerangan fisik, atau cara lain yang lebih halus, seperti paksaan dan manipulasi. Bullying biasanya dilakukan untuk memaksa orang lain dengan rasa takut dan ancaman. Bullying dapat dicegah jika anak-anak diajarkan keterampilan sosial agar mampu berinteraksi dengan orang-orang. Hal ini akan membantu mereka untuk menjadi orang dewasa produktif, ketika berinteraksi dengan orang-orang yang mengganggu. Bullying di sekolah dan tempat kerja juga disebut sebagai penyalahgunaan rekan.

Karakter-karakter tertentu pada anak yang biasanya menjadi korban bullying, misalnya:
• Sulit berteman
• Pemalu
• Memiliki keluarga yang terlalu melindungi
• Dari suku tertentu
• Cacat atau keterbatasan lainnya
• Berkebutuhan khusus
• Sombong, dll.

Anak yang menjadi korban biasanya merasa malu, takut, tidak nyaman. Sehingga untuk membuat ia kembali mampu menjalani kegiatannya sehari-hari seperti biasa, ia harus dibekali dengan “tools” yang membuat ia yakin bahwa ia akan mendapatkan pertolongan. Ia harus tahu dan percaya bahwa guru kelas dan temannya akan membantu, misalnya. Atau ia kemudian mendapatkan teman selama jam istirahat atau kegiatan di luar kelas. Rasa percaya dirinya kembali dipupuk dengan memusatkan perhatian pada hal-hal yang menjadi kelebihan dan potensinya. Yang terakhir ini biasanya berjakan dengan sendirinya jika rasa aman sudah kembali dimiliki.
Bullying terjadi ketika seseorang merasa teraniaya, takut, terintimidasi, oleh tindakan seseorang baik secara verbal, fisik atau mental. Ia takut bila perilaku tersebut akan terjadi lagi, dan ia merasa tak berdaya mencegahnya. (Andrew Mellor, antibullying network, univ. of edinburgh, scotland)
Perilaku bullying di institusi pendidikan bisa terjadi oleh siswa kepada siswa, siswa kepada guru, guru kepada siswa, guru kepada guru, orang tua siswa kepada guru atau sebaliknya, dan antarcivitas akademika di institusi pendidikan/sekolah.

Bullying terjadi apabila memenuhi unsur:
1. Perilaku yang menyebabkan seseorang/ siswa/ guru terhina, terintimidasi, takut, terisolasi
2. Perilaku yang dilakukan berulang-ulang baik verbal, fisik, dan psikis, yang menimbulkan powerless
3. Adanya aktor yang superior dan inferior
4. Perilaku yang dilakukan berdampak negatif.

Bentuk dan Modus Bullying:
1. Fisik (tendangan, pukulan, jambakan, tinju, tamparan, lempar benda, meludahi, mencubit, merusak, membotaki, mengeroyok, menelanjangi, push up berlebihan, menjemur, mencuci WC, lari keliling lapangan yang berlebihan/ tidak mengetahui kondisi siswa, menyundut rokok, dll).
2. Verbal (mencaci maki, mengejek, memberi label/ julukan jelek, mencela, memanggil dengan nama bapaknya, mengumpat, memarahi, meledek, mengancam, dll).
3. Psikis (pelecehan seksual, memfitnah, menyingkirkan, mengucilkan, mendiamkan, mencibir, penghinaan, menyebarkan gosip).

B. Solusi terhadap Kasus Bullying
Pada tahun 2006 Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kasus kekerasan pada anak mencapai Rp 25 juta, dengan berbagai macam bentuk, dari yang ringan sampai yang berat. Lalu, data BPS tahun 2009 menunjukkan kepolisian mencatat, dari seluruh laporan kasus kekerasan, 30 persen di antaranya dilakukan oleh anak-anak, dan dari 30 persen kekerasan yang dilakukan anak-anak, 48 persen terjadi di lingkungan sekolah dengan motif dan kadar yang bervariasi.
Plan Indonesia sendiri pernah melakukan survei tentang perilaku kekerasan di sekolah. Survei dilakukan di Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Bogor, dengan melibatkan 1.500 siswa SMA dan 75 guru. Hasilnya, 67,9 persen menganggap terjadi kekerasan di sekolah, berupa kekerasan verbal, psikologis, dan fisik. Pelaku kekerasan pada umumnya adalah teman, kakak kelas, adik kelas, guru, kepala sekolah, dan preman di sekitar sekolah. Sementara itu, 27,9 persen siswa SMA mengaku ikut melakukan kekerasan, dan 25,4 persen siswa SMA mengambil sikap diam saat melihat terjadi kekerasan.
Oleh karenanya, solusi yang bisa dilakukan untuk mencegah dan menangani kasus Bullying ini, antara lain:
Solusi buat orang tua atau wali orang tua jika anaknya menjadi korban intimidasi (bullying) di sekolah. Beberapa di antaranya:
1. Satukan Persepsi dengan Istri/Suami. Sangat penting bagi suami-istri untuk satu suara dalam menangani permasalahan yang dihadapi anak-anak di sekolah. Karena kalau tidak, anak akan bingung, dan justru akan semakin tertekan. Kesamaan persepsi yang dimaksud meliputi beberapa aspek, misalnya: apakah orang tua perlu ikut campur, apakah perlu datang ke sekolah, apakah perlu menemui orang tua pelaku intimidasi, termasuk apakah perlu lapor ke polisi.
2. Pelajari dan Kenali Karakter Anak Kita. Perlu kita sadari, bahwa satu satu penyebab terjadinya bullying adalah karena ada anak yang memang punya karakter yang mudah dijadikan korban. Saya sudah sampaikan tadi, salah satunya adalah sikap “cepat merasa bersalah”, atau penakut, yang dimiliki anak saya. Dengan mengenali karakter anak kita, kita akan bisa mengantisipasi berbagai potensi intimidasi yang menimpa anak kita, atau setidaknya lebih cepat menemukan solusi (karena kita menjadi lebih siap secara mental). Sekedar ilustrasi, anak saya yang kedua, sampai saat ini (sudah SMA) belum pernah menjadi korban intimidasi seperti yang dialami oleh kakaknya dulu.
3. Jalin Komunikasi dengan Anak. Tujuannya adalah anak akan merasa cukup nyaman (meskipun tentu saja tetap ada rasa tidak nyaman) bercerita kepada kita sebagai orang tuanya ketika mengalami intimidasi di sekolah. Ini menjadi kunci berbagai hal, termasuk untuk memonitor apakah suatu kasus sudah terpecahkan atau belum. Untuk saya sendiri, anak-anak lebih banyak/sering bercerita ke ibunya, meskipun kalau sudah sampai pada tahap pemecahan masalah, saya yang lebih banyak berperan.
4. Jangan Terlalu Cepat Ikut Campur. Idealnya, masalah antar anak-anak bisa diselesaikan sendiri oleh mereka, termasuk di dalamnya kasus-kasus bullying. Oleh karena itu, prioritas pertama memupuk keberanian dan rasa percaya diri pada anak-anak kita (yang menjadi korban intimidasi). Kalau anak kita punya kekurangan tertentu, terutama kekurangan fisik, perlu kita tanamkan sebuah kepercayaan bahwa itu merupakan pemberian Tuhan dan bukan sesuatu yang memalukan. Kedua, jangan terlalu “termakan” oleh ledekan teman, karena hukum di dunia ledek-meledek adalah “semakin kita terpengaruh ledekan teman, semakin senang teman yang meledek itu”.
5. Masuklah di Saat yang Tepat. Jangan lupa, bahwa seringkali anak kita sendiri (yang menjadi korban intimidasi) tidak senang kalau kita (orang tuanya) turut campur. Situasinya menjadi paradoksal: Anak kita menderita karena diintimidasi, tapi dia takut akan lebih menderita lagi kalau orang tuanya turut campur. Karena para pelaku bullying akan mendapat ‘bahan’ tambahan, yaitu mencap korbannya sebagai “anak mami”, cemen, dsb. Oleh karena itu, kita mesti benar-benar mempertimbangkan saat yang tepat ketika memutuskan untuk ikut campur menyelesaikan masalah. Ada beberapa indikator: (1) Kasus tertentu tak kunjung terselesaikan, (2) Kasus yang sama terjadi berulang-ulang, (3) Kalau kasusnya adalah pemerasan, melibatkan uang dalam jumlah cukup besar, (4) Ada indikasi bahwa prestasi belajar anak mulai terganggu.
6. Bicaralah dengan Orang yang Tepat. Jika sudah memutuskan untuk ikut campur dalam menyelesaikan masalah, pertimbangkan masak-masak apakah akan langsung berbicara dengan pelaku intimidasi, orang tuanya, atau gurunya. Seperti yang saya ceritakan di atas, kalau saya lebih suka untuk berbicara langsung dengan anak saya, pelaku intimidasi, dan sekaligus guru/wali kelasnya dalam satu kesempatan di sekolah. Saya cenderung untuk menghindari berbicara dengan orang tua pelaku intimidasi, karena khawatir masalahnya jadi melebar kemana mana dan situasi menjadi sangat emosional.
7. Kalau Perlu, Intimidasilah Pelaku Intimidasi. Menjadi pertanyaan memang, koq melawan intimidasi dengan intimidasi? Idealnya memang jangan melakukan itu, tapi kalau memang diperlukan, saya tak segan melakukannya. Pesan yang ingin saya sampaikan adalah: (1) Untuk anak saya, saya ingin dia tahu bahwa saya ada di sisinya, sehingga dia tidak merasa sendirian, (2) Untuk pelaku intimidasi, saya ingin dia tahu bahwa kalau dia melakukannya terus, dia akan berhadapan dengan saya, (3) Untuk guru/sekolah, saya ingin mereka tahu bahwa kalau sekolah/guru tidak bisa menyelesaikan masalah itu, maka saya akan ikut campur menyelesaikannya, dengan cara saya sendiri. Tentu saja pendekatan yang agak-agak bergaya ‘preman’ ini sebaiknya menjadi pilihan terakhir (sebelum lapor ke polisi, mungkin).
8. Jangan Ajari Anak Lari dari Masalah. Dalam beberapa kasus yang diceritakan teman-teman saya, anak-anak kadang merespon intimidasi yang dialaminya di sekolah dengan minta pindah sekolah. Kalau dituruti, itu sama saja dengan lari dari masalah. Jadi, sebisa mungkin jangan dituruti. Kalau ada masalah di sekolah, masalah itu yang mesti diselesaikan, bukan dengan ‘lari’ ke sekolah lain. Jangan lupa, bahwa kasus-kasus bullying itu terjadi hampir di semua sekolah.
9. Buah Simalakama? Makanlah Salah Satunya. Kadang-kadang kita dihadapkan pada dua situasi yang sama-sama buruk. Seperti kasus yang saya sampaikan tadi: (1) Anak kita menjadi korban, atau (2) Anak kita tidak mau menjadi korban dan melawannya dengan kekerasan. Saya tidak tahu bagaimana “teori”-nya, tapi ketika dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama buruk itu, saya memilih yang kedua, yaitu membiarkan anak saya melawan, meskipun dengan cara kekerasan.
10. Jangan Larut dalam Emosi. Ada yang bilang, “orang emosi selalu kalah”. Jadi, usahakan semaksimal mungkin untuk tidak larut dalam emosi, baik dalam bentuk “menangisi anak kita” (yang menjadi korban) maupun melabrak teman anak kita atau orang tuanya. Semua langkah yang kita ambil harus terkendali oleh akal sehat. Karena kalau tidak, masalah bisa melebar ke mana-mana. Dan kalau masalahnya sudah selesai, atau dianggap selesai, jangan diungkit-ungkit terus. Jadikan pelajaran, dan lupakan saja… Masih banyak persoalan lain yang menunggu.

Penanganan yang bisa dilakukan oleh guru:
1. Usahakan mendapat kejelasan mengenai apa yang terjadi. Tekankan bahwa kejadian tersebut bukan kesalahannya.
2. Bantu anak mengatasi ketidaknyamanan yang ia rasakan, jelaskan apa yang terjadi dan mengapa hal itu terjadi. Pastikan anda menerangkan dalam bahasa sederhana dan mudah dimengerti anak. JANGAN PERNAH MENYALAHKAN ANAK atas tindakan bullying yang ia alami.
3. Mintalah bantuan pihak ketiga (guru atau ahli profesional) untuk membantu mengembalikan anak ke kondisi normal, jika dirasakan perlu. Untuk itu bukalah mata dan hati Anda sebagai orang tua. Jangan tabu untuk mendengarkan masukan pihak lain.
4. Amati perilaku dan emosi anak anda, bahkan ketika kejadian bully yang ia alami sudah lama berlalu (ingat bahwa biasanya korban menyimpan dendam dan potensial menjadi pelaku di kemudian waktu). Bekerja samalah dengan pihak sekolah (guru). Mintalah mereka membantu dan mengamati bila ada perubahan emosi atau fisik anak anda. Waspadai perbedaan ekspresi agresi yang berbeda yang ditunjukkan anak anda di rumah dan di sekolah (ada atau tidak ada orang tua / guru / pengasuh).
5. Binalah kedekatan dengan teman-teman anak anda. Cermati cerita mereka tentang anak anda. Waspadai perubahan atau perilaku yang tidak biasa.
6. Minta bantuan pihak ke tiga (guru atau ahli profesional) untuk menangani pelaku.

Pencegahan buat anak yang menjadi korban bullying:
1. Bekali anak dengan kemampuan untuk membela dirinya sendiri, terutama ketika tidak ada orang dewasa/ guru/ orang tua yang berada di dekatnya. Ini berguna untuk pertahanan diri anak dalam segala situasi mengancam atau berbahaya, tidak saja dalam kasus bullying. Pertahanan diri ini dapat berbentuk fisik dan psikis.
 Pertahanan diri Fisik : bela diri, berenang, kemampuan motorik yang baik (bersepeda, berlari), kesehatan yang prima.
 Pertahanan diri Psikis : rasa percaya diri, berani, berakal sehat, kemampuan analisa sederhana, kemampuan melihat situasi (sederhana), kemampuan menyelesaikan masalah.
2. Bekali anak dengan kemampuan menghadapi beragam situasi tidak menyenangkan yang mungkin ia alami dalam kehidupannya. Untuk itu, selain kemampuan mempertahankan diri secara psikis seperti yang dijelaskan di no. 1a. Maka yang diperlukan adalah kemampuan anak untuk bertoleransi terhadap beragam kejadian. Sesekali membiarkan (namun tetap mendampingi) anak merasakan kekecewaan, akan melatih toleransi dirinya.
3. Walau anak sudah diajarkan untuk mempertahankan diri dan dibekali kemampuan agar tidak menjadi korban tindak kekerasan, tetap beritahukan anak kemana ia dapat melaporkan atau meminta pertolongan atas tindakan kekerasan yang ia alami (bukan saja bullying). Terutama tindakan yang tidak dapat ia tangani atau tindakan yang terus berlangsung walau sudah diupayakan untuk tidak terulang.
4. Upayakan anak mempunyai kemampuan sosialisasi yang baik dengan sebaya atau dengan orang yang lebih tua. Dengan banyak berteman, diharapkan anak tidak terpilih menjadi korban bullying karena :
a. Kemungkinan ia sendiri berteman dengan pelaku, tanpa sadar bahwa temannya pelaku bullying pada teman lainnya.
b. Kemungkinan pelaku enggan memilih anak sebagai korban karena si anak memiliki banyak teman yang mungkin sekali akan membela si anak.
c. Sosialisasi yang baik dengan orang yang lebih tua, guru atau pengasuh atau lainnya, akan memudahkan anak ketika ia mengadukan tindakan kekerasan yang ia alami.

Penanganan buat anak yang menjadi pelaku Bullying:
1. Segera ajak anak bicara mengenai apa yang ia lakukan. Jelaskan bahwa tindakannya merugikan diri dan orang lain. Upayakan bantuan dari tenaga ahlinya agar masalah tertangani dengan baik dan selesai dengan tuntas.
2. Cari penyebab anak melakukan hal tersebut. Penyebab menjadi penentu penanganan. Anak yang menjadi pelaku karena rasa rendah diri tentu akan ditangani secara berbeda dengan pelaku yang disebabkan oleh dendam karena pernah menjadi korban.Demikian juga bila pelaku disebabkan oleh agresifitasnya yang berbeda.
3. Posisikan diri untuk menolong anak dan bukan menghakimi anak.

Solusi lain:
Blaming the Victim

Masalah bullying adalah masalah kita semua. Pemerintah, polisi, politisi, masyarakat, guru, orang tua, dan siswa, mestinya memiliki kepedulian bersama dalam menyelesaikan masalah bullying ini. Sayangnya, tidak sedikit orang yang menganggap masalah bullying sebagai masalah pelajar itu sendiri. Karenanya, mereka selalu menganggap pelajar sebagai biang masalah. Ini merupakan sikap dan tindakan yang dikenal dengan blaming the victim (menyalahkan korban).
Blaming the victim, sebenarnya mirip dengan cerita petani yang menemukan buah anggur yang ranum di atas pohon. Tapi, pohonnya sangat tinggi. Sementara, si petani tidak bisa memanjat pohon itu. Lalu si petani mencari bambu untuk memetiknya. Tapi, dia tidak menemukan bambu panjang yang bisa mencapai buah anggur. Tak kehabisan akal, si petani melempari anggur dengan batu. Tapi tidak ada yang kena. Akhirnya, si petani meninggalkannya, sambil bergumam, ”Hmmm, anggur itu pasti rasanya masam.”
Blaming the victim, makanya perlu dihindari. Karena bukannya menyelesaikan masalah, melainkan menghindar dari masalah. Blaming the victim, merupakan wujud dari ketidakmampuan (atau ketidakmauan?) seseorang dalam menyelesaikan masalah.

Dari Masalah ke Akar Masalah
Selain blaming the victim, problem lain yang menghambat penyelesaian bullying adalah terpaku kepada masalah, tanpa menyadari penyebab yang menjadi akar masalah. Padahal, mengetahui dan menyelesaikan akar suatu masalah, merupakan salah satu teknik problem solving yang jitu. Penyelesaian suatu kasus tanpa menyelesaikan akar masalahnya akan sia-sia belaka. Kalaupun berhasil, sifatnya hanya sementara. Setelah itu, tidak lama kemudian akan muncul lagi.
Khalifah Umar bin Khattab, pernah mengajarkan teknik problem solving dengan berorientasi kepada penyelesaian akar masalah. Konon suatu hari, seseorang dilaporkan kepada Sang Khalifah karena telah mencuri. Si pelapor meminta kepada khalifah untuk menjatuhkan hukuman yang seberat-beratnya kepada si pencuri. Khalifah Umar bin Khattab tahu bahwa potong tangan merupakan sanksi bagi si pencuri. Tetapi, beliau ternyata tidak menghukumnya, setelah tahu bahwa kelaparan dan paceklik menjadi penyebab orang itu mencuri. Akhirnya si pencuri dibebaskan. Selanjutnya, sebagai khalifah, dia berusaha untuk membuat program yang mensejahterakan rakyatnya. Hasilnya, pencurian dan kriminalitas tidak lagi terdengar di kalangan rakyatnya. Karena, kelaparan dan paceklik, yang menjadi akar masalah, sudah diselesaikannya.
Apa yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab, perlu ditiru oleh siapapun yang akan menyelesaikan masalah kekerasan di kalangan pelajar. Umar bin Khattab tidak langsung menghukum si pencuri. Melalui otaknya yang jenius serta hatinya yang tenang, beliau menangkap sinyal ketidakberesan di tengah-tengah masyarakatnya.
Demikian juga dalam menghadapi kasus bullying. Tidak cukup hanya menghukum para pelajar yang melakukannya. Sebab, banyak faktor yang dapat dihubungkan sebagai akar masalah yang menjadi penyebab terjadinya bullying. Misalnya, sistem pendidikan yang tidak membebaskan, suasana belajar yang tidak kondusif, langkanya keteladanan guru dan pelajar senior, pengaruh negatif media massa, keluarga yang broken home, serta masih banyak faktor penyebab lainnya.
Tidak heran, jika banyak orang berpendapat bahwa menyelesaikan masalah bullying tidak semudah membalikkan telapak tangan. Karena akar masalahnya tidak tunggal; banyak dan kompleks. Akan tetapi, walaupun rumit, kita perlu mencari jalan keluarnya. Allah Swt. dalam Al-Qur’an Surat Alam Nasyrah [94]: 5-6 menegaskan: ”Sesungguhnya di dalam kesulitan pasti ada kemudahan. Dan sesungguhnya di dalam kesulitan pasti ada kemudahan”.

Komunikasi, Muara Solusi
Menyelesaikan kasus bullying sesungguhnya bisa dimulai dengan cara membangun komunikasi yang terbuka antara guru, orang tua dan murid. Selama ini, komunikasi di antara mereka seringkali tidak berjalan dengan baik dan efektif. Orang tua, misalnya jarang memberi perhatian terhadap anaknya, baik di rumah atau di sekolah. Mereka, mungkin terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan, sehingga tidak sempat (atau tidak mau menyempatkan diri) berkomunikasi dengan anak dan pihak sekolah. Sementara itu, di sekolah, guru cenderung ingin didengarkan murid. Komunikasi yang dibangun hanya satu arah. Tidak banyak guru yang memposisikan dirinya sebagai fasilitator atau mitra berbagi dengan murid. Sedangkan murid-murid lebih suka mengambil jalan sendiri, dan tidak tahu kepada siapa dia harus berkomunikasi.
Oleh karena itu, komunikasi sangat penting dalam membangun suasana yang sejuk dan damai. Komunikasi menjadi semacam muara bagi solusi atas kasus-kasus kekerasan di kalangan pelajar. Kesediaan semua pihak, terutama orang tua, guru dan murid, untuk menjalin komunikasi yang positif, terbuka, dan jujur, akan membuka jalan menuju solusi yang efektif dalam menyelesaikan kasus bullying. Pertanyaannya sekarang, seperti bunyi iklan sebuah vendor komunikasi, ”Mau?”.

Cara paling ideal untuk mencegah terjadinya bullying :
• Mengajarkan kemampuan asertif, yaitu kemampuan untuk menyampaikan pendapat atau opini pada orang lain dengan cara yang tepat. Hal ini termasuk kemampuan untuk mengatakan TIDAK atas tekanan-tekanan yang didapatkan dari teman/pelaku bullying.
• Sekolah meningkatkan kesadaran akan adanya perilaku bullying (tidak semua anak paham apakah sebenarnya bullying itu) dan bahwa sekolah memiliki dan menjalankan kebijakan anti bullying. Murid harus bisa percaya bahwa jika ia menjadi korban, ia akan mendapatkan pertolongan. Sebaliknya, jika ia menjadi pelaku, sekolah juga akan bekerjasama dengan orangtua agar bisa bersama-sama membantu mengatasi permasalahannya.
• Memutus lingkaran konflik dan mendukung sikap bekerjasama antar anggota komunitas sekolah, tidak hanya interaksi antar murid dalam level yang sama tapi juga dari level yang berbeda.

Cara mencegah supaya anak tidak menjadi pelaku bullying :
Perilaku ini sebenarnya bisa dicegah jika sekolah dan orangtua memiliki pemahaman yang menyeluruh mengenai anak. Kunci utama dari antisipasi masalah disiplin dan bullying adalah hubungan yang baik dengan anak. Hubungan yang baik akan membuat anak terbuka dan percaya bahwa setiap masalah yang dihadapinya akan bisa diatasi dan bahwa orangtua dan guru akan selalu siap membantunya. Dari sinilah anak kemudian belajar untuk menyelesaikan masalah dengan cara yang tepat.

Cara bagaimana supaya anak tidak menjadi korban bullying :
Hal ini berkaitan erat dengan konsep diri anak. Jika anak memiliki konsep diri yang baik, dalam arti mengenal betul kelebihan dan kekurangan dirinya, ia tidak akan terganggu dengan tekanan-tekanan dari teman-teman atau pelaku bullying. Biasanya jika korban atau calon korban tidak menggubris, pelaku bullying tidak akan mendekatinya lagi.
Yang penting juga adalah membekali anak dengan keterampilan asertif, sehingga bisa memberikan pesan yang tepat pada pelaku bahwa dirinya bukan pihak yang bisa dijadikan korban.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto menawarkan konsep pembentukan karakter bagi para siswa. Terutama dalam meningkatkan rasa kepekaan terhadap sesama. “Mereka itu perlu pembentukan suatu karakter atau perilaku untuk bisa pahami orang lain, saya bilang coba anak-anak sekolah itu bawa ke tempat orang miskin dan tempat umum agar mereka tergugah bahwa ada lingkungan yang tidak sebaik mereka,” kata Prijanto di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jumat (28/10/2011).
Sementara itu hasil diskusi Bullying di THE CENTER FOR THE BETTERMENT OF EDUCATION, SAVE THE CHILDREN, Jakarta 12 Januari 2010, untuk ikut memberikan beberapa solusi dan rekomendasi dalam rangka mengurangi bullying di sekolah anak anak kita, yaitu:

Pencegahan Bullying Secara Preventif :
1. Sosialisasi antibullying kepada siswa, guru, orang tua siswa, dan segenap civitas akademika di sekolah.
2. Penerapan aturan di sekolah yang mengakomodasi aspek antibullying.
3. Membuat aturan antibullying yang disepakati oleh siswa, guru, institusi sekolah dan semua civitas akademika institusi pendidikan/ sekolah.
4. Penegakan aturan/sanksi/disiplin sesuai kesepakatan institusi sekolah dan siswa, guru dan sekolah, serta orang tua dan dilaksanakan sesuai dengan prosedur pemberian sanksi.
5. Membangun komunikasi dan interaksi antarcivitas akademika.
6. Meminta Depdiknas memasukkan muatan kurikulum pendidikan nasional yang sesuai dengan tahapan perkembangan kognitif anak/siswa agar tidak terjadi learning difficulties.
7. Pendidikan parenting agar orang tua memiliki pola asuh yang benar.
8. Mendesak Depdiknas memasukkan muatan kurikulum institusi pendidikan guru yang mengakomodasi antibullying.
9. Muatan media cetak, elektronik, film, dan internet tidak memuat bullying dan mendesak Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengawasi siaran yang memasukkan unsur bullying.
10. Perlunya kemudahan akses orang tua atau publik, lembaga terkait, ke institusi pendidikan/sekolah sebagai bentuk pengawasan untuk pencegahan dan penyelesaian bullying atau dibentuknya pos pengaduan bullying.

Solusi Ketika Telah Terjadi Bullying:
1. Pendekatan persuasive, personal, melalui teman (peer coaching).
2. Penegakan aturan/sanksi/disiplin sesuai kesepakatan institusi sekolah dan siswa, guru dan sekolah, serta orang tua dan dilaksanakan sesuai dengan prosedur pemberian sanksi, lebih ditekankan pada penegakan sanksi humanis dan pengabdian kepada masyarakat (student service).
3. Dilakukan komunikasi dan interaksi antar pihak pelaku dan korban, serta orangtua.
4. Ekspose media yang memberikan penekanan munculnya efek negatif terhadap perbuatan bullying sehingga menjadi pembelajaran bagi semua pihak agar tidak melakukan perbuatan serupa.

Read Full Post »


Tulisan ini adalah copas dari status seorang teman di sebuah jejaring sosial.

DR. Quraisy Shihab, mempunyai 8 orang saudara kandung yg seluruhnya berhasil dalam bidangnya masing-masing. Suatu ketika ada yg bertanya kepada ibu beliau, apa rahasia di balik keberhasilannya.

Jawabnya? Adalah sebuah do’a yang tak pernah luput dipanjatkan oleh ibunya, yang berbunyi :

(1) Allahummaj’al aulaadana kulluhum shaalihan wa thaa’atan..
Artinya : ya اَللّهُ jadikanlah anak-anakku orang yang sholeh dan ta’at ber’ibadah.

(2) wa ummuruhum thowiilan = panjangkanlah umurnya.

(3) war zuqhum waasi’an = luaskan /lapangkan rezkinya.

(4) wa ‘uquuluhum zakiyyan = cerdaskan akalnya.

(5) wa quluubuhum nuuran = dan terangilah kalbunya.
(6) wa ‘uluumuhum katsiiran naafi’an = karuniakan/berikanlah ‘ilmu yang banyak dan bermanfa’at.

(7) wa jasaaduhum shihhatan wa ‘aafiyatan = sehatkanlah jasmaninya.
(8) Birahmatika yaa arhamar raahimiin = dengan rahmat Mu yang pengasih lagi penyayang.

Aamiin Yaa Robbal’alamin. Aamiin Yaa Robbal ‘alamiin. Semoga saya bisa membesarkan dan mengantar anak-anak meraih kehidupannya, sebagaimana kedelapan putra Ibunda DR. Quraish Shihab. Aamiin.

Read Full Post »


Ide awal tulisan ini berasal dari sebuah kejadian di kursi belakang sebuah bus yang selalu menemani saya menjalani rutinitas bolak balik Bandung -Tasikmalaya setiap minggu.
Ini adalah salah satu cuplikan pengalaman dan pelajaran yang terkadang terselip di sela-sela aktivitas saya yang sejak 10 bulan kebelakang terkondisikan untuk menjalani “hidup diatas roda” dan tanpa mendaftar, akhirnya terjebak menjadi anggota “Bus Mania Community”.

Setelah menunggu hampir 2 jam di Terminal Bis Cicaheum, dan berebut dengan sengit untuk mendapatkan kursi dengan calon penumpang lainnya, akhirnya saya berhasil mendapatkan tempat di salah satu kursi belakang bus. Alhamdulillah ya…Sebab hari itu adalah Kamis, sehari sebelum puasa Ramadhan 1433 H tiba. Budaya Munggahan, sebuah budaya unik untuk berkumpul dan makan-makan siang hari terakhir bersama keluarga sebelum Ramadhan sangat kental bagi orang-orang Tasikmalaya, maka perjuangan mendapat tempat duduk di bis hari itu memang luar biasa, karena jumlah penumpang ke Tasikmalaya meningkat tajam sementara jumlah bus berkurang karena dibatasi untuk keperluan mudik lebaran (menurut salah seorang kru bus tersebut).

Tepat disamping saya, duduk seorang Ibu yang masih bersungut-sungut dan kesal karena hanya mendapat satu kursi padahal ia berangkat bersama dengan suami dan dua anak laki-lakinya berusia sekitar 10 dan 7 tahun. Sang Ibu marah pada suaminya, karena pada saat bis tiba, sang suami yang sholeh, memilih untuk shalat maghrib dulu ke mushola karena mengira bus masih lama datangnya. Alhasil…marahlah sang Ibu, karena saat suaminya shalat, ternyata bus tiba, sehingga mereka tidak mendapat kursi yang cukup sekeluarga. Kemudian sang suami, untuk meredakan kemarahan istrinya yang memaksa tetap ingin nak bus tersebut dan tidak mau menunggu bus selanjutnya karena takut terlalu malam tiba di Tasik, mengajak anak-anaknya untuk duduk dibagian belakang bus, sebuah balkon (jika bisa dikatakan demikian) adalah ruang kosong antara kursi belakang dan kaca belakang bus, yang sering digunakan oleh para penumpang bus yang tidak mendapatkan tempat duduk.

Selama dua jam perjalanan suasana damai dan tentram, sang suami dan anak-anak asyik menikmati perjalanan sambil bercanda dan sesekali makan camilan yang mereka beli atau bawa sebagai bekal. Sementara sang istri dengan wajahnya yang konsisten kesal, tetap sesekali mengomentari ketidak beruntungan mereka yang tidak mendapatkan tempat duduk yang layak, akibat kesalahan sang suami.

Akhirnya suasana damai dan tentram terusik, saat anak mereka yang kecil mulai mengantuk dan agak rewel, yang tadinya tidak protes duduk dibalkon, ingin bisa tidur dengan lebih nyaman, dan mengeluh pada ayahnya. Sang Ibu kemudian menawari anaknya untuk duduk bersama dipangkuan ibunya.

Agak terhenyak saya, ketika menjawab tawaran Ibunya, sang anak mengatakan tidak mau dengan keras, tidak mau katanya, kalau sama Ibu nanti dicubit. Ibu mah galak. Sang Ibu diam, duduk dengan kaku dengan wajah yang dingin. Sang Ayah lalu mengatakan, tidak Ibu tidak akan mencubit. Lalu sang anak menjawab, iya, ibu mungkin gak akan mencubit sekarang, karena ada ayah, kalau ada ayah ibu takut, tapi kalau tidak ada ayah, Ibu galak, suka mencubit. Suara sang anak cukup keras, mungkin terdengar sampai 3 kursi kedepan, karena setelah perkataan anak tersebut, beberapa penumpang didepan saya berdiri dan menoleh kebelakang. Demi mendengar jawaban anaknya, Ibu diam saja memandang lurus kedepan. Tak bergeming. Namun demikian, sepanjang jalan, ibu terus membujuk, begitu juga ayahnya, agar anak bisa tidur dengan nyaman dipangku ibunya, tetapi sang anak tetap menolak, dan akhirnya tertidur dengan nyenyak, dengan tetap berada di balkon bersama kakak dan ayahnya.

Bagi saya, kejadian dibangku belakang bus itu sangat menarik. Sebuah teguran sekaligus pelajaran.

Seringkali sebagai Ibu, secara sadar maupun tidak, barangkali kita pernah meninggikan suara, memaki, mengucapkan “do’a” yang tidak baik atau melakukan kekerasan fisik, pada skala ringan bahkan mungkin berat pada anak-anak. Apakah untuk tujuan mendisiplinkan atau untuk menegur ketika mereka bertingkah laku negatif. Tujuannya pasti baik, saya yakin begitu. Yang seringkali tidak kita sadari adalah dampak dari tingkah laku kita itu pada anak-anak. Anak-anak adalah pembelajar yang hebat. Daya serap mereka terhadap semua tingkah laku kita sebagai orang tuanya, bagai spons. Kuat dan menyerap semua tanpa filter. Dan meninggalkan dampak yang luar biasa.

Di 29 negara, kekerasan terhadap anak yang dilakukan orang dewasa adalah sebuah perbuatan melanggar hukum. Di 113 negara, sekolah juga dilarang memberikan hukuman dengan memukul.

Dikutip dari Natural Growth, Dr. Peter Newell, koordinator organisasi End of Punishment of Children mengatakan, semua orang berhak mendapat perlindungan atas kebebasan fisik mereka, anak-anak termasuk orang yang berhak itu.

Kedua kondisi diatas menunjukkan bahwa melakukan kekerasan pada anak, adalah sebuah masalah yang sangat penting sehingga perlu diatur dengan undang-undang, bahkan dibuat lembaga khusus untuk menangani dan mengurusi mereka yang dibentuk oleh negara.

Secara psikologis dan jangka panjang, beberapa alasan mengapa kita tidak dibolehkan melakukan kekerasan pada anak adalah sebagai berikut:

1. Memukul anak malah mengajarkan mereka untuk menjadi orang yang suka memukul. Cukup banyak penelitian yang menunjukkan bahwa anak yang sering dipukul memiliki perilaku agresif dan menyimpang saat mereka remaja dan dewasa.

Anak-anak secara alami belajar bagaimana harus bersikap melalui pengamatan dan meniru orangtua mereka. Makanya jika Anda suka memukul, saat dewasa nanti, mereka pun akan menganggap apa yang Anda lakukan itu memang boleh dilakukan. Dan tanpa sadar, mereka juga akan melakukan cara yang sama untuk anak-anaknya. Maka melakukan kekerasan pada anak, akan menjadi semacam siklus seumur hidup yang jika tidak diputus, akan berulang terus pada beberapa generasi.

2. Hukuman kekerasan fisik malah membuat anak tidak belajar bagaimana seharusnya menyelesaikan konflik dengan cara yang efektif dan lebih manusiawi. Anak yang dihukum jadi memendam perasaan marah dan dendam. Anak yang dipukul orangtuanya pun jadi tidak bisa belajar bagaimana menghadapi situasi yang serupa di masa depan.

3. Hukuman untuk anak dengan kekerasan bisa mengganggu ikatan antara orangtua dan anak. Ikatan yang kuat seharusnya didasari atas cinta dan saling menghargai. Pukulan anda, akan membuat anak merasa tidak dihargai. Padahal harga diri yang positif, adalah aset bagi anak untuk bisa tumbuh dan berkembang dengan sehat secara psikis.

Mungkin saat Anda memukul anak, dan si anak kemudian menuruti perkataan Anda, tetapi apa yang dilakukannya itu hanya karena dia takut. Sikap itu pun tidak akan bertahan lama karena pada akhirnya anak akan memberontak lagi.

4. Pada anak yang mudah marah dan frustasi, kebiasaannya itu tidaklah terbentuk dari dalam dirinya. Kemarahan tersebut sudah terakumulasi sejak lama, sejak orangtuanya mulai memberinya hukuman dengan kekerasan.

Mungkin pada awalnya hukuman itu memang sukses membuat anak bersikap baik. Namun, saat si anak beranjak remaja dan menjadi dewasa, hukuman itu malah menjadi semacam bahaya laten, yang jika ada masalah yang menjadi triggernya, tingkah laku kita saat menghukumnya malah menjadi bumerang buat kita sendiri.

5. Hukuman fisik bisa membuat anak menangkap pesan yang salah yaitu ‘tindakan itu dibenarkan’. Mereka merasa memukul orang lain yang lebih kecil dari mereka dan kurang memiliki kekuatan, adalah diperbolehkan.

Saat dewasa, anak ini akan tumbuh menjadi orang yang kurang memiliki kasih sayang pada orang lain, empatinya menjadi kurang berkembang dan selalu merasa takut pada orang yang lebih kuat dari mereka.

6. Berkaca dari orangtuanya yang suka memukul, anak belajar kalau memukul merupakan cara yang bisa dilakukan untuk mengekspresikan perasaan dan menyelesaikan masalah. Oleh karena itu, sungguh memukul anak bukanlah cara yang tepat untuk mendidik mereka atau membuat mereka jadi orang yang lebih baik.

Kejadian di kursi belakang bus, barangkali bisa menjadi cermin yang sangat terang benderang, bagaimana sang anak yang memilih untuk tetap tidur di balkon, berada di kondisi tidak nyamannya daripada duduk dipangkuan Ibu, yang selama ini ia gambarkan sebagai orang yang suka mencubitnya. Padahal dibanding rasa sayangnya yang tak terhingga pada sang anak selama ia membesarkan anaknya tersebut, kebiasaan ibu yang suka mencubit, mungkin sedikit sekali frekuensinya.

Wallahu “alam Bishshawwab.

Read Full Post »



If a child lives with criticism, he learns to condemn.
If a child lives with hostility, he learns to fight.
If a child lives with ridicule, he learns to be shy.
If a child lives with shame, he learns to feel guilty.
If a child lives with tolerance, he learns to be patient.
If a child lives with encouragement, he learns confidence.
If a child lives with praise, he learns to appreciate.
If a child lives with fairness, he learns justice.
If a child lives with security, he learns to have faith.
If a child lives with approval, he learns to like himself.
If a child lives with acceptance and friendship, He learns to find love in the world.
(Dorothy Law Nolte)

Anak Belajar dari Kehidupannya

Jika anak dibesarkan dengan celaan, maka ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, maka ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, maka ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, maka ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, maka ia belajar mengendalikan diri
Jika anak dibesarkan dengan motivasi, maka ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan kelembutan, maka ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, maka ia belajar percaya
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, maka ia belajar menghargai diri sendiri
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, maka ia belajar menemukan kasih dalam kehidupannya (Dorothy Law Nolte)

Read Full Post »

Older Posts »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 911 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: