Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Tentang Orang Tua’ Category


Diskusi Parenting 4 – Masjid Perum Situ Gede Indah

parenting class 4

Read Full Post »


Diskusi Parenting 2 – masjidParenting Class Here and There

Ceramah Parenting ini dilaksanakan pada Forum Pengajian Ibu-ibu Ta’lim Nisa di Masjid Jami Al Muhyi – Tasikmalaya

Read Full Post »


Diskusi Parenting 3 – PesantrenParenting Class Here and There

Kegiatan Ceramah Parenting ini dilaksanakan di Pesantren Mathlaul Khaer Cintapada Tasikmalaya

Read Full Post »


nsholihat:

Untuk mereka yang selalu protes pada usaha kemenkominfo memblokir situs-situs porno, you better read this! Let save our children!

Originally posted on Islam is Fun:

Bismillahirrahmanirrahim..

Oke, sebetulnya kontributor sontoloyo ini belum ijin sama empunya blog buat ngisi. Cuman desakan lingkungan *caelah* udah sangat kuat. (1) teman sebaya yang ngojok-ngojokin buat nulis di laman ini lagi; (2) kasus di lapangan *emang mau nulis apaan sampe bawa kasus segala* yang udah menggila, ntar diceritain; (3) abis nonton Mata Najwa edisi Bu Risma sampe meleleh air mata, jadi pengen berjuang bareng semampu yang saya bisa; (4) kemaren kakak kelas ngeshare video dan kayaknya saya nemu benang baru (dari kasus yang ntar saya ceritain) dan penting buat saya tulis ulang supaya bisa saya runut benangnya biar ga kusut dikepala (kepentingan pribadi).

videonya ada disini :

Cukup sekian aja yang bikin saya bulet untuk nulis lagi disini. Dan sebenernya saya rada2 ragu tadi, mau nulis disini atau di blog pribadi, tapi karena nilai yang saya bawa bakal kental banget dengan prinsip hidup, saya pilih disini karena saya memposisikan diri…

View original 4.581 more words

Read Full Post »


Sudahlah….stop-bullying-logo

Hari itu Selasa, sekitar jam 1 siang, anak bungsu saya (Adik, 6 th, kelas 1 SD), pulang ke rumah dalam keadaan menangis digendong oleh ayah. Ada apa? tanya saya, anak kecil saya itu hanya menangis dan kemudian pindah ke gendongan saya, karena ayahnya harus kembali ke kantor untuk bekerja, Saya belum sempat bicara banyak dengan ayahnya.

Setelah tenang dan tangisnya reda, serta berganti baju, Ia  bercerita pada saya, bahwa tadi di sekolah ia “dinakalin” oleh anak kelas V. Ia bercerita bahwa setelah shalat dzuhur, ketika akan keluar dari masjid, ia ditahan oleh seorang anak kelas V, dan kemudian  anak itu melakukan gerakan seperti menodongkan senjata dengan menggunakan jarinya ke kepala  Adik  dan kemudian menyusuri motif tribal dipotongan rambut Adik  dengan jari telunjuknya, sementara kemudian ada satu anak  lagi berdiri dibelakang Adik sambil melakukan gerakan seperti memukul-mukul gendang ke kepala Adik, meskipun tidak kena kepala. Ketika Adik  akan memalingkan wajahnya untuk menghindar, salah satu dari keduanya melarang dengan menahan wajah Adik agar ia tidak berpaling. Yang dilakukan anak saya hanya diam berdiri menundukkan wajahnya, sambil menahan tangis karena ketakutan. Setelah keluar dari masjid ia berjalan ke arah mobil yang terparkir tidak jauh dari situ dimana ayah menunggu disana. Sesampainya di mobil, barulah tangisnya meledak, hingga ia sampai digendongan saya di rumah.

Kejadian ini terlihat oleh ayah yang memang sudah menunggu tidak jauh dari masjid, dari sejak Adik  wudlu. Semula ayah tidak mau ikut campur, dan ingin melihat reaksi Adik,  jika ia bisa mengatasi dan baik-baik saja, ayah  tidak akan melakukan apapun, tetapi demi melihat anak kami  menahan tangis sejak di masjid dan kemudian meledak di mobil, ayahpun turun dan menegur kedua anak tadi. Ayah bilang pada mereka, “kalau mau bercanda seperti itu, bercanda dengan teman seusia dan jangan dengan anak kelas satu, kalau terjadi sesuatu pada anak saya, saya sudah menandai kalian”. Ibu Guru kelas V yang kemudian datang mengajak  ayah untuk meluruskan masalah tersebut dengan melakukan rapat, tapi ayah menolak karena harus kembali ke kantor dan Adik masih menangis di mobil.

Tidak lama setelah ayah mengantar Adik ke rumah dan kembali ke kantor, guru kelas 1 (wali kelas Adik) menelepon dan menanyakan keadaan Adik kepada saya, saya katakan bahwa ia baru saja tenang dan berhenti menangis, Ibu guru meminta maaf, menjelaskan sekaligus bertanya tentang kejadiannya menurut versi Adik dari saya, dan kemudian meminta bicara dengannya,  dan Ayah, tetapi karena ayah sudah berangkat kerja lagi, ibu guru  tidak bisa bicara dengan Ayah. Agak Sore, Pak satpam sekolah meminta no telepon Ayah dan saya berikan. Sore itu di rumah, saya bicara dengan kedua anak saya ,  (Adik, dan kakaknya, siswa  kelas IV) bahwa apa yang dilakukan anak kelas V itu tidak baik, jika ia memang tertarik dengan motif tribal dipotongan rambut Adik  serta ingin menyentuhnya, ia harus meminta ijin dulu kepada Adik.  Itu yang namanya menghargai orang lain, dan menghormati tubuh orang lain, karena kita tidak bisa seenaknya menyentuh bagian tubuh orang tanpa ijin. Jika Adik mengijinkan kakak kelas V itu menyentuh rambut dan kepala Adik,  baru ia bisa melakukannya, tetapi kalau Adik  tidak mengijinkan, maka ia tidak boleh menyentuh Adik. Kepada Kakak  saya katakan, sebagai kakak ia harus belajar untuk melindungi adiknya, untuk itulah mereka saya sekolahkan di sekolah yang sama agar bisa saling menjaga. Anak-anak mengerti, dan Adik sudah lebih tenang. Ia pun tetap bersedia berangkat sekolah besok (saya bersyukur, karena dibalik tubuhnya yang kecil, ia ternyata cukup mampu menghadapi masalah ini, karena terus terang saja, saya, ayah, dan ibu gurunya pun mengkhawatirkan Adik akan mogok dan menolak sekolah besok karena kejadian ini. Alhamdulillaah…)

Rabu pagi sekitar jam 6, Ibu guru kelas I menelepon jika memungkinkan ingin bicara dengan Ayah, karena siswa kelas V yang kemarin ditegur ayah, juga menangis dan orang tuanya tidak terima serta meminta penjelasan. Ayah bersedia menemui pada saat menjemput anak-anak. Pertemuan pertama ayah hanya bertemu dengan wali kelas Adik  dan kepala sekolah. Lucunya, respon yang disampaikan pihak sekolah untuk masalah ini adalah Adik  harus merapikan rambutnya, dan menghilangkan motif tribal dipotongan rambutnya. Hiks! secara pribadi buat saya, opsi ini sangat tidak elegan dan tidak  nyambung. Masalahnya ada di orang lain, kok malah rambut Adik yang dipersoalkan. Whatever lah!

Sorenya, pihak sekolah kembali menelepon, mengatakan bahwa orang tua anak kelas V yang kemarin membully Adik  ingin melakukan ishlah. Ayahpun kembali ke sekolah dan menemui kedua orang tua tadi, ada kepala sekolah juga, serta salah seorang guru olah raga.  Lucunya lagi, ketika ayah datang,  (orang tua kelas V ini datang dengan mobil mewahnya…sementara ayah yang cuek datang dengan vespa bututnya), membuka pembicaraan dengan membawa-bawa UU perlindungan anak…bla..bla..bla…dan menyatakan bahwa teguran yang diberikan ayah pada anaknya telah membuat anaknya ketakutan…(haloooo…lalu apa yang dilakukan anaknya terlebih dahulu pada anak kecil saya? please deh…). Ayah pun menjelaskan kejadian yang memang disaksikannya, dan mengapa ayah bereaksi demikian pada anak kelas V tersebut. Lucunya lagi, pada akhirnya ayah si anak kelas V, malah mengatakan bahwa apa yang dilakukan anaknya pada Adik  adalah karena dia tertarik dengan motif dipotongan rambut Adik yang unik (kok sekolah malah lain pendapatnya ya…hehehe) dan bahwa anaknya bukan anak nakal atau anak yang suka macam-macam….case closed! Ishlah pun tercapai. Anggap saja masalah ini selesai.

Tapi saya merasa ada yang salah dari peristiwa ini. Semula saya sendiri bingung  dibagian mana salahnya. Ternyata kemudian, saya menyadari, yang mengusik pemikiran saya dari kejadian ini adalah, solusi atau problem solving yang diambil pihak sekolah. Kejadian seperti ini, sebetulnya pernah terjadi pada anak pertama saya. Ketika dia duduk kelas 2 dulu. Pernah terjadi saat shalat jum’at, sebagian anak-anak shalat sambil bercanda. Kemudian anak-anak yang bercanda ini, (anak pertama saya salah satu diantaranya), dihukum oleh gurunya dengan “dijitak” kepalanya oleh anak-anak lain seluruh jama’ah shalat jum’at yang tidak bercanda. (Whats?…keren kan hukumannya…hiks…hiks…hiks…)

Tentu saja hukuman ini menuai protes para orang tua dan hampir dibawa ke media, namun bisa diselesaikan dengan beberapa kemufakatan. Ini menariknya, solusi yang diambil sekolah setelah kejadian ini adalah…anak kelas 1-3 tidak diwajibkan shalat jum’at di sekolah, yang wajib shalat jum’at di sekolah hanya siswa kelas tinggi saja, karena takut tidak bisa diatur kalau anak-anak kelas rendah ikut shalat jum’at.  See…dari dua kejadian ini, yang kebetulan anak saya ada didalamnya….pikiran saya kok terusik ya…pola problem solving sekolah, selalu kurang sophisticated …apa ya….tidak out of the box- lah, reaktif dan dangkal. Terkesan, penyelesaian yang diambil hanya bertujuan untuk menghindar agar tidak timbul masalah serupa dikemudian hari, dan bukan bagaimana mengelola atau mengajarkan anak-anak untuk tertib ketika shalat berjamaah dari mulai kecil (kelas 1), dan untuk belajar menghargai tubuh atau orang lain. Sepertinya pihak sekolah tidak ingin mendapat tambahan tugas untuk mengembangkan attitude atau sikap anak, baik ketika berhubungan dengan Tuhannya maupun ketika berada diantara sesama manusia. Entahlah. Wallahu’alam bishshawab.

Tulisan khusus yang secara spesifik membahas mengenai bullying silahkan cek di nsholihat.wordpress.com/ Bullying oh bullying.

stop bullying tikus

Read Full Post »


Tulisan ini saya terbitkan kembali, sebagai respon terhadap munculnya baligo-baligo foto mereka yang mencalonkan diri menjadi anggota legislatif yang mulai marak lagi di jalan-jalan. Sumbang saran saja dan mengingatkan kembali kepada mereka yang akan bertarung agar bersiap secara mental baik untuk menang dan terutama untuk kalah. Semoga bermanfaat!

Gambar

Euphoria pemilu calon legislatif yang baru lalu masih menyisakan fenomena menarik mengenai kondisi para caleg yang gagal melenggang ke gedung DPR, baik daerah maupun pusat. Pemberitaan mengenai para caleg gagal yang menjadi jatuh sakit, stress dan depresi, bahkan bunuh diri, sungguh memprihatinkan. Kenyataan ini sedikitnya memberi gambaran mengenai bagaimana sesungguhnya kondisi mental individu-individu yang pada 9 April lalu bertarung memperebutkan kursi anggota legislatif.

Terdapat beberapa sudut pandang yang bisa kita coba telaah untuk memahami kondisi para calon anggota legislatif yang gagal meraih suara untuk duduk tenang di gedung DPR. Disatu sisi, pekerjaan sebagai anggota legislatif dengan gaji besar, berbagai tunjangan, fasilitas, dan bahkan menurut kabar, besarnya peredaran uang yang mencapai ratusan juta rupiah dalam setiap kesempatan membahas kebijakan, adalah daya tarik yang luar biasa bagi siapapun untuk turut merasakan rasanya menjadi anggota DPR. Belum lagi status dan prestis sebagai anggota legislatif, terutama dengan kondisi tingginya jumlah pengangguran di negara kita, maka tidak aneh jika menjadi anggota legislatif adalah sebuah kesempatan yang sangat menggoda dan sulit sekali untuk diabaikan, bahkan bagi mereka yang tidak memiliki kapasitas memadai sekalipun. Karena itu, para caleg yang tidak menyiapkan mental untuk gagal, padahal mereka sudah bermimpi mendapat materi sedemikian besar, dan mengeluarkan materi yang juga tidak sedikit untuk membeli suara, menjadi mudah sekali terpukul dan mengalami syok ketika gagal mendapatkan apa yang mereka harapkan.

Disisi yang lain, sebagai sebuah pekerjaan, anggota legislatif juga mensyaratkan berbagai kualifikasi agar seseorang pantas menyandang pekerjaan tersebut. Penguasaan terhadap berbagai bidang dan aspek yang mengatur seluruh perikehidupan masyarakat seperti ekonomi, hukum dan perundang-undangan, kesehatan, dan lain sebagainya sesuai dengan komisi-komisi yang ada di DPR, kemampuan komunikasi personal dan interpersonal, serta tentu saja kemampuan analisa sintesa dan pengambilan keputusan, adalah diantara kualifikasi yang idealnya dikuasai oleh mereka yang tertarik menjadi anggota legislatif. Di gedung DPR lah berbagai isu strategis yang akan berpengaruh dan menentukan kualitas hidup rakyat Indonesia, ditentukan. Dengan memperhatikan hal tersebut, maka adalah suatu keharusan bahwa para anggota legislatif semestinya adalah mereka yang memiliki kompetensi dibidangnya masing-masing baik secara intelektual maupun sosial. Namun uniknya, pertarungan memperebutkan kursi legislatif pada pemilu kita kemarin dan mungkin juga pada pemilu sebelumnya, bukanlah pertarungan kompetensi para caleg, tetapi lebih kepada pertarungan bagaimana menarik massa agar mereka mendapat suara. Harus diakui, tidak banyak mereka yang mencalonkan diri menjadi anggota legislatif adalah mereka yang memang pantas menyandang pekerjaan tersebut.

Hal menarik lainnya adalah bagaimana sikap para caleg gagal ini setelah pemilu legislatif berakhir. Mereka secara tidak malu-malu menarik kembali berbagai materi yang telah mereka berikan pada konstituennya sebagai imbalan untuk membeli suara. Di beberapa stasiun TV diberitakan bagaimana, pompa air yang disumbangkan untuk mushola, televisi, uang, bahkan rekening tabungan yang sudah mereka berikan kepada para pemilih mereka ambil kembali karena gagal meraih suara yang signifikan. Ini jelas fenomena yang sangat menggelikan, bagaimana secara kasat mata para caleg menggunakan materi untuk mendapatkan suara, seolah-olah mereka memang tidak memiliki hal lain yang lebih layak untuk dijadikan asset sebagai bukti kapabilitas mereka sebagai calon wakil rakyat. Dan ketika mereka tidak mendapatkan apa yang diinginkan, dengan tidak malu-malu mereka mengambil apa yang sudah diberikan atau tidak memberikan apa yang sebelumnya mereka janjikan. Jelas sekali pamrih dan tidak adanya ketulusan dari mereka yang mengaku calon wakil rakyat, untuk memberi kepada rakyat.

Fenomena-fenomena diatas, sedikit banyak mewakili gambaran para caleg yang materialistis, tidak memiliki kapabilitas memadai dan tidak punya ketulusan untuk memberi pada rakyat. Dengan kepribadian caleg seperti ini, maka tidak aneh jika kegagalan mereka duduk di gedung DPR akhirnya diikuti dengan berbagai gangguan kesehatan yang kemudian banyak diberitakan media, dan depresi adalah salah satu gangguan yang paling sering disebut. Jika saja para caleg ini adalah mereka yang sungguh-sungguh ingin mengabdi pada rakyat dan tidak materialistis, tentu jika rakyat tidak memilih mereka, apapun alasannya, mereka akan dengan besar hati menerima dan menghadapi kekalahan dengan lapang dada. Sehingga tidak perlu mengalami depresi berkepanjangan yang membuatnya harus menjalani perawatan baik medis maupun psikologis.

Depresi, jika terjadi pada orang normal adalah merupakan keadaan kemurungan (kesedihan, patah semangat) yang ditandai dengan perasaan tidak pas, menurunnya kegiatan dan pesimisme menghadapi masa yang akan datang. Pada kasus patologis, depresi merupakan ketidakmauan ekstrim untuk mereaksi terhadap perangsang, disertai menurunnya nilai-nilai, delusi ketidak pasan, perasaan tidak mampu dan putus asa. Kondisi terburuk mereka yang mengalami depresi adalah bisa terdorong untuk melakukan bunuh diri. Hal ini disebabkan oleh karena adanya ketidak seimbangan neurotransmitter (zat penghantar dalam system syaraf) seperti serotonin (neurotransimitter yang mengatur perasaan), norepinefrin (neurotransmitter yang mengatur energi interest) dan dopamine (neurotransmitter yang mengatur minat) di berbagai bagian otak kita. Ada berbagai penyebab seseorang mengalami depresi, diantaranya adalah peristiwa dalam kehidupan sehari-hari, perubahan kimia dalam otak, efek samping obat dan beberapa penyakit fisik. Disinyalir kurang lebih 5-10 persen masyarakat kita mengalami depresi.

Namun depresi memang unik, suatu pencetus depresi yang bisa menyebabkan depresi pada seseorang belum tentu bisa menyebabkan depresi pada orang lain, karena itu kualitas kepribadian seseorang sangat menentukan kecenderungannya untuk mengalami depresi atau tidak. Individu-individu yang rentan terhadap depresi adalah mereka yang memiliki kepribadian paranoid dan pesimis.

Salah satu kualitas pribadi yang harus dimiliki oleh seorang individu agar tidak mudah mengalami depresi adalah resiliensi. Resiliensi dalam psikologi adalah kapasitas positif individu untuk mengatasi stress dan bencana alam yang menimpa dirinya. Istilah ini juga digunakan untuk mengindentifikasi karakteristik dari resistensi seseorang dalam menghadapi kejadian-kejadian negatif yang mungkin terjadi didalam hidupnya. Secara sederhana, resiliensi (resilient/resilience) adalah kapasitas yang dimiliki seorang individu untuk mampu dengan segera mengatasi berbagai kejadian tidak menyenangkan yang terjadi dalam hidup (seperti, syok, mengalami kecelakan, dsb, atau hal lain yang lebih substansial), dan dengan segera mampu mengembalikan kondisi kepada keadaan semula seperti sebelum terjadinya hal yang tidak menyenangkan tersebut.

Resiliensi seseorang akan tampak pada kemampuannya dalam menghasilkan sesuatu meski berada pada situasi yang penuh resiko, kompetensi yang tetap konstan meskipun berada dalam situasi stress dan kemampuan recovery setelah mengalami trauma. Individu yang memiliki resiliensi yang baik, juga akan mampu melihat sisi positif dari bencana atau kejadian buruk yang terjadi pada dirinya. Beberapa faktor pribadi yang diidentifikasi dapat meningkatkan resiliensi seseorang adalah (1) memiliki kemampuan untuk mengatasi stress dengan cara yang sehat dan efektif (2) memiliki keterampilan penyelesaian masalah yang baik (3) memiliki dukungan sosial yang erat seperti keluarga dan teman (4) memiliki keyakinan bahwa ia dapat mengelola perasaannya dengan efektif, dan (5) memiliki spritualitas, sehingga mampu melihat hal yang positif dari setiap kejadian buruk dalam hidup.

Sebagaimana kualitas-kualitas pribadi yang lain, resiliensi juga dikembangkan dalam keluarga. Lingkungan keluarga yang penuh kasih sayang dan memiliki aturan yang jelas, memiliki harapan yang tinggi dalam hal tingkah laku anak dan mendorong keterlibatan masing-masing anggota keluarga dalam kehidupan keluarga, dikatakan dapat menghasilkan anak-anak yang memiliki resiliensi yang tinggi. Anak-anak yang dibiasakan untuk memiliki harapan yang tinggi mengenai sesuatu, diajarkan mengenai makna dan tujuan hidup, keterampilan menyelesaikan masalah secara mandiri, serta dibiasakan untuk mampu mengelola dirinya sendiri, akan terlatih dan terbangun resiliensinya. Anak-anak yang memiliki resiliensi yang tinggi, memiliki kemungkinan yang kecil untuk mengalami depresi, mengkonsumsi rokok dan obat-obatan terlarang saat menghadapi masalah dibandingkan anak-anak yang rendah resiliensinya, hal ini berlaku juga pada orang dewasa. Mereka yang memiliki resiliensi rendah, memiliki kesulitan dalam mengelola emosi negatif dan menampilkan reaksi yang sensitif terhadap berbagai kejadian sehari-hari yang tidak menyenangkan (misalnya kehilangan orang yang dicintai). Mereka ini merasa bahwa kejadian buruk dalam hidup mereka tidak akan pernah berakhir, sehingga memilki kecenderungan untuk memiliki tingkat stress yang tinggi.

Selain dibangun dalam keluarga, lingkungan juga memegang peranan sangat penting dalam mengembangkan resiliensi seseorang. Karakteristik lingkungan tersebut adalah: (1) lingkungan yang memiliki institusi-institusi sosial yang menyediakan sejumlah fasilitas dan sumber daya untuk anggota masyarakatnya (2) konsisten dalam memegang norma sosial sehingga setiap anggota masyarakat memahami aturan-aturan apa yang membatasi tingkah laku mereka, dan (3) adanya kesempatan bagi anak-anak dan orang-orang muda untuk berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat sebagai sehingga mereka merasa diakui sebagai anggota masyarakat.

Terakhir, sungguh ironis, wakil rakyat yang semestinya berjuang untuk mensejahterakan kehidupan rakyat dengan segala kemampuan yang ada pada mereka, pada akhir pemilu legislatif justru melahirkan berbagai permasalahan yang biayanya lagi-lagi harus ditanggung oleh pemerintah, dan tentu saja rakyat Indonesia sendiri. Namun demikian, keterbatasan kita sebagai rakyat yang tidak bisa turut menyeleksi kualitas mereka yang mewakili kita di parlemen, akhirnya toh bisa tergantikan oleh pemilu legislative kemarin, sehingga kita masih bisa berharap mereka yang nantinya duduk di parlemen bukanlah mereka yang memiliki kecenderungan untuk depresi. Wallahu ‘alam bishawab.

 ganbatte3

Read Full Post »


Gambar

Tulisan ini saya copas dari tulisan Ustadz Djalaludin Asy Syatibi*), dalam rangka memenuhi permintaan seorang teman yang saat ini sedang sangat galau dalam menjalani perannya menjadi orang tua. Sebetulnya sudah cukup lama tulisan ini saya baca dan copy dalam file pribadi, tapi karena lupa dimana menyimpan filenya jadi agak lama mencarinya, akhirnya dengan berkah Ramadhan ketemu juga. Semoga bermanfaat.

Bismillahirrohmanirrohiim…

Seorang lelaki menegur Al-A’masyi, “Bagaimana Anda mau dikerumuni oleh anak-anak kecil seperti itu?” Lalu ulama dari kalangan Tabi’in itu menyahuti pertanyaan itu, “Kenapa tidak? Mereka itulah calon pembela agama Anda.”

Kisah di atas penulis nukilkan dari Kitab al-Kifaayah fii ‘Ilmi ar-Riwaayah karya Al-Khatib Al-Baghdady. Sungguh dalam kisah itu menyiratkan banyak pesan: kedekatan dan keakraban seorang ulama dengan anak-anak kecil, dan yang paling utama adalah bagaimana Al-A’masy melekatkan asanya terhadap anak-anak itu sebagai perisai terdepan dalam membela Islam.

Inilah yang dinamakan orientasi pendidikan anak untuk menjadi seorang pewaris para Nabi (waratsatul anbiya). Sebuah cetak biru seorang anak yang tak hanya seonggok harapan ego orang tua atau ambisi pribadinya. Tapi lebih dari itu ia adalah aspek terpenting dalam kerangka keummatan. Sang penyampai kebenaran dan tentunya sang reformis sejati seperti halnya digemakan oleh salah seorang Nabi Allah. Sang Reformis dalam bidang ekonomi Syuaib AS.,” Yang kukehendaki hanya reformasi sekuat tenagaku.” (11:88)

Adalah panutan Al-A’masy, Rasulullah SAW, telah lebih dulu memberikan isyarat ihwal cetak biru sang anak dalam kerangka keummatan. Tatkala Al-Mustafa SAW didera derita dan duka teramat dalam akibat cercaan dan lemparan batu penduduk Thaif, tepatnya di Qarnul Manazil, maka dihampirilah beliau oleh Malaikat Jibril dan Malaikat Jabal (Gunung). Kedua utusan Allah menawari Rasulullah untuk menimpakkan dua gunung atas penduduk Thaif yang enggan menerima cahaya Islam. Perhatikanlah, apa jawaban Rasulullah, “Tapi saya berharap kepada Allah agar memunculkan dari anak cucu mereka yang menyembah Allah dan sekali-kali tidak menyekutukan-Nya dengan apapun.”

Nah, dalam konteks kekitaan sebagai dai, murobbi, dan penyeru dakwah, merupakan sebuah keniscayaan menjadikan anak-anak kita sebagai asset umat, yang berperan sebagai halqatul washl (penyambung) perjuangan dakwah. Bukan sekedar menghantarkan anak-anak kita meraih ego pribadinya, tanpa sedikitpun berkontribusi dan bersaham untuk ishlahul ummah-mereformasi ummat. Konsep ini kemudian dilukiskan oleh Al-Qur’an sebagai bagian dari untaian doa seorang yang sudah menginjak usia kematangan,

“…dan berikanlah aku kebaikan (wa ashlih lii) yang akan mengalir sampai anak cucuku…”(46:15)

Untaian doa itu jelas-jelas menginginkan agar generasi kemudian tertulari kebaikan-kebaikan pendahulunya, yang antara lain kebaikan sebagai dai, murobbi dan penyeru. Menarik untuk direnungi, penggalan doa wa ashlih lii dapat juga diartikan sebuah permohonan tulus agar para orangtua direformasi terlebih dulu, untuk kemudian mereka dapat mengishlaah anak cucunya, sehingga dengan demikian terjadi regenerasi kebaikan.

Tentu mencetak anak menjadi pewaris para nabi, dai, dan reformis tak segampang membalikkan telapak tangan. Ada banyak hal yang dapat mewarnai (shibghoh) sang anak. Namun dari sekian banyak hal itu, lingkungan pertama anaklah yang paling menentukan, yaitu keluarga, yang terdiri ayah dan ibu sang anak. Di sinilah peran orangtua menjadi demikian krusial dalam kaitan cetak biru si anak. Oleh karenanya, Rasulullah telah mewanti-wanti kita semua bahwa, “Kedua orangtuanya lah yang menjadikan ia seorang Yahudi atau Nasrani atau Majusi.”

Maka kata kuncinya adalah, untuk menjadikan anak itu seorang pewaris para nabi-sang reformis-, maka yang perlu dikemukakan di sini adalah: sudahkan orangtua memiliki kafaah (kompentensi) yang mushlih (reformis)? Karena faaqidu asyaysi laa yu’thiy.

Karakter Orangtua Mushlih

Pepatah mengatakan “Buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya”. Boleh dikatakan bahwa perilaku anak merupakan miniatur orangtuanya. Artinya, anak akan merekam semua tingkah laku orangtuanya. Pasalnya, orangtua merupakan guru pertama si anak, dan demikian pula keluarga merupakan sekolah perdananya. Terlebih lagi masa anak-anak merupakan masa penyetingan paling awal yang akan dapat menghitam putihkan seorang anak.

Dalam pepatah Arab dikatakan,
العلم في الصغر كالنقش في الحجر ، و العلم في الكبر كالغرز بالإبر

“Belajar ketika kecil tak ubahnya memahat di atas batu, sementara belajar ketika sudah berumur tak ubahnya menusuk dengan jarum.”

Walhasil, orangtua yang tengah memberikan asupan tarbiyah kepada anaknya tak jauh beda dengan seseorang yang sedang mengukir di atas batu, yang tak pelak lagi ukiran itu merupakan torehan yang tak akan lekang dalam sekejap, tapi memerlukan rentang waktu lumayan lama untuk menghilangkan torehan itu.

Jadi, tak diragukan lagi bahwa orang tua memegang peranan sangat strategis dalam menentukan putih atau hitamnya seorang anak. Maka dalam kaitan ini, perlu kiranya kita-sebagai orangtua- mereevaluasi perilaku-perilaku kita, dengan sebuah pengharapan agar perilaku-perilaku kita kompeten untuk menjadi pribadi-pribadi pewaris para nabi, dai, murobbi dan seorang reformis sejati. Dengan demikian, kita tidak menjadi pribadi yang ambigu seperti disindir Allah SWT,

“Apakah kalian menyuruh manusia untuk berbuat kebajikan sementara kalian melupakan diri kalian.” (2:44)

Dan mencari sosok yang memiliki kompetensi sebagai orangtua yang ashlih lii (baca:mushlih) tidaklah sulit. Rasululah merupakan telaga teladan dalam banyak hal tanpa kecuali Rasulullah sebagai orangtua. Dan sifat-sifat Rasulullah dalam mentarbiyah anak-anaknya adalah:

Pertama, bersikap adil. Keadilan merupakan kebenaran universal. Islam memandang keadilan sebagai hal yang dapat mendekatkan kepada ketaqwaan. Penegakkan keadilan dalam tataran kehidupan bernegara sama pentingnya dalam tataran kehidupan keluarga.

Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang berlaku adil akan dimuliakan di sisi Allah di atas mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya, yaitu mereka yang berlaku adil dalam hukumnya, berlaku adil terhadap keluarga dan apa saja yang mereka pimpin.” (HR. Muslim)

Keadilan orangtua atas anak-anaknya akan mendatangkan ketenteram dan ketenangan. Sudah barang tentu tumbuh kembang psikologis anak akan sehat jika lingkungan tempat ia hidup sehat. Sehingga, pelbagai patologi sosial yang mengancam si anak semakin tak menemukan relevansinya. Lingkungan yang dikungkungi keadilan merupakan ranah yang haram bagi iri, dengki, benci, amarah, permusuhan dan prasangka-prasangka buruk. Dan kisah Nabi Yusuf menyisakan pelajaran penting ihwal perlakukan tidak adil yang dirasakan saudara-saudara Yusuf. Alhasil, kisah Yusuf dan saudara-saudaranya itu dipenuhi dengan intrik, konspirasi dan aksi balas dendam.

Maka wajar saja Rasulullah pernah menegur keras seorang lelaki yang mencium anak lelakinya dan tak melakukan hal yang sama terhadap anak perempuannya. “Kamu tidak bersikap adil di antara keduanya,” ujar Rasulullah (HR. Baihaqi)

Lebih tegas lagi Rasulullah berpesan kepada kita, “Bertaqwalah kepada Allah, bersikap adillah terhadap anak-anak kalian.” (HR. Muslim)

Kedua, bersikap sabar, yaitu menahan jiwa dari rasa putus asa, lisan dari keluh kesah dan jasmani dari aksi-aksi vandalisme. Jiwa menyekam rasa putus asa, lisan ekspresi kata-kata dan puncaknya diekspresikan oleh aksi-aksi brutal yang tak terkendali.

Adalah anak-anak yang kerapkali menjadi sumber rasa putus asa, kekesalan dan tumpahan kekerasan fisik. Pasalnya, dunia anak selain menggemaskan sekaligus mengesalkan. Karenanya orangtua dituntut sabar dalam menghadapi anak-anaknya. Sesungguhnya dalam kesabaran itu ada kejernihan pikir. Rasulullah menyebutnya “Sabar itu cahaya”. Sesungguhnya pula kesabaran itu sifat pemimpin sejati. Bersikap sabar terhadap anak berarti pula mengajari anak secara verbal tentang makna penting dari kesabaran, yang merupakan prasyarat kandidat pemimpin handal. Faktanya pemimpin akan selalu dihadapkan pada pelbagai macam prilaku dan masalah yang mendera rakyatnya.

“Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka sabar dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami.”(As-Sjadah: 56)

Ketiga, kasih sayang. Allah SWT telah menjadikan anak sebagai pribadi yang sangat tergantung kepada orang lain, terutama ibunya. Sebuah studi menemukan bahwa anak bayi akan mengenal ibunya hanya beberapa saat sejak kelahirannya melalui ciuman. Lalu, mulailah sang anak itu menantikan perlindungan, kelembutan dan sentuhan kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya. Karena itu, anak akan selalu mencari orang yang membuatnya sumringah, membelai wajahnya, memanjakannya, mencandainya dan mengajaknya bicara dan bermain. Maka, sejauh mana kelembutan dan kasih sayang yang diberikan kepada si anak, sejauh itulah kelapanga dirinya untuk mencintai dan mengasihi orang lain di masa depan.

Diriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah shalat Jum’at sambil menggendong putri beliau Umamah Binti Zainab. Jika Rasulullah sujud, beliau meletakkannya dan manakala bangkit dari sujud, beliau menggendongnya kembali. Pada riwayat lainnya diceritakan bahwa Rasulullah mempercepat shalatnya gara-gara ada anak yang tengah menangis.

Abdullah bin Syidad menceritakan,

بينما رسول الله صلى الله عليه و سلم يصلي بالناس إذ جاءه الحسين فركب عنقه و هو ساجد ، فأطال السجود بين الناس حتى ظنوا أنّه قد حدث أمر فلما قضى صلاته ، سألوه عن ذلك ، فقال عليه الصلاة و السلام : (إن ابني ارتحلني ، فكرهت أن أعجله حتى يقضي حاجته

Ketika Rasulullah menjadi imam shalat, tiba-tiba Husen datang menghampiri beliau dan langsung menunggangi leher beliau ketika beliau sujud, maka beliau memanjangkan sujudnya sampai-sampai orang menyangka bahwa telah terjadi sesuatu hal. Ketika shalat selesai, mereka bertanya ihwal kejadian itu. Rasulullah SAW mengatakan, “Sesungguhnya anakku menunggangiku, maka saya tidak mau ia terburu-buru (agar turun) sampai ia merasa puas.” (HR. An-Nasai)

Jika saat shalat saja Rasulullah tetap mencurahkan rasa kasih sayang dan kelembutan terhadap anak, tentu min baabil aula saat-saat di luar shalat. Ini saja sudah memberikan sinyal sangat kuat bahwa memperlakukan anak dengan penuh kasih sayang adalah sebuah kewajiban yang tidak boleh disepelekan.

Sebenarnya sikap keras hati dan kasar hanya akan membuat orang menjauh. Demikian pula sikap kasih sayang akan kian mendekatkan hubungan anak dengan orangtuanya. Pada spectrum yang lebih luas lagi, lembut dan kasih sayang menyebabkan mendekatnya obyek-obyek dakwah. Allah telah memberikan bimbinganNya,

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

Dan akhirnya, secara lugas dan tegas Rasulullah mengatakan, “Sesungguhnya setiap pohon itu berbuah. Buah hati adalah anak. Allah tidak akan menyayangi orang yang tidak sayang kepada anaknya.”

Lalu Rasulullah melanjutkan,

والذي نفسي بيده! لا يدخل الجنة إلاّ رحيم
“Demi Dzat yang jiawaku ada di Tangan-Nya, tidak akan masuk surga kecuali penyayang.” (HR Ibnu Bazzar)

Keempat, menjadi teladan. Keteladanan merupakan cara paling efektif dalam transfer berbagai corak nilai-nilai kebaikan. Pepatah Arab mengatakan bahwa contoh nyata satu orang bagi seribu orang lebih baik ketimbang kata-kata seribu orang untuk satu orang. Dalam kaitan ini orangtua benar-benar dituntut bisa menyelaraskan segala bentuk perilakunya. Hal demikian karena anak akan selalu melihat dan meniru tingkah pola orang tua ketimbang kata-katanya. Bagi anak, bahasa tubuh lebih mudah dipahami daripada bahasa lisan.

Ibnu Abbas mengenang masa kecilnya bersama Rasulullah, “Aku bermalam di rumah bibiku, Maimunah, dan aku melihat Rasulullah bangun malam. Setelah memasuki sebagian malam, beliau bangun dan berwudhu ringan dengan air dari dalam kantong kulit yang digantung di dinding kamarnya. Usai itu beliau pun mengerjakan shalat malam. Aku pun ikut bangun dan berwudhu dari tempat air yang dipergunakan beliau, kemudian aku berdiri shalat di samping kiri beliau, lalu beliau memindahkanku ke samping kanannya.” (HR Bukhari)

Selain itu, orangtua juga dituntut untuk senantiasa menyelaraskan antara perbuatan dan perkataan. Hal itu akan membantu anak dalam menginternalisasi nilai-nilai kejujuran pada diri anak. Abdullah Ibnu Amir bertutur bahwa saat Rasulullah berada di rumahnya tiba-tiba sang ibu memanggilnya, “Kemarilah! Saya akan memberimu.” Rasulullah pun menyela, “Apa yang akan engkau berikan?” “Saya akan memberinya kurma,” ujar wanita itu. Nabi pun menasehatinya, “Ingat! Jika ternyata engkau tidak memberinya apapun maka engkau akan tercatat sebagai pembohong.” (HR Abu Dawud)

Maka, tatkala seorang anak melihat adanya keselarasan antara kata-kata dan perbuatan, pada hakikatnya anak sedang diajari makna kejujuran, integritas dan komitmen. Imbasnya, orangtua akan memiliki wibawa di mata anak, sehingga orangtua akan selalu digugu, ditiru dan ditaati. Inilah yang dinamakan birrul waalidain, berbakti kepada orangtua.

Keterlibatan orangtua dalam memberikan keteladanan terhadap anak, adalah bagian dari sikap responsive orangtua dalam mempersiapkan anaknya untuk berbakti, tidak malah durhaka. Model orangtua proaktif seperti itu akan mendapatkan rahmat Allah SWT. “Semoga Allah merahmati orangtua yang menolong anaknya agar berbakti kepadanya,” kata Rasulullah (HR Ibnu Hibban)

Kelima, karakter orangtua yang reformis adalah senantiasa menghargai sang anak. Adalah Rasulullah yang pernah membariskan Abdullah, Ubaidillah dan anak-anak Abbas lainnya. Beliau mengatakan, “Siapa saja yang dapat mendahului saya, dia akan mendapatkan ini.” Maka mereka pun berlomba membalap Rasulullah sehingga mereka berjatuhan di atas dada dan punggung beliau. Setelah itu mereka dipegangi dan diciumi oleh beliau. Itulah sebuah bentuk penghargaan Nabi terhadap anak-anak.

Menghargai anak adalah bentuk pengakuan terhadap keberadaan sang anak, sehingga anak akan termotivasi untuk mengembangkan potensinya tanpa merasa malu dan minder. Ketika anak itu dihargai dan dipuji, maka itu akan membuatnya terdorong untuk kembali melakukan pekerjaan kebaikan yang pernah dilakukannya.

Ibnu Abbas bertutur, saat Rasulullah pergi ke tempat buang hajat, saya menyediakan air untuk wudhu beliau. Usai buang hajat, beliau melihat air tersebut telah tersedia. “Siapa yang membawakannya?” Tanya beliau. Setelah saya memberitahukannya, maka beliau pun mendoakan aku sebagai bentuk penghargaan,

اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِى الدِّينِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ
“Ya Allah, berilah ia pemahaman tentang agama dan ilmu tentang tafsir Al-Qur’an.”

Hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim itu merupakan kisah bagaimana Rasulullah memberikan penghargaan atas inisiatif Ibnu Abbas, dimana penghargaaan itu tidak identik dengan materi, tapi juga meliputi kata-kata yang membuat sang anak bersemangat.

Keenam, mengayomi. Syaikh Muhammad AL-Khidr dalam bukunya As-Sa’adatul Udhma memberikan sebuah analisa, banyak orang tidak menyadari kalau anak adalah salah satu dari pemimpin umat, hanya karena masih tertutup dengan baju anak. Seandainya apa yang ada di balik bajunya dibukakan kepada kita, niscaya kita akan melihat mereka layak disejajarkan dengan para pemimpin. Namun, sunnatullah menghendaki agar tabir itu disibakkan sedikit demi sedikit melalului pendidikan.

Merujuk ke analisa tadi, maka orangtua dituntut untuk mengayomi bakat-bakat dan kemampuan anak yang tersembunyi di balik tabir, bukan malah membunuhnya. Mengayomi artinya memelihara potensi-potensi anak sembari berupaya memberikan stimulasi-stimulasi untuk mengembangkan potensi anak seperti dengan metode bercerita, reward dan punishment, dan games-games yang bermanfaat. Oleh karena itu, orangtua dituntut kreatif dalam upaya pengembangan ini.

Adalah Umar bin Khatab yang telah memberikan contoh bagaimana mengayomi dan mengembangkan potensi seorang anak bernama Ibnu Abbas. Umar pernah mengajak Ibnu Abbas ke sebuah pertemuan yang dihadiri para pembesar Badar. Sebagian dari mereka mempertanyakan sikap Umar itu, karena mereka melihat majlis itu tak diperuntukkan untuk anak kecil. Hingga akhirnya para pembesar Badar itu sadar ihwal ketinggian ilmu Ibnu Abbas meski masih belia ketika Ibnu Abbas memberikan makna dari Surat An-Nashr sebagai isyarat sudah dekatnya ajal Rasulullah.

Sejarah Islam pun mencatat banyak sosok belia yang punya peran penting dalam kerangka keummatan. Usamah bin Zaid pada usia 17 tahun tercatat sebagai panglima perang dalam sebuah pasukan yang akan menghadapi tentara Romawi di wilayah Syam, padahal dalam pasukan itu tercatat nama Abu Bakar dan Umar. Rasulullah mengutus Muadz bin Jabal sebagai duta Islam ke Yaman. Saat itu Muadz berusia 19 tahun.

Tentu yang harus diperhatikan para orangtua dalam proses pengembangan ini adalah adanya pentahapan (tadarruj), karena kemampuan akal seorang anak sangat berbeda dengan orang dewasa. Rasulullah bersabda, “Perintahlah anakmu untuk shalat ketika berusia tujuh tahun dan pukullah mereka (jika enggan shalat) ketika berumur sepuluh tahun.” (HR Abu Dawud)

Ketujuh, komunikatif. Sebenarnya dari semua nilai-nilai yang akan diberikan kepada anak tidak akan pernah tersampaikan secara baik bila saluran komunikasinya buruk. Maka orangtua haruslah menjadi pribadi yang komunikatif, tidak tertutup dan berbicara hanya satu arah. Terjadinya komunikasi sehat antara orangtua dengan anak akan membantu menumbuhkan dan mempertajam penalarannnya serta menjadi lebih terbuka.

Umar pernah mendapati pengaduan seseorang yang anaknya dianggap durhaka. Umar pun bertanya kepada anak itu, “Apa yang menyebabkan kamu durhaka kepada ayahmu?” “Wahai Amirul Mukminin, apa sajakah hak anak yang harus ditunaikan oleh orangtuanya,” Tanya anak itu. Umar menjawabnya, “Memberi nama yang baik, memilihkan ibu yang baik dan mengajarinya Al-Qur’an.” Anak itu mengatakan, “Wahai Amirul Mukminin, ayahku tidak melaksanakan sedikit pun perkara itu terhadapku.” Maka Umar pun menasehati orangtua itu, “Kamu telah mendurhakai anakmu sebelum anakmu mendurhakaimu.”

Sangat jelas sekali buah dari adanya dialog yang komunikatif adalah adanya keterbukaan. Dengan begitu, segala permasalahan akan segera dapat ditemukan cara penyelesaiannya.

Demikianlah tujuh karakter orangtua reformis, yang kesemua karakter itu pada dasarnya merupakan sikap dasar seorang dai dan murobbi. Sebenarnya ketujuh karakter itu merupakan perilaku yang harus dipraktekkan, bukan sekedar teori kata-kata. Dengan demikian, para orangtua harus mempraktekkan karakter-karakter itu dengan sebenar-benarnya. Wallahua’lam bish showwab

*) Ust.Djalaludin Asy Syatibi adalah seorang tokoh agama di Bandung, mungkin teman-teman aktivis di Bandung sudah sangat familiar dengan nama beliau. Beliau adalah pendiri ponpes Miftahul Khoir di Bandung. dari segi usia beliau sudah termasuk sepuh namun beliau terkenal sebagai ustadz yang suka bercanda, sehingga materi-materi ceramahnya disampaikan dengan suasana yang ringan namun tetap dengan kedalaman ilmu dan hujjah. Beliau juga adalah kakak dari ustadz Syaiful Islam Mubarak, Lc yang merupakan tokoh dakwah juga di Bandung dan merupakan pendiri serta pencetus metode Tahsin sebagai metode belajar membaca Al Qur’an.

Read Full Post »

Older Posts »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 913 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: